MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
MENGACUHKAN


__ADS_3

"Apa ...?! Jadi aku sudah pingsan selama dua hari dua malam ...?!"


Raja terhenyak, masih dalam posisi terduduk diatas ranjang begitu mendengar penjelasan Naysila tentang kondisi dirinya yang sebenarnya.


"Mungkin lebih tepatnya bukan pingsan sih ..."


"Apa maksudmu bukan pingsan?"


"Maksudku ... Pada awalnya kamu memang pingsan, tapi setelah itu dokter Ryan memutuskan untuk menyuntikkan obat penenang agar kamu tertidur sehingga kamu tidak akan merasa tersiksa saat tubuhmu sedang bereaksi, yah ... Setidaknya sampai obatnya benar-benar bekerja dan tubuhmu normal kembali ..."


Raja terdiam menerima penjelasan Naysila yang panjang lebar.


Ternyata kejadian di Rumah Sakit Medika itu bukan hanya halusinasi, melainkan kenyataan yang sebenarnya.


Usai mendatangi kawasan pasar yang baru saja direlokasi, rupanya Naysila benar-benar merasa pusing sehingga Reza berinisiatif membawa Naysila ke Rumah Sakit, yang kemudian ia telah memergoki bahwa di lobby Rumah Sakit itu juga Reza yang kala itu terlihat hendak membopong tubuh lemah Naysila telah ia terjang tanpa ampun.


Suara mengaduh Reza saat membentur sisi mobil memang terdengar kesakitan, namun entah kenapa Raja bisa lupa, bahwa menyentuh Reza dengan tangan telanjang sebaliknya juga bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri.


Kemudian dampak dari kepanikan Raja atas kondisi kesehatan Naysila membuat Raja tidak lagi menjaga jarak dengan sekitar, dengan orang yang kebetulan berlalu-lalang, begitupun juga dengan barisan perawat yang sedang mendorong brankar pasien yang membawa tubuh Naysila menyusuri sepanjang koridor Rumah Sakit Medika.


Ingatan Raja pun berhenti di sana, tepat di saat Raja baru saja menyadari bahwa keteledorannya telah berakibat fatal, manakala tubuhnya semakin bereaksi tanpa tercegah.


Rasa gatal dan panas yang mendera, ditambah lagi dengan debaran jantung yang memacu keras, sesaknya jalan pernapasan, dan berbagai perasaan tak menyenangkan yang menyerang silih berganti rupanya telah membuat tubuh Raja menyerah.


Raja melirik kembali punggung tangannya yang masih saja diusap lembut.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Raja perlahan, seraya mendongak kearah Naysila.


"Aku? Memangnya ada apa denganku?"


"Kamu lupa kalau dua hari yang lalu karena kamu sakit maka Reza sampai membawamu ke Rumah Sakit ...?"


"Oh itu ..."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Reza juga yang menjadi penyebabnya ...?" tukas Raja.


Naysila menggeleng tegas, seolah ingin segera menepis prasangka buruk yang ada diotak Raja terhadap kakak tirinya.


"Tidak sama sekali. Reza justru memperlakukan aku dengan sangat baik."


Mendengar pujian Naysila untuk Reza tak ayal Raja langsung mendengus kesal, sampai-sampai kesenangannya menikmati usapan lembut jemari Naysila harus ia akhiri dengan menarik punggung tangannya serentak, saking telinganya tak rela jika dirinya harus mendengar mulut Naysila memuji Reza dengan begitu mudah.

__ADS_1


"Seistimewa itu kamu memuji Reza. Jangan-jangan kamu suka padanya!" cibir Raja yang tak bisa menyembunyikan kejengkelannya.


Naysila sontak melotot kecil. "Enak saja menuduhku seperti itu. Kapan aku mengatakan bahwa aku menyukai Reza...? Aku kan hanya bilang bahwa Reza telah bersikap baik, dan itu bukan berarti aku suka padanya ..."


"Sekarang saja sangat kelihatan kalau kamu sangat mengaguminya. Wajar saja kalau aku curiga ...!"


Melihat pemandangan wajah keruh Raja, kali ini Naysila hanya mengulum senyuman.


Saat Raja bertindak seperti ini, apakah pria itu sedang cemburu?


Entahlah ...


Naysila tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, karena hanya dengan mengetahui bahwa saat dirinya terbaring lemah Raja telah begitu peduli padanya, semua itu sudah cukup sebagai alasan yang membuat Naysila sadar bahwa pria dihadapannya sekarang tidak seburuk yang ada digambaran benaknya selama ini.


Mungkin bukan karena cinta, karena sepertinya hal itu teramat sangat mustahil bagi seorang Raja untuk menyukai wanita tanpa kelebihan seperti dirinya.


