
'Benar bukan ...?'
'Apa kubilang ... Bibirnya pasti terasa manis ...!'
'Sudah sejak awal aku menduga bahwa rasanya sudah pasti lembut dan manis ... dan akhirnya bisa aku buktikan juga, bahwa perkiraanku ... Memang tepat ...'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naysila masih belum bisa mengatakan apapun, hanya mematung dengan wajah pias, rasanya ingin marah tapi tak bisa, ingin pingsan tapi tak kunjung pingsan juga.
Lain halnya dengan Raja. Ekspresi wajah pria itu malah terlihat sebaliknya ... Tenang, bahkan tersenyum puas!
"T-Tuan ... A-apa yang Tuan lakukan ...?" Desis Naysila, berbicara dengan nada berbisik namun penuh tekanan, juga tergeragap nyata.
Sedikit rasa malu menyeruak dalam sanubari Naysila, menyadari kehadiran sang sopir yang terlihat duduk tenang dibelakang kemudi, bisa saja mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Tuan ... tolong katakan sesuatu. Kenapa ... Kenapa Tuan melakukan semua ini ...?"
Ucap Naysila lagi seolah tidak bisa menahan dirinya sekian lama, terlebih saat menyadari bahwa Raja tak kunjung bicara dan menjelaskan alasan apa yang mendorongnya melakukan perbuatan nekad barusan, yang telah mencuri ciuman pertama miliknya tanpa permisi.
Jangankan menjelaskan sesuatu, yang ada saat ini Raja bahkan hanya menatap Naysila takjub, dengan segaris senyum aneh.
"Kenapa bertanya ...? Bukankah kamu sendiri yang barusan meminta kepadaku agar dirimu terlihat pantas ...?"
'Appaaaaa ...?! Memangnya apa hubungannya ciumanmu dengan permintaanku yang ingin terlihat pantas ...?? Ha-ah ...?!'
Bibir Naysila masih bergeletar samar, begitupun dengan kedua bahunya.
Sesungguhnya sekujur tubuhnya juga sedang bergetar, masih belum bisa menerima perlakuan Raja yang kali ini sungguh sangat semena-mena ... Tanpa permisi!
"Setidaknya aku sudah menciummu. Masak iya kepercayaan dirimu belum pulih juga ...?" ujar Raja polos, tanpa dosa.
Naysila membuang wajahnya yang memerah, malu juga marah.
"Naysila ... Kamu ini kenapa sih ...?"
'Malah bertanya kenapa ...? Harusnya aku yang bertanya Tuan Raja ...! Kenapa malah balik bertanya ...?'
Naysila memilih tetap membisu sambil menahan geram, terlebih saat menyadari ekspresi wajah Raja yang tidak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali.
__ADS_1
"Bahkan kamu tahu persis seperti apa diriku. Kamu pikir aku bisa memberikan ciumanku kepada sembarang orang?"
'He-eh, apa maksudnya ...?'
'Jadi dia berpikir bahwa aku akan senang saat disentuh oleh sembarang orang ...?'
"Harusnya kamu senang karena aku sudi menciummu ... Bukannya berlaku seperti ini ..."
'Apa katanya ...? Sudi ....?'
'Tidak. Aku tidak sudi.'
'Tidak peduli meskipun kamu seorang Raja Adiguna yang berkuasa ... Bagaimanapun juga tidak akan pernah ada wanita baik-baik yang akan merasa senang disentuh se-intim itu tanpa alasan berarti oleh seorang pria asing ...!'
Bathin Naysila riuh-rendah, namun dirinya tahu bibirnya tak mungkin berkata apa-apa.
"Nay ..." panggil Raja lagi, yang kali ini ia sepertinya baru menyadari bahwa ternyata tindakan nekadnya benar-benar tidak bisa diterima begitu saja oleh Naysila.
Naysila kini memberanikan diri untuk menatap Raja, namun masih seperti pada awalnya ....Bibirnya belum berkata apapun.
