MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
KUE KESUKAAN


__ADS_3

Ctek.


Bunyi khas saklar yang diiringi suasana seisi ruangan yang telah menjadi terang-benderang membuat Raja terjingkat hebat.


"Astaga, Utari ... Kamu ingin membuatku mati berdiri yah ...?" Reza terlihat mengusap dadanya berkali-kali, jelas terpancar bahwa pria itu benar-benar kaget setengah mati.


Tak ada sahutan, karena lewat seraut wajahnya yang datar, Reza bahkan tidak bisa memastikan apa yang sedang bercokol dalam benak Utari, yang sejauh ini begitu sulit Reza selami.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Reza dengan sepasang alis bertaut, sambil menaruh kunci mobil keatas meja kecil yang ada disudut ruangan.


"Jadi setiap malam, kamu selalu pulang selarut ini?" tanya Utari dengan nada suara yang sumbang.


Reza terlihat berpikir sejenak. "Tidak juga. Akhir-akhir ini aku memang banyak pekerjaan, tapi sepertinya aku tidak pernah pulang se-larut ini. Kalau untuk hari ini terus terang saat aku kembali kekantor usai mengunjungi lokasi proyek yang ada dipinggiran kota, saking capeknya aku malah ketiduran di kursi ..." jawab Reza, polos.


Reza memang berkata yang sebenarnya. Bahwa usai meninjau langsung lokasi proyek Reza memang kembali ke kantor saat hari mulai menjelang malam.


Niat awalnya ingin meneruskan pekerjaannya yang mencakup sebuah laporan perencanaan atas proyek baru milik Raja yang lokasinya ada diluar kota, tapi saking capeknya Reza malah ketiduran, dan kebablasan sampai tengah malam.


Reza yang terbangun dengan perut keroncongan memilih singgah sebentar di abang penjual nasi goreng yang sering mangkal didepan kompleks perumahan mereka, sebelum benar-benar meluncur pulang ke rumah.


Gerobak milik abang penjual nasi goreng itu memang bisa dibilang merupakan salah satu tempat makan favorite Reza dimalam hari, mengingat kebiasaan istrinya Utari, yang sehari-harinya sangat jarang memasak.


"Kenapa belum tidur?" tanya Reza, menyadari Utari yang sejak tadi diam saja sambil menatapnya dengan wajah yang sulit dilukiskan.


Tak ada jawaban.


Sepasang alis Reza kembali bertaut mendapati kediaman Utari.


"Utari, ada apa? Apakah terjadi sesuatu ...?"


Lagi-lagi tak ada sahutan, membuat otak Reza mulai berkelana mengingat-ingat sesuatu yang sekiranya bisa menjadi alasan atas sikap dingin Utari saat ini.


"Kamu ... Bertengkar dengan ibu?" tanya Reza begitu teringat pembicaraannya dengan Ibu sore tadi via telepon, yang mengatakan bahwa beliau akan mengajak Utari untuk mengunjungi Raja yang baru saja siuman.


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu marah ...?"


"Aku tidak sedang marah."


Reza menyentuh tengkuknya sejenak, semakin dibuat bingung dengan tindak-tanduk Utari yang terkesan absurd.


"Aku sengaja menunggumu hanya untuk memberikan itu."


Kepala Reza sontak menoleh kearah dagu Utari yang mengarah keatas meja, di mana sebuah kotak kue tergeletak di sana.


"Apa itu?" tanya Reza penasaran.

__ADS_1


"Kue bolu kesukaanmu."


Reza menatap Utari lagi, semakin bingung.


Perasaan hari ini tidak ada sesuatu yang spesial dalam hidupnya, bahkan ulang tahunnya saja sudah jauh terlewat.


Lalu ada apa gerangan?


Kenapa tiba-tiba Utari bisa memberikan kue kesukaannya tanpa moment apa-apa ...?


Bahkan kalau mau jujur, di hari ulang tahunnya saja Reza tidak pernah benar-benar dihadiahkan sebuah kue ulang tahun oleh istrinya itu, dan justru ibu-lah yang selalu menyiapkan setiap kejutan kue ulang tahun untuknya dari tahun ke tahun.


"Terima kasih ya, tumben kamu membelikan aku kue ..."


"Bukan aku." pungkas Utari.