Tapi sikap Raja yang begitu peduli sehingga mampu mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, telah membuat Naysila sangat terharu.


Setelah semua kenyataan tersebut, Naysila sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk memperlakukan Raja dengan lebih baik lagi kedepannya, tak peduli se-menyebalkan apapun ulah Raja nantinya.


Kali ini Naysila benar-benar bertekad untuk mematuhi semua perjanjian tertulis yang sejak awal disodorkan Raja untuknya agar dipatuhi.


Yah, setidaknya sampai waktu perjanjian mereka selesai dikemudian hari, dan Raja benar-benar bisa mendapatkan hak penuhnya sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis milik keluarga Adiguna.


Sementara kalau bicara persoalan tentang syarat yang diajukan mendiang Rafly Adiguna, bahwa demi mendapatkan hak penuh Raja masih harus menikahinya dan melewati satu tahun kedepan dalam sebuah biduk rumah tangga ... Sesungguhnya Naysila sendiri juga belum menemukan alasan yang tepat kenapa almarhum Rafly Adiguna melakukan semua itu.


Bisa jadi almarhum ingin ada seseorang yang bisa merawat cucunya dengan baik sepeninggal dirinya, karena sudah terbukti bahwa selain Rafly Adiguna, hanya Naysila seorang yang aman berdekatan serta bersentuhan dengan Raja.


Jujur saja, kendatipun alasannya seperti itu, seharusnya Rafly Adiguna tidak perlu memberikan syarat aneh agar mereka diharuskan menikah.


Pada dasarnya Naysila juga bersedia jika harus menjadi perawat seperti pekerjaannya selama ini tanpa harus menjadi istri Raja terlebih dahulu.


"Mengenai dirimu, apa kata dokter?" pertanyaan Raja sanggup menerbangkan segenap lamunan Naysila yang melanglang buana tak tentu arah.


"Hanya kelelahan saja."


"Memangnya kamu melakukan pekerjaan berat apa, sehingga dokter mengatakan dirimu kelelahan ...?"


"Justru karena aku tidak pernah lagi melakukan apa-apa makanya aku mudah lelah ..."


Kemudian Naysila melirik Raja lewat ekor matanya.

__ADS_1


"Selama tiga bulan terakhir, aku nyaris tidak memiliki kesibukan. Aku bahkan tidak pernah kemana-mana bahkan tubuhku nyaris tidak pernah terkena sinar matahari pagi. Ternyata semua itulah yang menyebabkan fisikku melemah saat harus memulai kembali aktifitas diluar rumah ..."


Raja terdiam mendengar penuturan Naysila.


Seolah baru terbangun dari tidur yang panjang, Raja seolah baru tersadar bahwa yang dikatakan Naysila tak ada satupun yang keliru.


Selama tiga bulan terakhir, sebegitu ketatnya standar yang diterapkan Raja atas diri Naysila, telah membuat Raja lupa bahwa sejak Naysila resmi menjadi penghuni kamarnya, keseharian Naysila selama satu kali dua puluh empat jam tidak pernah lagi keluar dari lantai tiga rumah megah milik Raja.


'Apakah selama ini aku telah bertindak kejam dan semena-mena ...?'


Raja membathin, gamang.


Tok ... Tok ... Tok ...


Bunyi pintu yang diketuk dari luar kembali mengurai keheningan yang bertahta diantara mereka.


"Sepertinya sarapan paginya sudah datang. Tunggu sebentar, aku akan membuka pintunya dulu ..."


Raja tak menampik saat Naysila bergegas bangkit dan menuju kearah pintu.


Benar saja, begitu pintu terbuka seorang maid nampak berdiri di sana dengan sebuah rolling table berisikan menu sarapan yang dimaksud Naysila barusan.


Naysila mengambil alih rolling table tersebut dan membawanya masuk.


"Terima kasih." ucap Naysila kepada sang maid, sebelum akhirnya ia kembali menutup pintu.


Dengan gerak perlahan, Raja pun beringsut turun dari ranjangnya, berniat hendak membersihkan dirinya terlebih dahulu di kamar mandi sebelum ia menikmati sarapan.


Melihat Raja yang bangkit dari ranjang, Naysila langsung menghentikan rolling table yang dibawanya, kemudian buru-buru mendekati Raja.


"Tidak perlu ..." Raja menepis Naysila yang hendak menggapainya. "Biar aku sendiri saja."


"Tapi ..."


Mengambang.


Naysila memilih bungkam manakala Raja telah menolak bantuannya sekaligus mengacuhkannya.


Langkah pria itu kini terayun pelan, menuju kearah kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Jangan lupa Like dan supportnya yah 🙏


__ADS_2