MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
TERPERANGKAP


__ADS_3

'Apakah se-rendah itu aku di matanya ...?'


'Di mobil, saat akan menghadiri undangan makan malam dari ibunya, dia sudah menciumku seenaknya, kemudian malam ini dia juga telah memelukku dengan begitu erat ...'


'Iya, aku tau bahwa dimatanya aku tak lebih dari sebuah boneka yang gemar ia permainkan. Tapi apakah sebuah ciu man dan sebuah pelukan bisa dijadikan bahan gurauan ...?'


'Luar biasa ...'


'Ternyata kemiskinan dan ketidakberdayaanku tak pernah membuatnya puas mengejekku sedemikian rupa ...'


'Tuan Raja Adiguna ... Aku sungguh membencimu ...!! Aku benar-benar membencimu ...!! Aku ...'


...


"Ini untukmu. Ambillah."


Naysila nyaris terpekik mendengar sebuah suara bariton yang muncul tiba-tiba, dari balik tengkuknya yang sontak meremang, karena hembusan napas yang hangat.


Saat tubuh Naysila berbalik sempurna, Naysila mendapati sosok tinggi tegap yang menjulang kokoh milik Raja sudah berada tepat dihadapannya, sembari menyodorkan kotak kecil persegi panjang berwarna putih.


"Apa ini ...?" tanya Naysila, tapi tangannya belum juga terangkat guna menerima pemberian dari Raja.


"Bisa tidak kamu menerimanya lebih dahulu sebelum bertanya macam-macam?" ujar Raja masih dengan nada suaranya yang seperti biasa, datar.


Mendengar kalimat tersebut, dengan patuh Naysila pun buru-buru menerima kotak kecil yang disodorkan Raja tanpa banyak bicara.


"Terima kasih, Tuan ..." pungkas Naysila takjim, padahal dia sendiri belum tahu apa gerangan isi kotak dari pemberian Raja untuknya.


"Hhmm ... Memangnya kamu sudah mengetahui apa isi didalamnya ...?"


Kepala Naysila terlihat menggeleng tanpa kata.


Raja menarik napasnya sejenak. "Kalau begitu buka saja ..."


Lagi-lagi dengan tanpa kata, Naysila menuruti titah Raja.


Perlahan dengan menggunakan kedua tangannya, jemari Naysila pun mulai berusaha mengeluarkan isi dari kotak kecil tersebut yang ternyata sebuah harmonika berwarna putih susu, dengan hiasan kembang-kembang kecil di permukaan sisi kiri dan sisi kanannya.


Kepala Naysila terangkat guna menatap Raja kembali. "Tuan, ini ..."


"Seorang nenek tua yang memberikannya ..." ucap raja to the point, seolah ingin segera menepis pemikiran Naysila yang hendak menganggap bahwa harmonika itu benar-benar merupakan benda yang berasal dari dirinya.

__ADS_1


Sepasang alis Naysila langsung bertaut mendengar penjelasan Raja yang terdengar aneh ditelinga. "Seorang nenek tua?" ulangnya bingung.


"Hmm ..."


"Tapi ... Bagaimana bisa seorang nenek ..."


"Sore tadi aku meninjau lokasi pembebasan lahan yang masih menyisakan beberapa pedagang yang belum sempat meninggalkan lokasi. Salah satu dari pedagang tersebut adalah seorang nenek penjual mainan grosiran, yang ternyata nenek itu juga menjual begitu banyak harmonika dengan berbagai macam warna ..."


Naysila tertegun mendengar penjelasan Raja yang panjang-lebar.


"Lalu bagaimana bisa nenek itu memberikan harmonika ini untuk Tuan?" tanya Naysila yang merasa benar-benar penasaran, karena setahunya selama ini, Raja selalu enggan menerima bentuk pemberian apapun itu, apalagi dari orang asing yang tidak ia kenal sebelumnya, sehingga kenyataan tentang hal ini cukup mengejutkan Naysila.


Lagipula tadi Raja mengatakan bahwa nenek itu adalah seorang penjual mainan grosiran yang kebetulan juga menjual harmonika.


Yang benar saja ...!


Penjual mainan grosiran ...?


Bagaimana bisa Raja mau menerima begitu saja, barang yang berasal dari pinggiran jalan, bahkan membawanya masuk kedalam kamarnya yang super steril?


"Anggap saja ini sebagai ganti harmonika yang kemarin. Oh ya, kamu sudah membuang harmonika jelek itu kan ...?" tandas Raja lagi seolah ingin kembali memastikan nasib harmonika berwarna merah menyala milik Naysila yang sempat ia dengar alunan merdunya.


"Harmonika itu ... Aku ... Aku sudah membuangnya sesuai perintah, Tuan."


