MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
RITUAL MENGERIKAN


__ADS_3

Hari masih sore, saat Naysila mendapati pintu kamarnya yang telah diketuk oleh seseorang.


Begitu Naysila membukanya, sosok paruh baya Asisten Jo terlihat berdiri tegak didepan pintu kamar.


"Nyonya, sudah saatnya Nyonya bersiap." ucap Asisten Jo setelah menunduk hormat terlebih dahulu seperti biasanya.


"Bukankah undangan makan malamnya jam tujuh malam ...?" kilah Naysila sambil menengok kearah jarum jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore.


"Iya, Nyonya benar."


"Lalu untuk apa aku harus buru-buru bersiap? Sekarang bahkan baru jam empat sore ..."


"Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dan Nyonya memang harus mulai bersiap dari sekarang ..."


Naysila mengernyit namun pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Lagipula apalagi yang bisa ia lakukan selain mengikuti semua aturan serba aneh didalam rumah ini?


"Baiklah ..."


"Kalau begitu mari ikut aku sekarang, Nyonya, karena semua persiapan sudah ada di kamar tamu utama."


Tanpa banyak bicara Naysila pun langsung keluar dari kamar diikuti langkah Asisten Jo yang terayun dibelakangnya.


"Silahkan, Nyonya ..." ucap Asisten Jo saat mempersilahkan Naysila masuk kedalam lift terlebih dahulu.


Lift tertutup dan meluncur turun ke lantai satu, di mana dua kamar tamu utama berjejer di sana.


Naysila keluar dari dalam lift dan memasuki salah satu kamar tamu sesuai arahan Asisten Jo yang masih setia mendampinginya, dan ia tercengang begitu mengetahui bahwa didalam kamar tersebut ternyata sudah dipenuhi beberapa wanita tak dikenal, juga beberapa orang maid yang begitu mengetahui kehadiran Naysila dan Asisten Jo, mereka semua langsung menghentikan aktifitas mereka sejenak guna menunduk takjim.


"Perhatian untuk kalian semua, aku harap kalian bisa melakukan hal terbaik untuk Nyonya Naysila Adiguna sesuai keinginan Tuan Raja Adiguna. Kalian mengerti?"


Suara lantang Asisten Jo terdengar tegas saat memberi arahan singkat kepada semua wanita yang berada di sana.


"Iya, Tuan. Kami mengerti."


Seorang wanita yang berpenampilan paling glamour terdengar menjawab penuh keyakinan, seolah mewakili semua yang ada di sana.


Suara penuh percaya diri wanita itu seolah menggambarkan bahwa dia sudah tahu dengan pasti apa yang harus ia lakukan demi memenuhi standard seorang Raja Adiguna.


"Baiklah, Nona Grace, aku mempercayaimu seperti halnya Tuan Raja yang telah mempercayakan semua urusan ini kepadamu. Tolong lakukanlah tugasmu dengan baik." ungkap Asisten Jo lagi sebelum pria itu benar-benar melangkah keluar dari kamar dengan wajah yang datar seperti biasa, meninggalkan Naysila yang masih saja terheran-heran ditempatnya berdiri.


'Dengan orang sebanyak ini ... Memangnya aku mau diapakan ...?'

__ADS_1


Bathin Naysila bingung.


"Permisi Nyonya Naysila, sudah saatnya kita memulai serangkaian perawatan secara menyeluruh untuk Nyonya. Pertama-tama kita akan mengawalinya dengan Facial, tapi sebelum itu Nyonya harus mengganti pakaian Nyonya terlebih dahulu ..."


Seperti tidak ingin membuang waktu Nona Grace pun segera menuntun Naysila yang bahkan terlihat tidak lagi berusaha untuk protes, pasrah dengan apapun yang hendak dilakukan oleh semua orang dibawah pimpinan wanita yang disapa Nona Grace itu.


"Aku akan mengganti bajuku sendiri ..." pinta Naysila saat salah seorang maid membawa sebuah jubah berwarna putih untuk pakaian ganti, sebelum Naysila menjalani serangkaian perawatan ala sultan.


"Tidak apa-apa, Nyonya, jangan sungkan dan biarkan kami melakukan semuanya, karena kami sudah ditugaskan oleh Tuan Raja untuk melayani Nyonya."


"Egh, t-tapi ... tapi ..."


Terlambat.


Penolakan Naysila seolah tak digubris manakala Nona Grace dan beberapa maid nekad mendekat dan langsung membuka kancing gaun berwarna putih yang Naysila kenakan.


Naysila hanya bisa berdiri dengan rasa malu yang teramat sangat, terlebih saat menyadari dirinya yang biasanya melayani Raja dengan mempreteli pakaian pria itu acap kali berganti pakaian setiap hari, saat ini justru sedang mengalami hal yang tak jauh berbeda.


'Ternyata rasanya sungguh memalukan, dan pria bernama Raja itu benar-benar tidak lagi punya urat malu sama sekali sehingga selalu menyuruhku menggera yangi dan menelan jangi tubuhnya setiap hari ...!'


Setelah prosesi ganti baju yang sukses membuat sekujur wajah Naysila memerah karena rasa malu yang teramat sangat, Naysila telah dituntun keatas sebuah dipan khusus yang tersedia di sana.