Wajah Reza sontak merona malu saat dirinya kembali menoleh kearah wanita yang masih berdiri kaku ditempatnya, kali ini sambil melipat kedua lengan diatas dadanya yang membusung.


"He ... He ... He ... Aku pikir kuie ini dari dirimu ..." ujar Reza dengan luwes, mencoba menepis perasaan rikuh karena tadi sempat ge-er duluan.


'Reza ... Reza ... Bisa-bisanya dirimu berpikir Utari akan membelikanmu sesuatu ... Mustahil, Bro ... Mustahil ...'


Reza tertawa dalam hati, menyadari bathinnya yang sedang mengejek dirinya sendiri.


Detik berikutnya Reza menunduk guna meraih kotak kue bolu yang tergolek lesu di atas meja.


"Kue ini pasti dari Ibu. Baiklah, karena malam ini aku masih kenyang, jadi sebaiknya aku akan menaruh kuenya dulu di meja makan. Lumayan besok pagi bisa buat teman ngopi ..."


Langkah Reza yang hendak menuju ruang makan kembali terhenti.


"Bukan ibu?" ulang Reza keheranan sambil kembali mengawasi sosok Utari.


"Itu dari Naysila." ungkap Utari, singkat.


Reza bahkan mengira telinganya telah salah mendengar. "Naysila ...?" ulang Reza ragu.


"Iya, kue bolu itu dari Naysila ..."


Reza terdiam, sepasang matanya kembali mengawasi kotak kue yang kini berada ditangannya.


'Benarkah kue ini dari Naysila ...?'


Ingatan Reza sontak melayang pada sebuah pembicaraan sambil lalu pada dua hari yang lalu.


"Silahkan di cicipi Tuan ... Nyonya ..."


Itu adalah kalimat Nenek Ainun saat mempersilahkan kedua tamu agung yang telah sudi menyambangi lapak kecilnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nek ..."


Ucapan terima kasih dari Reza dan Naysila pun terucap nyaris bersamaan.


Sepiring kue bolu yang nampak tersaji di meja kecil guna menemani dua gelas teh hangat yang disuguhkan Nenek Ainun telah mengusik perhatian Reza dalam sekejap.


"Wah, ini adalah kue kesukaanku, Nek ..." ucap Reza spontan.


Naysila yang saat itu sedang menyeruput teh hangat sontak melirik ke arah Reza.


"Aku pikir kue kesukaanmu adalah nastar ..."


Reza menggeleng sambil tersenyum. "Utari sangat pandai membuat nastar, tapi sayangnya aku tidak terlalu menyukainya ..."


"Benarkah?"


Reza yang seolah tersadar akan sesuatu, kala itu langsung buru-buru meralat ucapannya yang terlanjur terucap. "Maksudku, aku juga menyukai nastar buatan Utari, tapi aku juga sangat suka kue bolu ..."


"Ohh ..."


Tanggapan Naysila selanjutnya terdengar begitu singkat.


Kemudian setelah pembicaraan basa-basi tersebut, wanita itu tidak bertanya apa-apa lagi, melainkan hanya sibuk berbincang ringan dengan Nenek Ainun.


'Tak kusangka Naysila mengingat pembicaraan itu ...'


Reza berucap dalam hati.


"Apakah saat ini kamu sedang memikirkan Naysila?"


Pertanyaan Utari yang to the point terdengar sangat mengejutkan Reza.


"Apa?" Reza terhenyak mendapati wajah Utari yang tersenyum datar.


Kepala Reza refleks menggeleng meskipun sesungguhnya kalau mau jujur Reza memang sedang memikirkan sosok Naysila.


"Tidak. Awalnya aku benar-benar berpikir bahwa kue itu dari ibu ..." imbuh Reza seadanya.


"Luar biasa, ternyata istri adikmu itu sangat baik dan perhatian juga kepadamu. Terbukti dia bahkan tau persis apa-apa saja yang menjadi kesukaanmu ..."


"Naysila memang sosok yang baik ..."


Mendengar ungkapan tersebut membuat tatapan Utari menghujam lurus ke manik mata Reza yang juga sedang menatapnya.


"Karena kalau tidak, bagaimana mungkin seorang Raja Adiguna bisa jatuh hati kepadanya ..."


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Hai ... Hai ... Dalam waktu dekat MENIKAHI PERAWAT LANSIA akan Tamat loh ... 😍


Selalu Like and supportnya karya ini yah ... 🙏


__ADS_2