MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
DARI AWAL


__ADS_3

"Jadi kamu akan pergi?" Utari terlihat menatap Reza dengan tatapan dingin.


"Iya. Raja hanya memberikan aku waktu kurang dari seminggu untuk mempersiapkan segalanya."


Merah padam seluruh permukaan wajah Utari mendengar kalimat Reza yang terucap tanpa beban, dan hal itu membuat Reza menjadi sedikit terhenyak dibuatnya.


"Ada apa, Tari?" tanya Reza bingung mendapati wanita itu yang tak kunjung mengucap sepatah kata, meskipun dari wajahnya seolah menyimpan amarah.


"Begitu mudahnya kamu memutuskan untuk menerima pekerjaan itu tanpa perlu mendiskusikannya terlebih dahulu denganku ..."


"Utari, aku pikir kamu pasti akan ..."


"Reza, kamu anggap apa aku selama ini, hah?!"


Seolah tak bisa lagi memendam besarnya luapan perasaan amarah yang bercampur kecewa, Utari bahkan bangkit dari duduknya seraya mengucapkan kalimat tersebut dengan nada keras, nyaris berteriak.


Reza yang mendapati tanggapan luar biasa Utari yang tak lagi lempeng seperti biasanya tentu saja terkejut setengah mati.


Seumur hidup Reza mengenal Utari, wanita yang ada dihadapannya ini merupakan sosok yang cukup dingin juga datar.


Ibarat air tenang disebuah kolam ... Sejauh ini Utari bahkan tidak pernah memperlihatkan luapan emosinya dengan sebenar-benarnya. Jadi wajar saja kalau Reza sangat tak menyangka jika wanita acuh tak acuh itu bisa berteriak tepat didepan hidungnya!


"U-Utari ... Kamu ini kenapa? Kenapa kamu marah tanpa sebab ..."


"Apa katamu? Aku marah tanpa sebab?"


Lagi-lagi Reza terhenyak mendapati emosi Utari yang meluap-luap.


"Aku yang harusnya bertanya kenapa. Kenapa aku selalu diperlakukan seperti orang lain. Apakah aku benar-benar tidak ada harganya sama sekali dimatamu?! Begitukah arti diriku selama ini ...?!"


"Astaga Utari, mari duduk ... Duduklah dulu ..."


"Tidak!!!"


Utari menepis kasar kedua tangan Reza yang hendak menggapai guna menenangkannya.


Sudah cukup.


Yah, Utari merasa semuanya sudah cukup.


Bertahun-tahun sudah ia menjalani biduk rumah tangga dengan Reza, pria dihadapannya ini, dan Utari merasa tak pernah sedikitpun dirinya mengeluh.


Bersama Reza, Utari bahkan tak pernah menyesal pernah mengalami kehidupan yang sulit. Utari juga tak pernah mengeluh meskipun Reza tidak bisa memenuhi segala keinginannya layaknya sebagian besar yang wanita lain inginkan.


Bersama Reza, Utari juga sudah berusaha menerima garisan takdir kehidupannya.


Usai dicampakkan Raja tanpa penjelasan, Utari tak bisa mengelak keputusan kedua orang tuanya yang membawa dirinya pada ikatan perjodohan dengan Reza.


Utari paham keluarganya telah dipermalukan oleh seorang Rafly Adiguna, sehingga tanpa pikir panjang ayahnya langsung menerima tawaran perjodohan dari Prabu Adiguna untuk anak tirinya Reza Adiguna.


Pernikahan Utari dan Reza memanglah merupakan moment terbaik yang mampu mengembalikan sekian persen harga diri keluarga Suryaatmadja, yang telah hancur akibat penolakan mentah-mentah.

__ADS_1


Bisa jadi Utari dan Reza tidak pernah menjadi sepasang kekasih, juga tidak pernah saling kenal apalagi menjalin cinta.


Tapi setidaknya, sejauh ini Utari juga tidak pernah menepis status Reza sebagai suaminya.


Namun salahkah jika bak wanita lain, dirinya juga ingin merasakan bagaimana rasanya diterima, dicintai, juga diperjuangkan ...?


"Tari, ada apa denganmu? Apa yang membuatmu menjadi marah seperti ini ...?" Reza bertanya hati-hati, seolah tau persis bahwa Utari masih diliputi aura kemarahan.


"Semua ini karena dirimu."


Reza terperanjat. "Oh, astaga, bagaimana mungkin karena diriku ...?"


"Yah, karena dirimu. Karena kamu yang tidak pernah bisa menerima wanita yang penuh kekurangan seperti diriku."


"Tari, bukan seperti itu ..."


"Perjodohan kita, sama sekali bukanlah keinginanku. Lalu katakan padaku, apa salahku sehingga aku harus terjebak disini bersamamu?"