Kemudian dari sanalah seluruh rangkaian perawatan kecantikan secara menyeluruh telah diterima Naysila secara berturut-turut.


Usai berendam Naysila menikmati rehat sejenak sambil disuguhi kesegaran teh chamomile.


Naysila yang mengira serangakain ritual tersebut telah selesai ternyata salah besar. Karena setelah itu sebuah ritual mengerikan dengan istilah Waxing sukses membuat Naysila melolong tanpa henti.


Ternyata proses tersebut merupakan proses semi permanen untuk menghilangkan rambut halus dari akar, dilakukan untuk menghilangkan rambut yang tidak diinginkan dari hampir semua bagian tubuh termasuk alis, wajah, kaki, lengan, punggung, perut, bahkan area kema luan ...!


Disaat menjalani ritual mengerikan sekaligus memalukan itu, Naysila sempat berusaha menolak.


Namun entah kenapa kali ini para maid begitu berani menghalangi semua usaha penolakan Naysila yang begitu gigih, meskipun mereka semua melakukannya dengan bibir yang tak henti mengucapkan kata maaf berkali-kali.


"Maafkan kami, Nyonya Naysila, kami terpaksa harus memaksa Nyonya menjalani semua ini karena atas perintah Tuan Raja ..."


Nona Grace berdiri dengan kepala tertunduk penuh penyesalan, dihadapan Naysila yang tergolek lemas tak bertenaga, usai mengalami 'penyiksaan' atas sesuatu yang berkedok kecantikan.


'Ku rang ajar ...! Dasar maniak ...!'


'Bisa-bisanya dia memerintahkan orang lain untuk mencabut paksa semua bulu yang tumbuh subur di sekujur tubuhku tanpa bersisa ...!'


'Dasar pria gila paranoid ...!'

__ADS_1


Naysila memaki dan menyumpah serapah, meskipun lagi-lagi ia hanya mampu mengucapkannya dalam hati.


"Tidak apa-apa, Nona Grace, aku tahu kalian semua melakukannya atas perintah Tuan Raja ...." ujar Naysila lemah karena akhirnya ia sadar bahwa semua orang didalam ruangan ini sama sekali tidak bersalah.


Mereka semata-mata hanya tunduk pada perintah Raja, jadi sudah jelas yang bersalah dalam hal ini hanyalah satu orang ...


Siapa lagi kalau bukan si Raja Adiguna yang gila itu ...?


"Nona Grace, apakah semua ini sudah selesai ...?" Naysila berucap lagi sambil mencoba bangkit dari dipan.


Melihat hal itu beberapa orang maid terlihat sigap membantu sang Nyonya besar.


"Belum, Nyonya, masih ada lagi ..."


"Apaaa ...?! Masih ada lagi ...?!" Naysila terpekik kaget bercampur ngeri.


'Setelah ritual mencabut semua bulu ditubuhku tanpa rasa iba, memangnya ritual penyiksaan apalagi yang harus aku alami setelah semua itu ...?'


'Pencabutan nyawa ...?'


"Nyonya belum melakukan Manicure, Pedicure and Nail Care Treatment ..."


Naysila mencoba mengusir rasa kesal yang langsung hinggap saat mendengar sendiri bahwa ia masih harus menjalani serangkaian ritual demi mendapatkan standar yang tepat dari seorang Raja Adiguna.


"Nyonya Naysila jangan khawatir, karena perawatan yang barusan aku kemukakan sama sekali tidak semengerikan Waxing. Secara keseluruhan, Manicure, Pedicure and Nail Care Treatment adalah perawatan kecantikan tangan dan kaki yang lengkap, sampai pada proses pengaplikasian cat kuku yang disertai dengan berbagai therapy yang cukup menyenangkan ..."


Naysila menarik napas berat mendengar penjelasan Nona Grace yang super lengkap, yang diucapkan wanita itu sambil menundukkan kepalanya dengan takjim.


"Baiklah, lalu setelah itu apalagi, Nona Grace ...?" tanya Naysila semakin tak berdaya.


Nona Grace terlihat mengangkat wajahnya sedikit.


"Yang terakhir adalah Hair Spa anda Hair Mask. Itu merupakan perawatan rambut yang sangat berguna untuk menghilangkan stres di kulit kepala, pijat bahu dan menutrisi serta memperbaiki masalah-masalah yang dialami pada rambut dan kulit kepala Nyonya. Untuk hal ini aku bahkan bisa menjamin seratus persen bahwa prosesnya tidak menyakitkan sama sekali, malah cukup satisfying ..."


"Terserah padamu saja Nona Grace. Aku bahkan tidak bisa mengatakan tidak meskipun aku menolak melakukan semua ini dari awal."


"Maafkan aku, Nyonya." lagi-lagi Nona Grace tertunduk, dengan rasa sesal disudut hati.


Nona Grace sudah bisa menebak bahwa Nyonya Naysila Adiguna adalah tipe wanita sederhana yang awam tentang berbagai proses perawatan tubuh yang sedang ia jalani saat ini.


Tapi sepertinya semua itu sudah menjadi resiko sebagai istri seorang Raja Adiguna yang kaya raya serta perfeksionis, sehingga Nyonya Naysila mau tak mau harus menjalani serangkaian ritual, yang boleh jadi tidak pernah ia jalani sebelumnya ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2