MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
SISI KEHANGATAN


__ADS_3

Sore ini, sesuai rencana Raja sejak awal, Reza pun ikut serta dalam mendampingi Raja meninjau lokasi pembebasan lahan dengan mengemudikan mobilnya sendiri.


Ternyata lokasi yang di maksud merupakan deretan lapak milik warga sekitar yang tinggal di pinggiran kota.


Reza baru sadar bahwa kedatangan dirinya dan Raja rupanya tidak sendirian, karena selain mendapat pengawalan ketat dari beberapa bodyguard yang memang bekerja dibawah naungan Adiguna Corporation, ternyata Raja juga telah menghubungi pihak yang berwajib untuk mengamankan situasi dan kondisi yang ada sebelum mereka tiba, untuk menghindar dari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


Sesungguhnya kesepakatan antara warga sekitar dan pihak pengembang yang tak lain Adiguna Corporation sudah mengalami kesepakatan sejak beberapa bulan yang lalu.


Proses transaksi ganti rugi secara resmi bahkan telah rampung dilaksanakan sejak dua bulan yang lalu, namun sebagian besar warga telah meminta waktu untuk memindahkan lapak mereka ke tempat yang baru, dan pihak Raja pun telah setuju untuk memberikan waktu dua bulan kepada warga agar bisa mengosongkan lahan.


Kedatangan Raja hari ini adalah demi memastikan kesiapan lahan yang dimaksud agar bisa segera dibangun, mengingat waktu yang diberikan nyaris habis, sementara masih ada beberapa lapak yang masih bertahan.


Hari ini Raja sengaja turun langsung ke lapangan hanya untuk mengetahui apa yang menyebabkan beberapa warga tersebut masih bertahan, padahal sudah jelas mereka telah menerima uang kompensasi sebagai tanda persetujuan mereka untuk direlokasi.


"Tuan Raja tidak perlu khawatir, kami masih bertahan di sini bukan karena ingin mempersulit proyek pembangunan Tuan Raja ke depan, tapi kami sedang menunggu bangunan lapak kami yang akan rampung dalam waktu dekat ..."


Raja menghela napas lega begitu dirinya mendengar langsung ungkapan hati beberapa warga yang masih bertahan yang ia temui secara langsung di sore ini.


"Iya, Tuan Raja tenang saja karena kami berjanji, besok lusa tempat ini seratus persen akan segera kami kosongkan ..." ujar salah seorang pedagang kelontong yang juga masih bertahan, sambil menunjuk tumpukan kardus besar yang berisikan aneka barang yang telah siap di angkut. "Tuan bisa melihatnya sendiri bahwa sebenarnya kami semua sudah siap pindah, tapi yang membuat kami masih bertahan karena lapak kami yang baru dibuat masih belum rampung untuk ditempati ..."


Raja kembali mengangguk tanda mengerti. Kemudian ia menyingsingkan masker yang menutupi sebagian wajahnya terlebih dahulu, sebelum ia bicara.


"Bapak dan Ibu sekalian, ijinkan aku menghaturkan rasa terima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam kepada kalian semua, karena sangat koperatif dan sangat bisa diajak bekerja sama. Terus terang, setelah mendengar alasan langsung dari kalian, aku pribadi merasa sangat lega. Aku juga berharap bahwa ditempat yang baru, usaha kalian akan semakin maju dan berkembang, dan rejeki kalian pun akan mengalir semakin deras dari sebelumnya ..." ujar Raja panjang lebar dengan senyum tersungging di bibir.


"Amin ..."


"Amin Ya Allah ..."


"Terima kasih, Tuan Raja ..."


"Terima kasih ..."

__ADS_1


Ungkapan syukur serta ucapan terima kasih terdengar bersahut-sahutan penuh ketulusan dari bibir semua pedagang yang tersisa di sana.


Sesungguhnya mereka semua memang mendoakan Raja dengan tulus dari lubuk hati mereka yang terdalam, karena meskipun Raja telah mengambil alih lahan yang selama ini mereka gunakan untuk berjualan namun pria itu tidak hanya membayar dengan nominal yang layak, melainkan juga menyiapkan lahan baru yang tak kalah strategis untuk mereka membangun lapak yang baru.


"Tuan Raja sangat baik. Kami berdoa semoga Tuhan akan membalas semua kebaikan Tuan Raja dengan rejeki yang berlimpah ruah, juga kebahagiaan tak terhingga dalam keluarga dan rumah tangga hingga akhir hayat ..."


Seorang wanita tua penjual mainan grosir yang tengah menengadahkan kedua telapak tangannya keatas langit telah mencuri perhatian Raja.


Tidak hanya karena Doa wanita itu yang terdengar begitu syahdu dan menggetarkan jiwa, melainkan juga diakibatkan oleh beberapa kotak persegi panjang kecil berwarna-warni yang tergantung di lapak tersebut yang telah mencuri perhatian Raja.


