
"Ayo kita pulang Shin, jangan lupa ya!, hari ini semuanya harus kamu omongin ke Kakek", ucap Bayu mengingatkan.
Shinta hanya mengangguk seraya berdiri mengikuti Irfan keluar dari taman kota. Irfan kembali mengantar Shinta ke kampus karena mobil Shinta masih di sana.
Dalam perjalanan balik ke kampus, Irfan terus memanas-manasi Shinta dengan ucapannya, kemudian Irfan berkata,"Kalau kamu tidak percaya dengan omonganku, coba nanti kamu perhatikan, setelah ini apa yang akan Bayu dapatkan. Kan tidak mungkin seorang Dirut hanya berpenampilan gembel untuk datang ke kantor, minimal ya...dia harus memiliki mobil. Jika nanti terbukti ucapanku ini salah, kamu boleh potong telingaku", ucap Bayu lagi.
"Kakek memang bilang sih, mau membelikan Bayu sepeda motor, soalnya sepeda motornya hilang di parkiran rumah sakit saat kami menjaga kakek dan menurutku hal ini wajarlah, dia juga ikhlas kok membantu kami tanpa minta bayaran sedikitpun", ucap Shinta yang masih kurang percaya.
"Nah itu maksud dia, supaya kalian yakin dengan kebaikannya barulah Bayu beraksi.
Shinta akhirnya diam, ia masih bingung, apa mungkin Bayu yang ia kenal baik dan rajin sholat mampu berbuat seperti yang Irfan katakan.
Mereka akhirnya tiba di kampus, Irfan mengantar Shinta hanya sampai pintu gerbang saja, lalu ia berniat pergi ke cafe tempat ia biasa nongkrong bersama teman-temannya.
Kemudian Irfan menelphone teman wanitanya agar bersiap, sebentar lagi ia akan menjemput dan membawa wanita tersebut bersamanya.
Shinta yang memang jam perkuliahannya sudah habis langsung mengambil mobilnya dan berniat pulang untuk menemui sang Kakek.
Sementara di kediaman Firza, kini sedang terjadi kehebohan, berita pengangkatan Bayu membuat Firza sekeluarga marah terutama Tasya istrinya.
Tasya menghancurkan semua barang yang ada di hadapannya, ia menyalahkan suaminya kenapa sampai gagal melakukan dua kali rencana pembunuhan terhadap Hakim Pradana dan kenapa Firza tidak becus untuk melakukan pendekatan kepada Kakek Hakim, agar Kakek iba dan terus memberinya subsidi.
__ADS_1
Rumah mereka sudah seperti kapal pecah, barang pecah berserakan, hal ini membuat Fika histeris. Fika menarik lengan Mamanya agar duduk dan meredam amarahnya. Kemudian Fika mendekati Papanya yang sempoyongan, masih setengah mabuk dan membawanya ke toilet agar mencuci wajah dan mulutnya yang bau alkohol.
Setelah itu Fika membawa kembali Papanya agar duduk di dekat sang Mama, kemudian Fika berkata,
"Kenapa kalian menjadi bodoh seperti ini!, Mama kenapa menghancurkan barang-barang!, sekarang kita sudah tidak mampu untuk membelinya lagi Ma!, Papa juga sih kerjanya hanya mabuk, bagaimana rencana kita akan berhasil jika papa sendiri tidak bisa berpikir jernih, yang ada di kepala papa itu hanyalah mabuk, mabuk dan mabuk!", ucap Shinta lantang tanpa ada rasa hormat terhadap kedua orang tuanya.
"Kamu berani membentak Mama dan Papa, memangnya kamu sendiri itu sudah becus apa menjadi anak, eh... taumu juga hanya meminta, menghabiskan uang, uang dan uang, tanpa pernah berpikir untuk membantu rencana kita", ucap Tasya marah kepada putrinya.
"Itukan salah Mama dan Papa kenapa membuat rencana tanpa mengajakku ikut di dalamnya, ya aku sih enjoy aja, itukan memang tugas orang tua untuk menyenangkan anak, apalagi aku kan putri tunggal kalian", ucap Fika seenaknya.