"Nay, katakan sesuatu. Apakah ... Yang barusan terjadi ... Kamu ... Benar-benar tidak merasa senang?" ucap Raja lagi mulai meragu, plus ekspresi wajahnya yang menggambarkan rasa sukar percaya.
Naysila menarik napasnya berat. "Maafkan aku, Tuan, tapi bagaimana mungkin aku bisa senang? Tuan melakukan semua itu tanpa persetujuan dariku ..."
"Tentu saja aku tidak senang, Tuan ..."
Raja terlihat menatap Naysila dengan ekspresi semakin tak percaya. Tadinya Raja berpikir Naysila pasti senang mendapatkan ciuman special dari seorang Raja Adiguna.
Lalu kenapa yang terlihat sekarang wanita itu seolah tidak ada rasa senangnya sama sekali ...?
Seumur hidupnya, seorang Raja Adiguna merupakan sosok yang begitu ingin didekati oleh siapa saja.
Entah itu pria ... Entah itu wanita ...
Hanya saja Raja tidak pernah membuka peluang sekecil apapun bagi siapapun untuk leluasa mendekati dirinya, dikarenakan rasa paranoid Raja terhadap sesuatu yang tidak steril, yang membuat Raja selalu merasa terganggu dan berhati-hati.
Semua orang juga tahu bahwa sejak belia Raja sudah mulai merasa tidak suka berdekatan, apalagi bersentuhan dengan orang lain.
Sifat paranoidnya juga telah membuat Raja menjauh dari keluarganya sendiri.
__ADS_1
Pembawaan aneh Raja itu pun telah menjadi rahasia umum didepan para khalayak.
Sebelum Naysila masuk kedalam kehidupannya, Raja adalah pria tak tersentuh, sekalipun itu atas nama tugas dan tanggung-jawab, yang mau tak mau mengharuskan Raja berinteraksi dengan banyak orang disepanjang hari.
Orang-orang juga tidak lagi merasa aneh dengan sifat Raja yang selalu menjaga jarak aman meskipun berada dalam meeting penting sekalipun.
Yah, karena dia adalah Raja Adiguna, yang mempunyai kekuasaan yang besar, sehingga orang-orang disekitarnya bisa dibuat tunduk dengan mudah atas aturan yang sudah diterapkan tanpa terkecuali.
"Tuan, seharusnya Tuan tidak boleh menyentuhku, tanpa meminta ijin terlebih dahulu ..."
"Kenapa aku harus minta ijin ...?"
"Yang Tuan lakukan tidak ada dalam perjanjian ..."
"Kata siapa?"
"Tuan, aku kan hanya ..."
"Kamu istriku. Lalu kenapa aku harus meminta ijin?"
Selorohan ringan itu alhasil membuat wajah Naysila dipenuhi semburat merah.
'Istri ...?'
'Akh, sial ... Kenapa sepenggal pengakuan menyebalkan itu bisa terdengar sangat manis ditelinga ...?'
Naysila membathin kalut, saat menyadari bisa-bisanya hatinya dibuat baper oleh karena ucapan remeh barusan.
"Lagipula ... Bukankah aku juga bisa meminta hak-ku, lebih dari sekedar menempelkan bibir satu sama lain ...?"
"Appaa ...?!"
"Naysila, daripada kamu meributkan masalah ciuman, masih lebih baik kamu berdoa agar setelah ini tubuhku tidak akan mendapatkan reaksi aneh."
Usai berucap demikian telunjuk kanan Raja terangkat didepan wajah Naysila yang memucat mendengar kalimat terakhir Raja.
Detik berikutnya, Naysila bahkan tidak bisa menghindar saat ujung jemari Raja terlihat menekan pucuk hidungnya yang membeku, tak berani bergerak se-inchi pun oleh karena sepasang mata elang Raja kini ikut memenjarakan dirinya sedemikian rupa.
"Karena, kalau sampai setelah ini mulutku menjadi alergi akibat mencium bibir jelekmu itu ... maka sudah kupastikan akan membuat perhitungan denganmu ...! Kamu mengerti, kan ...?"
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Naysila dibuat terhenyak, oleh karena intimidasi seorang Raja Adiguna.
Bersambung ...