MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
MENUNTUT HADIAH


__ADS_3

"Mana hadiahku?"


Naysila yang terkejut sontak melotot kecil kearah pria dihadapannya yang malah mengulas senyum jumawa.


Baru saja Naysila keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut bathrobe, tapi belum apa-apa Raja sudah menghadang langkahnya dengan sebuah pertanyaan yang sudah tak terhitung lagi, entah sudah kali ke berapa Raja melontarkan pertanyaan yang sama sejak kepulangan pria itu kira-kira setengah jam yang lalu.


"Kan sudah aku bilang sejak awal, nanti setelah makan malam aku akan memberikannya ..." pungkas Naysila yang memilih berjalan mengitari setengah tubuh Raja yang telah menjadi penghalang langkahnya saat hendak menuju wadrobe.


"Tapi aku mau sekarang ..."


Lagi-lagi langkah Naysila yang hendak menuju wadrobe kembali terhalang oleh tubuh tinggi tegap Raja, yang seolah tak pernah lelah untuk terus menguntit langkah Naysila kemanapun Naysila melangkahkan kakinya.


Tanpa mengindahkan kalimat Raja, Naysila kembali berjalan mengitari setengah tubuh penghalang tampan itu, menuju wadrobe miliknya, membukanya, kemudian langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah terusan selutut berwarna putih tulang, dengan sebuah pita kecil di bagian pinggang.


"Kenapa harus menunggu malam sih? Kenapa tidak sekarang saja?"


Kalimat bermuatan ketidaksabaran tingkat tinggi milik Raja yang kembali terdengar dari balik punggungnya, sanggup membuat Naysila tertawa kecil.


Sebaliknya, mendengar Naysila yang menertawakan rasa penasarannya yang membumbung, telah membuat kesabaran Raja semakin tergerus.


Saat ini Raja memang sedang dilanda rasa penasaran tingkat dewa, oleh karena pernyataan Naysila sebelum ia berangkat ke kantor pagi tadi, yang pada akhirnya membuat Raja terus merasa dag dig dug sepanjang hari, sibuk menerka-nerka kira-kira apakah gerangan hadiah yang hendak dipersembahkan Naysila untuknya.


"Naysila ... Hadiahmu itu memang dari dirimu. Tapi karena itu diperuntukkan untukku, maka itu artinya hadiah itu adalah milikku." ucap Raja yang seolah belum rela menyerah.


Naysila memutar kedua bola matanya dengan kedua bahunya yang ikut terangkat mendapati ucapan protes Raja yang pantang mundur.


Sambil mendekap terusan putih tulang kedadanya, Naysila memilih melenggang acuh, hendak berbalik kembali kearah kamar mandi untuk berganti pakaian di sana, tak sedikitpun wanita itu berniat menggubris segala bentuk rengekan Raja yang terkesan tak sabaran.


"Naysila, astaga ... Kenapa kamu malah mengacuhkan aku? Masa kamu tidak iba sama sekali melihatku yang sudah memohon seperti ini ...?"

__ADS_1


"Aku kan sudah mengatakannya bahwa aku akan memberikannya nanti ..." elak Naysila, bersikukuh.


"Nanti itu kapan, Nay ..."


"Setelah makan malam."


"Kenapa lama sekali?" protes Raja yang otomatis tak terima.


"Bersabarlah ..." singkat Naysila yang kembali meneruskan langkahnya yang tertunda, dengan acuh tubuh mungilnya melewati Raja yang berdiri tegak dengan wajah terlipat.


"Nay ..."


Lagi-lagi tubuh tinggi tegap milik Raja kembali menjadi penghalang langkah Naysila, kali ini Raja benar-benar berdiri bak sebuah palang pintu yang menutup keseluruhan jalan masuk kearah kamar mandi.


"Minggir, aku mau berganti pakaian dulu ..." sungut Naysila sembari melotot kecil menyaksikan ulah nekad Raja.


Sepasang bola mata indah milik Naysila semakin membulat mendengar ucapan nyeleneh Raja yang beruntun.


'Pria ini sudah gila yah? Masa iya aku harus berganti pakaian dikamar ini ...?'


"Naysila ... Kenapa kamu selalu menutup diri seperti ini? Kamu selalu menganggapku bak orang asing, padahal kamu kan sudah berjanji untuk ..."


"Untuk berusaha dengan sabar dan perlahan ..."


Pungkas Naysila kalem, sebelum akhirnya kembali berucap dengan nada yang lirih.


"Raja, percayalah ... Sejak saat itu aku benar-benar terus berusaha dan mencoba. Tapi ... Entah kenapa ..."


Mengambang.

__ADS_1


Jujur, Naysila bahkan masih bingung dalam menjabarkan perasaannya sendiri perihal menerima tawaran Raja untuk saling terbuka dan menerima satu sama lain.


Rasanya seperti ada sebuah tembok besar, yang menghalangi kepercayaan Naysila agar bisa mempercayai pria itu seutuhnya.


Raja tertunduk dalam menerima sanggahan Naysila yang terucap dengan tutur kata yang teramat sangat lembut, namun tak sampai akhir.


Sungguh, bukannya Raja tidak mempercayai Naysila, hanya saja Raja memang tidak punya banyak stock kesabaran untuk menunggu pintu hati Naysila benar-benar terbuka dan bisa menerima kehadirannya.


'Lagipula sudah dua bulan berlalu sejak pembicaraan di malam itu. Kenapa dia tidak bisa menyukaiku lebih cepat? Memangnya aku ini seburuk apa sehingga begitu sulit untuk disukai ...?'


Raja membathin masygul.


Ingin marah, tapi tak bisa. Yang ada Raja justru sangat menyesal, kenapa sejak awal tidak mencoba mengambil hati Naysila dengan baik, malah dirinya kerap kali menyiksa dan mempermainkan wanita itu di setiap kesempatan.


'Jangan-jangan dia trauma ...'


Bathin Raja kembali mereka-reka, gundah gulana.


"Maaf ..."


Kepala Raja sontak menggeleng menerima lirih ucapan maaf yang terucap dari bibir mungil Naysila.


"Tidak ... Tidak ... Jangan meminta maaf. Aku yang salah, dan aku juga yang tidak sabar ..."


Naysila terdiam kelu. Diam-diam sepasang matanya menguliti sosok Raja yang kini terpekur dihadapannya.


"Baiklah, tidak perlu ke kamar mandi. Berganti pakaianlah dengan tenang di sini, karena aku akan keluar sekarang dan menunggumu di meja makan ..." lirih Raja sambil beringsut dari hadapan Naysila begitu saja, sebelum akhirnya pria itu benar-benar beranjak keluar dari kamar mereka yang maha luas ...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2