"Baiklah, Tuan, terima kasih, Tuan baik sekali."


Untuk sesaat keheningan pun bertahta diantara mereka, dengan tatapan tajam Raja yang menghujam penuh ke sosok Naysila yang terus menunduk takjim.


"Kenapa aku malah merasa ... Kamu tidak terlalu senang menerima harmonika itu yah?" ucap Raja membuka suara, setelah terdiam beberapa jenak.


Naysila terhenyak mendengar tuduhan tersebut. "Tidak, itu tidak benar, Tuan. Kata siapa aku tidak senang ...?"


"Wajahmu kurang berseri." tuding Raja spontan.


"Apa?" lagi-lagi Naysila terhenyak dengan penilaian sepihak Raja yang seenaknya, namun sesungguhnya benar adanya.


Mengenai Naysila yang tidak terlalu senang, lalu harus bagaimana?


Apakah dia harus berjingkrak-jingkrak heboh karena pemberian pria itu?


Bahkan jika Raja memberikan dirinya satu lusin harmonika sekalipun, semua itu tidak serta-merta bisa merubah perasaan dongkol Naysila kepada sosok Raja dengan begitu mudah.

__ADS_1


Pria itu terlalu sering mempermainkan dirinya, juga gemar merendahkannya. Rasanya wajar saja jika Naysila memang tidak terlalu senang, dan itu sama sekali bukan dikarenakan dirinya tidak mampu menghargai harmonika pemberian Raja untuknya, melainkan karena Naysila masih terbawa arus perasaan kesal atas ulah Raja yang terus-menerus meremehkan keberadaannya.


Akh, sudahlah ...


Toh apapun yang Naysila rasakan, dirinya tetap tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan dominasi Raja. Untuk itulah meskipun merasa kesal, pada akhirnya Naysila harus tetap menyunggingkan senyuman.


"Tuan, bagaimana mungkin aku tidak senang atas pemberian dari Tuan?" nada suara Naysila terucap lembut.


Raja yang mendengarnya menajamkan pandangan, seolah sedang menyangsikan kalimat mendayu yang baru saja menyapa telinganya.


"Sungguh, Tuan, aku sangat senang sekali, menerima hadiah ini ..."


"Cih, kata siapa itu hadiah dariku? Sudah jelas bukan aku yang memberi." imbuh Raja acuh sambil membuang muka, gengsi mengakui bahwa harmonika itu semata-mata merupakan pemberiannya.


Naysila tersenyum, dan karena ia tahu persis bagaimana sifat Raja, maka kali ini diam-diam ia hendak memberikan sedikit pelajaran.


"Baiklah, kalau bukan kepada Tuan, lalu aku harus mengucapkan terima kasih kepada siapa?" lirih Naysila sengaja menabur umpan.


"Katakan saja langsung kepada nenek tua itu. Kenapa harus mengatakannya kepadaku ...?" jawab Raja dengan lugas, tanpa sadar termakan umpan mentah-mentah.


"Baiklah ... Kalau begitu sepertinya aku harus menemui nenek tua itu."


"Apa maksudmu?"


"Bukankah tadi kata Tuan, aku harus menghaturkan rasa terima kasihku secara langsung ...?"


"Iya, aku memang mengatakannya, tapi semua itu bukan berarti ..."


"Tuan, aku mohon ijinkan aku untuk bertemu dengan orang yang telah memberikan harmonika ini untukku."


Raja terdiam, dalam hati Raja sama sekali tak menyangka jika Naysila justru meminta bertemu langsung dengan si nenek penjual mainan grosir dan harmonika itu.


Demi apa, sesungguhnya permintaan sederhana Naysila tidak pernah ingin dikabulkan oleh Raja. Namun karena sejak awal Raja telah begitu ceroboh sehingga masuk kedalam perangkap yang ia buat sendiri, maka pada akhirnya Raja harus konsisten dengan apa yang sudah dirinya ucapkan.


"Tuan, aku ingin menemui nenek yang baik hati itu secepatnya seperti saran Tuan. Bolehkah besok aku pergi menemuinya?"


Raja membuang muka, ingin menolak tapi tak kuasa, ingin menggeleng namun kadung terperangkap.


Hembusan napas Raja terdengar berat, sebelum akhirnya memutuskan sesuatu yang sesungguhnya berat untuk ia luluskan.


"Besok aku harus menghadiri meeting penting. Mungkin lusa ... Aku baru bisa mengantarmu untuk bertemu langsung dengan nenek itu ..."

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih, Tuan Raja ... Terima kasih ..." angguk Naysila penuh suka cita, karena atas keputusan tersebut, senyum Naysila pun ikut mengembang indah ...


Bersambung ...


__ADS_2