
"Jadi kapan Bay rencananya kamu akan membawa Nak Shinta pindah kesini?" ucap Ayah yang membuat Bayu gelagapan mau menjawab apa.
Bu Widya yang melihat ke arah Bayu merasa curiga, lalu beliau bertanya kepada Shinta, "Jangan lama-lama dong Nak Shinta pindah kesininya!" pinta Ibu.
"Maaf Bu, Shinta mungkin tidak bisa tinggal di sini, kasihan Kakek jika harus tinggal sendiri, beliau tidak punya siapa-siapa lagi kan Bu!" ucap Shinta.
Shinta masih bisa menjawab dengan tenang karena dia punya alasan yang masuk di akal kedua orangtua Bayu. Ayah dan Ibu pun saling pandang, mereka tidak bisa memaksa karena yang dikatakan Shinta memang benar.
Kemudian Ibu pun bertanya, "Jadi bagaimana Nak dengan pernikahan kalian? Nggak mungkin kan suami istri terus tinggal beda rumah?" tanya Ibu lalu memandang Bayu. Beliau merasa ada yang di sembunyikan oleh Bayu.
Shinta diam, dia jadi bingung harus berkata apa, sementara Bayu langsung memegang lengan Shinta dan berkata, "Kemungkinan Bayu akan ikut tinggal di sana Bu, tapi Ibu jangan khawatir, Bayu akan sering datang kesini menjenguk Ayah dan Ibu," ucap Bayu sembari memegang erat tangan Shinta agar Shinta jangan mengatakan yang sebenarnya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu mata Shinta membulat dan langsung menatap ke arah Bayu. Bayu segera mengalihkan pembicaraan dengan meminta Shinta untuk makan cemilan yang tadi di suguhkan oleh Ibu.
Kemudian dengan kesal Shinta mengambil dan memakannya, lalu diapun berkata, "Maaf Bu, sepertinya Shinta harus segera pulang karena masih ada tugas kuliah yang belum di kerjakan," ucap Shinta yang sudah tidak sabar ingin meninggalkan rumah Bayu.
"Menginaplah di sini untuk malam ini saja Nak!" pinta Ayah. Lalu Ayah melanjutkan ucapannya, "Lagipula hari sudah malam dan hujan juga mulai turun," ucap Ayah.
Shinta terkejut, padahal tadi cuaca sangat cerah dan bulan sudah keluar di peraduannya, kenapa malah sekarang Ayah Bayu bilang jika hujan mulai turun. Begitu Shinta memfokuskan pendengarannya, ternyata benar hujan dan tiba-tiba suara petir pun menggelegar di ikuti hujan yang turun semakin deras.
Bayu tidak berani berkata-kata, dia tidak mengiyakan tapi tidak juga menolak, lalu Bayu memandang Shinta untuk mendapatkan jawaban darinya.
Shinta tidak punya pilihan lain selain mengiyakan karena tidak mungkin dia pulang naik motor dengan kondisi hujan deras dan petir.
Dia menyesal kenapa tadi harus menuruti permintaan Bayu, jika dia naik mobil pastilah hujan tidak akan menjadi penghalang niatnya yang ingin segera pulang.
Setelah mendapatkan anggukan dari Shinta, Ayah lalu meminta Ibu menyiapkan dan membereskan kamar, agar anak dan menantunya bisa segera beristirahat dan Ayah juga meminta Bayu untuk menghubungi Kakek, memberitahukan bahwa mereka akan menginap di sana.
Bayu segera menelephone Kakek dan Kakek sembari tertawa senang mengizinkan mereka menginap, malah kakek memberi saran agar Bayu bisa membujuk Shinta untuk tinggal dengan Bayu bersama orangtuanya.
__ADS_1
Kakek bermaksud ingin mendidik sang cucu agar hidup mandiri di bawah pengawasan dan bimbingan Bayu beserta kedua orang tuanya.
Lagipula Kakek juga ingin melihat Shinta hidup dengan kasih sayang keluarga lengkap, daripada harus hidup dirumah bersamanya yang semakin renta.
Ibu yang mendapatkan perintah dari Ayah segera menuju ke kamar Bayu untuk menyiapkan selimut dan mengganti seprainya, beliau memasang seprai baru karena ingin anak dan menantunya nyaman tidur malam ini.
Ayah lalu meminta Bayu agar membawa Shinta ke kamar saat melihat ibu sudah kembali, karena mereka juga ingin segera beristirahat.