"Reza, apakah itu harmonika ...?" telunjuk Raja mengarah kearah sekumpulan benda tersebut, yang kebetulan berada tak jauh dari tempat di mana Reza berdiri tegak.


Reza yang sejak tadi setia mendampingi Raja meskipun dengan jarak nyaris dua meter, refleks meraih plastik yang berisikan benda yang ditunjuk Raja, dan mengamatinya sejenak.


"Iya, Raja, ini adalah harmonika ..." jawab Reza meskipun didalam hati dirinya sedikit bingung dengan Raja yang tiba-tiba menanyakan benda yang tergantung di lapak sang nenek.


"Tolong bantu aku memeriksa warnanya. Jika ada yang berwarna putih aku ingin membelinya ..." titah Raja lagi.


Nenek itu kemudian mengambil alih plastik bening tersebut dari tangan Reza, dan dengan penuh keyakinan ia telah memilih kotak persegi panjang kecil berwarna putih, langsung menyodorkannya kepada Reza dengan raut wajah yang dipenuhi aura keyakinan.


Reza pun menerima pemberian sang nenek dan segera memeriksa isi kotak berwarna putih tersebut.


Benar saja, isi yang ada di dalam kotak tersebut merupakan sebuah harmonika berwarna putih seperti ucapan sang nenek.


"Raja, harmonikanya benar-benar berwarna putih dengan motif kembang-kembang kecil di beberapa bagian." pungkas Reza sambil memperlihatkan harmonika yang ada ditangannya ke arah Raja.


"Tuan Raja, apakah Tuan menginginkannya ...?" sang nenek kembali menyela sebelum Raja berucap sesuatu.


Raja sontak mengangguk. "lya, aku menginginkannya. Istriku sangat mahir bermain harmonika karena itu aku berpikir untuk membelinya sebagai hadiah. Nenek, katakan kepadaku berapa harganya?" tanya Raja dengan raut wajah dipenuhi kebahagiaan, begitu seraut wajah Naysila yang akhir-akhir ini selalu cemberut kepadanya seolah melintas begitu saja dibenak Raja.


Sepasang mata Raja kini beralih penuh kearah sang nenek, pemilik barang dagangan, yang saat ini juga sedang tersenyum kearah Raja sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Tidak. Sayang sekali ... Aku tidak berniat menjualnya."


Raja terhenyak mendengar jawaban sang nenek yang diluar dugaan.


"Tidak untuk dijual, karena jika Tuan Raja berkenan, maka ijinkan aku memberikan harmonika berwarna putih ini khusus untuk istri Tuan Raja, sebagai hadiah kecil dari diriku ..."


Raja kembali dibuat terhenyak, mendengar ucapan sang nenek yang terdengar begitu tulus.


"Tidak ... Tidak ... Benda Ini sebelumnya merupakan salah satu barang yang dijual, mana bisa diberikan cuma-cuma ..." elak Raja, sedikit salah tingkah.


"Tidak, Tuan, tolong terimalah pemberian kecilku ini khusus untuk istri tercinta Tuan Raja, meskipun nilainya tak seberapa. Tuan Raja adalah orang yang baik, aku sungguh mendoakan Tuan dan istri Tuan agar senantiasa berbahagia ..."


Raja tetegun mendapati keteguhan hati sang nenek, yang terucap lugas dihadapan begitu banyak pasang mata yang ada di sana.


Pada akhirnya Raja pun luluh dan mengangguk. "Baiklah, karena nenek begitu ingin menghadiahkan harmonika ini untuk istriku, maka aku akan menerimanya dengan senang hati ..."


Raut wajah haru sang nenek terpancar jelas digaris wajah tua itu, dan jika saja memungkinkan untuk dirinya bisa mendekati Raja, rasanya ingin sekali ia memeluk Raja bak merengkuh putranya sendiri.


Sayang sekali sejak awal mereka semua sudah diberitahu, bahwa Tuan Raja Adiguna yang tampan juga rendah hati yang merupakan pemilik Adiguna Corporation itu memiliki riwayat penyakit langka berupa alergi kritis, sehingga tidak bisa berdekatan dengan sembarangan orang.


"Tuan Raja, sekali lagi terima kasih karena Tuan telah sudi menerima hadiahku yang tak bernilai itu ..."


"Tidak, Nek, justru sebaliknya ... Nenek telah memberikan sesuatu yang sangat berharga untukku ..." pungkas Raja, mengiringi segenap rasa bahagia dihati sang nenek.


Semua orang yang ada di sana tak ada satupun yang tak menyaksikan adegan langka yang terkesan begitu manis itu, sehingga meskipun hanya di dalam hati masing-masing dari mereka seolah terlarut kemudian bersepakat akan satu hal.


Bahwa seorang Raja Adiguna yang selama ini terkesan dingin, ternyata memiliki sisi kehangatan ...


Yang tak semua orang beruntung bisa menyaksikannya ...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2