
"Ayo Mas, hati-hati," ucap Shinta.
Shinta menggandeng Bayu berjalan ke parkiran untuk naik ke dalam mobil. Bayu sudah di perbolehkan pulang, lukanya sudah mulai mengering tapi dia masih harus melakukan rawat jalan untuk memastikan sampai luka yang di dalam benar sembuh.
Kakek meminta Shinta agar tinggal di rumah Bayu, karena seorang istri harus ikut dimanapun suami berada, menjalankan kewajibannya sebagai istri dan menantu.
Sebenarnya Shinta berat untuk meninggalkan Kakek Hakim tinggal sendirian, tapi dia juga harus merawat Bayu. Shinta berjanji setiap hari akan mengunjungi Kakek hingga Beliau tidak merasa kesepian.
Bayu setuju dengan ide Shinta, malah Bayu diam-diam berencana ingin memberi kejutan dengan membeli rumah di dekat rumah Kakek dengan hasil tabungannya selama bekerja di perusahaan, agar mereka hidup mandiri dan sekaligus bisa selalu memperhatikan Kakek.
Kesehatan Kakek yang sering memburuk membuat Bayu khawatir jika mereka harus tinggal jauh dari Beliau.
Mengenai Ayah dan Ibunya, Bayu tidak terlalu khawatir karena mereka masih di bilang muda dan sehat, paling Bayu akan mencari sepasang suami istri yang bisa bekerja di rumahnya untuk membereskan rumah dan membantu Ayah membersihkan kebun, sekaligus sebagai teman mereka di sana.
Ayah dan Ibu Bayu setuju dengan keputusan putranya karena menurut mereka Kakek lebih butuh perhatian dari Shinta dan Bayu. Mereka juga berjanji akan sering mengunjungi Kakek supaya Kakek mempunyai teman ngobrol.
Bayu dan Shinta sudah tiba di rumah, Bu Widya senang melihat Shinta menggandeng Bayu. Beliau berharap hikmah di balik musibah ini akan membuat anak dan menantunya hidup serumah, rukun, serta bahagia layaknya pasangan pengantin baru.
Senyum sumringah di wajah Shinta ketika memasuki halaman rumah membuat Bayu yakin kebahagiaan rumah tangga yang selama ini dia impikan akan segera terwujud.
Di dalam hatinya, Bayu berjanji akan membahagiakan Shinta, akan memberikan kasih sayang layaknya suami, Abang dan sekaligus sebagai sahabat.
Shinta malu saat menyadari bahwa Ibu Bayu sejak tadi tersenyum memperhatikan mereka, lalu dia buru-buru melepaskan pegangan tangannya dari lengan bayu.
Ibu mempersilakan keduanya masuk, Beliau telah merapikan kamar, mengganti seprai, meletakkan bunga sebagai pajangan di sana hingga membuat suasana kamar lebih rapi dan indah.
Setelah itu Bu Widya meninggalkan kamar agar anak dan menantunya bisa beristirahat, lalu Beliau menuju halaman belakang menemui Ayah dan meminta Beliau agar mengantarnya berbelanja ke pasar untuk mempersiapkan menu sajian makan siang.
__ADS_1
Bayu duduk di tepi tempat tidur, dia memegang tangan Shinta, lalu meminta Shinta untuk duduk di sisinya. Bayu ingin membuka lembaran baru rumah tangga mereka dengan meminta maaf kepada Shinta karena telah menikahinya tanpa persetujuan dan keikhlasan darinya.
Shinta menutup mulut Bayu dengan jari telunjuk, dia tidak ingin Bayu meneruskan ucapannya, karena yang pantas meminta maaf bukanlah Bayu melainkan dirinya.
Bayu memegang tangan Shinta, mencium kening lalu menarik Shinta ke dalam pelukannya. Keduanya pun kini tenggelam dengan perasaan mereka. Bayu merasakan kebahagiaannya sekarang lebih sempurna, cintanya bersambut, tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Shinta juga merasakan kenyamanan, merasakan aman berada di dalam dekapan sang suami.
Shinta tidak menyangka, rasa bahagia mulai menyelusup di relung hati, jantungnya pun berdegub kencang saat Bayu membisikkan kata cinta di telinganya dan meminta izin ingin meminta haknya sebagai suami.
Bayu bangkit dari duduknya, dia menghidupkan tape recorder, lalu memutar musik romantis. Kemudian dia mengulurkan tangan kepada Shinta, Shinta pun menyambut uluran tangan Bayu, mereka berpelukan, berdansa mengikuti alunan musik romantis yang mengalun merdu.
Perlahan Bayu mulai mencium bibir Shinta dengan lembut dan Shinta pun membalas ciuman itu hingga membuat Bayu tidak menyia-nyiakan moment indah itu.
Suasana rumah yang sepi dengan diiringi alunan musik yang romantis membuat Bayu dan Shinta terbuai, mereka merasa dunia ini hanya milik berdua.