Firza yang mendengar perdebatan itupun merasa pusing, lalu ia membentak anak dan istrinya,"Diam kalian! suara kalian itu semakin membuatku bertambah pusing! sekarang kita harus mencari cara agar anak gembel itu keluar dari perusahaan Kak Hakim", ucap Firza.
Fika pun yang tidak pernah dibentak oleh papanya merasa ketakutan, kemudian ia mendekati sang Papa dan berkata," Papa sayang jangan gini dong, jangan marahin Fika. Fika punya ide Pa!, bagaimana jika Fika pura-pura mendekati dan menyukai Bayu biar kita bisa memanfaatkannya untuk menguras harta Kakek Hakim."
"Terserah Papa dan Mama dech, aku kan cuma usul dan berniat membantu kalian", ucap Fika lagi.
"Ya sudah kita berbagi tugas aja, kamu harus bisa mendekati Bayu bagaimana pun caranya, Papa sendiri akan mencoba mendekati Kak Hakim, sedangkan tugas Mama adalah bagaimana membuat Shinta percaya bahwa kehadiran Bayu sangat berbahaya bagi mereka, terutama bagi kelangsungan perusahaan", ucap Firza.
Tasya yang mendengar penjelasan dari suaminya pun tersenyum lalu ia berkata,"Kok tumben Papa punya ide cemerlang. Berarti kita akan hantam Hakim dari tiga sisi, pasti dia akan hancur dan kitalah yang akhirnya akan menikmati semuanya", ucap Tasya sambil tersenyum puas.
"Dan yang pasti, aku yang nantinya paling beruntung, aku akan mewarisi semua harta Kakek bukannya Shinta. Hahahaha... aku sangat tidak sabar menunggu saat itu tiba, aku akan menendang Shinta ke luar dari rumah itu dan menikah dengan Kak Irfan", ucap Fika sambil tertawa dan membayangkan kemenangannya.
__ADS_1
"Sudah jangan tertawa saja, sekarang kamu beresin rumah, kita sudah tidak punya pembantu lagi. Mama dan Papa akan keluar sebentar ada yang ingin kami selesaikan", ucap Tasya kepada Fika.
"Ya Mama..., kan Mama yang buat ruangan ini berantakan, jadi Mamalah yang harus ngeberesin bukan Fika, ya kan Pa?", ucap Shinta yang mencoba meminta dukungan sang Papa.
"Benar ma, kamu juga harus bertanggungjawab atas perbuatanmu, kalian berdua bereskan bersama-sama, Papa mau istirahat dulu sebentar", ucap Firza seraya berjalan menuju kamarnya.
Fika dengan wajah cemberut mulai membersihkan ruangan itu, sementara Tasya membuang barang yang pecah. Fika kemudian menggerutu,"Salah Mama sih kenapa pecat pembantu jika tidak kan mereka yang akan membersihkan", ucap Fika.
"Enak saja kamu ngomong, memangnya kamu punya uang buat menggaji mereka? boro-boro untuk menggaji pembantu, buat makan saja kita harus ngutang dan menghamba di hadapan si Tua itu", ucap Tasya dengan kesal.
"Makanya Ma, kita harus cepat bergerak, aku sudah tidak sabar ingin jalan-jalan, shopping ke luar negeri dan jika aku nanti jadi menikah dengan kak Irfan bulan madunya juga keluar negeri ya ma?", ucap Shinta seraya menghayal.
"Kamu ini menghayal terus, kerjakan dulu, nampak hasil baru menghayal setinggi langit", ucap Tasya kesal.
Pekerjaan anak dan ibu itu tidak juga kunjung selesai karena keduanya terus berdebat sampai Firza yang mendengarnya di kamar merasa jengkel, ia tidak bisa tidur mendengar suara berisik istri dan anaknya.
Kemudian Firza memutuskan pergi keluar, ia lebih baik berkumpul dengan teman-temannya, enjoy menikmati minuman di bar dengan di temani wanita-wanita cantik, seksi dan menggairahkan, hingga akhirnya berujung di kamar hotel untuk mendapatkan kepuasan birahinya.
Bersambung......
_______________
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, vote like, comment dan rate bintang limanya.🙏😉
🌻 Selamat berakhir pekan, semoga tetap sehat, bahagia, sukses selalu dan jangan lupa tetap menjaga protokol kesehatan ya guys🙏😉