Bayupun segera mengajak Shinta ke kamar saat melihat Ayah dan Ibunya sudah meniggalkan tempat itu. Shinta dengan terpaksa harus mengikuti Bayu, menuju kamar yang telah disiapkan oleh Ibu Widya.
Sesampainya di kamar, Shinta langsung mengambil bantal dan melemparkannya kepada Bayu sembari berkata, "Kamu tidur di bawah, aku tidak mau satu tempat tidur denganmu," ucap Shinta sambil kembali melemparkan selimut kepada Bayu.
Bayu tidak menggubris keinginan Shinta, dia membawa guling beserta selimutnya ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
Shinta jengkel lalu mendorong tubuh Bayu dengan guling agar dia turun ke bawah. Namun Bayu tidak bergerak sedikitpun dan ia malah memejamkan matanya dan pura-pura tidur.
Kekesalan Shinta semakin menjadi, melihat Bayu tidak mempedulikan keinginannya, lalu ia menarik selimut yang ada di tubuh Bayu dan membawanya ke lantai. Shinta lebih memilih tidur di lantai daripada harus di atas tempat tidur bersama Bayu.
Bayu sengaja membiarkan Shinta tertidur di lantai, dia ingin tahu sampai sejauh mana keras kepala Shinta yang begitu ingin menjauhinya.
Melihat Shinta tertidur, Bayu berusaha untuk tidur tapi hatinya merasa tidak tenang, dia bangkit dari rebahannya dan duduk berjam-jam hanya memperhatikan Shinta yang lelap tertidur.
Tiba-tiba saja hati Bayu tergerak ingin mendekati sang istri, saat dia melihat Shinta menggigil kedinginan dan mengigau. Bayu tidak tega, dia berencana ingin mengangkat Shinta ke atas tempat tidur dan biarlah dirinya yang akan menggantikan Shinta tidur di lantai.
Namun saat Bayu ingin menggendongnya, dia sangat terkejut ternyata Shinta demam, tubuhnya panas hingga membuatnya terus menggigil dan mengigau.
Bayu cemas dan merasa bersalah, lalu dia menggendong Shinta, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, mengambil air es dan mengompresnya.
Dengan sabar Bayu terus mengompres dahi, leher, dan ketiak Shinta tapi panasnya belum juga turun, padahal Bayu juga sudah mengganti air esnya berulang-ulang.
__ADS_1
Bayu bingung harus melakukan apa lagi, mau menelephone dokter agar datang hari sudah dinihari dan hujan juga masih deras, mau membawanya ke rumah sakit di rumahnya tidak ada mobil hanya ada motor, mau membangunkan Ayah dan Ibu, bayu pun ragu, pasti mereka akan menanyakan penyebab Shinta demam dan sudah pasti mereka akan tahu bahwa rumah tangganya tidak baik-baik saja.
Akhirnya Bayu teringat terapi pemindahan panas badan, dia membuka bajunya lalu membuka baju Shinta dan mendekapnya erat, berharap panas ditubuh Shinta berpindah ke tubuhnya.
Panas di tubuh Shinta berangsur turun, lalu setengah sadar Shinta melihat dan merasakan dirinya ada di pelukan Bayu, dengan sekuat tenaga Shinta mendorong Bayu, berusaha lepas.
Akhirnya Bayu melepaskan pelukannya, Shinta menjerit histeris saat melihat dirinya setengah tak berbusana. Dia bangkit, memukul Bayu sepuasnya dengan berteriak-teriak bahwa Bayu telah mencuri kesempatan di saat dirinya tertidur.
Tenaga Shinta yang masih lemas membuatnya jatuh terkulai di lantai sembari menangis. Bayu tidak peduli apa yang akan Shinta perbuat terhadap dirinya.
Dengan sigap dia menggendongnya kembali keatas tempat tidur, lalu Bayu memakaikan baju Shinta sembari berusaha menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi tapi Shinta tetap tidak percaya dan terus menganggap Bayu pendusta.
Ayah dan Ibu yang sayup-sayup mendengar suara keributan pun segera keluar dan keduanya memasang telinga untuk memastikan asal datangnya suara.
Namun Ayah dan ibu tidak mendengar suara apapun lagi, akhirnya mereka kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...vote, like sebanyak-banyaknya, coment dan rate bintang limanya.🙏😉
🌻 Silahkan favorit dan ikuti akun saya ya...agar para reader tahu kapan saya up dan menerbitkan karya baru.🙏
🌻 Ayo silahkan kepoin karya para sahabat saya di bawah ini yang semuanya bagus dan tidak kalah serunya.
__ADS_1