Rasa rindu akan belaian dan kasih sayang istri yang saat ini telah ikhlas memberikan hak kepadanya sebagai suami, membuat Bayu semakin bersemangat dalam melaksanakan kewajibannya.
Kamar ini dan kicauan burung di luar telah menjadi saksi penyatuan cinta Bayu dan Shinta, yang telah sepakat mengikat janji untuk setia sampai maut memisahkan mereka. Malam pertama yang saat itu dilakukan secara terpaksa kini terganti sudah dengan saling butuh dan saling ikhlas untuk meraih bahagia.
Shinta duduk di depan cermin untuk merias wajah sedangkan Bayu membantunya mengeringkan rambut dengan handuk kepala. Melihat Shinta tersenyum membuat Bayu gemas hingga dia mengambil kesempatan menciumi istrinya kembali.
Ibu dan Ayah yang sudah kembali dari pasar mengetuk pintu kamar mereka, Bu Widya ingin memberikan buah-buahan yang baru saja di belinya dari pasar.
Bayu membuka pintu lalu mempersilakan Ibu untuk masuk, tapi Bu Widya yang melihat senyum bahagia di wajah putranya dan melihat sekilas rambut keduanya masih setengah basah paham dan tidak ingin mengganggu mereka. Beliau hanya menyerahkan buah itu lalu kembali ke dapur untuk memasak.
Shinta merasa malu melihat sang ibu di dalam rumah pun berhijab, lalu dia meminta Bayu untuk meminjam hijab Ibu untuk sementara. Dia ingin mulai merubah penampilannya, Shinta ingin menjadi istri yang sholehah.
Bayu senang dan bersyukur atas niat istrinya, nanti sore dia berencana akan mengajak Shinta ke butik untuk membeli hijab dan pakaian muslim yang Shinta butuhkan.
__ADS_1
Kemudian Bayu menemui Ibu di dapur, dia mengutarakan maksudnya ingin meminjam satu set pakaian ibu agar bisa di kenakan Shinta.
Bu Widya senang dengan perubahan sikap dan keinginan menantunya, lalu Ibu memilihkan gamis terbaik yang Beliau punya yang kebetulan adalah pemberian Bayu dan belum sempat di pakainya.
Shinta keluar dari kamar setelah memakai gamis dan hijab yang di berikan oleh Ibu. Bayu yang melihat penampilan baru sang istri terpana, matanya membulat tidak percaya, dia merasa seperti melihat bidadari surga.
Impian Bayu sejak lama ingin beristrikan wanita Sholehah akhirnya terwujud. Tanpa paksaan dari siapapun Shinta sadar bahwa menutup aurat adalah kewajiban yang harus dia kerjakan.
Kemudian Shinta pun meminta kepada Bayu agar mau mengajarinya mengaji setiap selesai sholat subuh sebelum dirinya berangkat bekerja.
"Alhamdulillah", hanya kata pujian itu yang terucap dari mulut Bayu saat mendengar permintaan Shinta. Dia merasa beruntung Allah telah memberikan seorang istri seperti Shinta untuknya.
Ibu Widya pun melarang Shinta yang ingin membantu Beliau memasak, Ibu ingin hari ini menantunya khusus menghabiskan waktu untuk menemani dan melayani putranya agar mereka lebih dekat hingga saling memahami.
Keahlian Ibu dalam memasak tidak di ragukan lagi, aneka jenis menu sudah selesai beliau masak hanya dalam waktu singkat. Lalu Shinta dan Bayu membantu menata masakan itu di atas meja makan sekaligus mempersiapkan peralatan makan.
Setelah hidangan tertata semua barulah Bayu bergegas ke taman belakang untuk meminta Ayah makan bersama. Ayah pun membersihkan dirinya lalu mereka bersama-sama menyantap hidangan itu dengan lahap.
Masakan ibu sangat enak, hingga membuat Shinta ingin belajar memasak dari Beliau. Ibu pun dengan senang hati akan mengajari Shinta kapanpun dia mau dan siap untuk belajar.
Shinta ingin pandai seperti Ibu hingga suatu saat bisa melayani keluarganya dengan karya masakannya sendiri, seperti halnya Ibu melayani Ayah dan Bayu.
Bayu mendukung ide Shinta selagi itu baik dan berguna demi kebahagiaan rumah tangga mereka. Shinta memang menyadari bahwa dirinya masih harus banyak belajar tentang hidup, karena kehidupannya yang serba ada telah membuatnya selalu mengandalkan uang dan mengandalkan tenaga orang lain.
Shinta pun berharap kehadiran Bayu dalam kehidupannya akan terus membawa kebaikan hingga dirinya benar-benar bisa menjadi istri yang baik.
Bersambung........
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys... Vote, like dan coment.
🌻 Terimakasih atas semua dukungannya ya guys 🙏🙏🙏