Kali ini Reza jelas terpekur. Lama dirinya terdiam, sambil berusaha mengatur laju napasnya yang sempat memburu.


"Bukan salahmu, tapi semata-mata kesalahanku. Kesalahanku karena tak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku, sampai-sampai aku lupa aku telah berbuat tidak adil kepadamu ..."


Sepasang alis Utari terangkat menerima kalimat yang tak pernah ia duga akan keluar dari mulut Reza.


"Jadi sekarang kamu menyesal?" ujar Utari seolah ingin meyakinkan.


"Menyesal?" Reza tertawa pahit. "Bukankah sangat terlambat untuk mengatakan menyesal?"


Lidah Utari terasa semakin kelu. Sudut hatinya terasa perih saat menangkap adanya luka dikedua bola mata Reza.


"Jadi yang kamu sebut menghadapi itu adalah melarikan diri keluar negeri dengan dalih pekerjaan ...?"


"Aku tidak lari." pungkas Reza, menyanggah kalimat Utari yang berapi-api, penuh berisikan sindiran.


"Kalau bukan lari, lalu apa namanya?!"


"Aku hanya ingin memberimu ruang ... Waktu ... Kesempatan ..."


"Tapi sayangnya, aku tidak butuh semua omong kosong itu!"


"Lalu kamu mau aku bagaimana? Menyerah begitu saja-kah ...?"


Utari tersenyum miris mendapati kepasrahan Reza. "Jadi pada akhirnya, ternyata kamu hanya ingin menyerah ... Bukan berjuang ..."


"Aku sudah melakukannya. Kata siapa aku tidak pernah berjuang? Utari, seandainya semua yang aku lakukan memiliki sedikit saja arti dimatamu ... Maka kamu tidak akan pernah bisa mengatakan semua hal itu kepadaku ..."


"Lalu kamu pikir aku tidak?" tantang Utari dengan berani. "Saat kamu jatuh ketitik nadir apakah aku pernah pergi ...?!"


"Memang kamu tidak pergi. Tapi apa bedanya jika kamu hanya berdiri diujung jalan sambil melihatku menyeka setiap titik peluh, darah, dan air mata ...?"


Utari terhenyak diam ditempatnya. Sebait kalimat Reza seolah menusuk telak di ulu hati ... Tepat di jantung!

__ADS_1


"Aku ... Aku ..."


"Tidak. Aku tidak pernah ingin membebanimu dengan apapun. Utari ketahuilah, saat aku dengan terpaksa mengajakmu menderita bersamaku ... Aku sungguh merasa bersalah. Aku adalah Reza Adiguna, tapi aku bukan Raja yang bisa memberikan kamu seisi dunia ini. Kamu boleh menyesal terjebak denganku dalam lingkaran ini, tapi percayalah ... Aku tak pernah sekalipun berniat membuat hidupmu nelangsa ..."


Tubuh Utari terhempas keatas kursi yang ada dibelakangnya, air matanya ikut luruh beriringan.


Melihat pemandangan itu rasa bersalah semakin memukul bathin Reza hingga bertalu-talu.


Sakit.


Hati Reza terasa sangat sakit hanya dengan melihat air mata Utari.


"Apakah selama ini, kehadiranku begitu menyusahkanmu ...? Apakah aku benar-benar sosok yang sangat tidak berguna seperti itu ...?"


Utari terisak sempurna, dengan kedua bahu yang turun naik tak beraturan, sementara tepat dihadapannya Reza hanya bisa mematung salah tingkah.


Ingin rasanya Reza mendekat, demi bisa merengkuh dan menenangkan wanita dihadapannya, namun entah kenapa langkahnya terasa begitu berat, seolah terpatri kuat di bumi.


"Pergilah ... Pergilah kalau kamu benar-benar ingin pergi. Siapa aku sehingga bisa menahan langkahmu ...? Bukankah aku hanya seorang wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, yang bahkan untuk menyeka setiap titik peluh, darah, dan air mata suaminya sendiri aku tidak becus ...?"


Untuk yang kesekian kalinya, mungkin inilah saat dimana Reza benar-benar terhenyak oleh kalimat bercampur tangis, yang meluncur dari bibir Utari yang bergetar lirih.


Entahlah ...


Reza bahkan takut salah menebaknya, tentang apa kira-kira maksud Utari mengucapkan semua kalimat barusan.


Tapi manakala Reza tersadar bahwa masih lebih baik dirinya berusaha sekali lagi, daripada harus tunduk mengalah dihadapan rasa gengsi dan rendah diri yang selalu membelenggunya selama ini, maka dengan kebulatan hati Reza pun memantapkan tekadnya saat memilih mengayun langkah untuk mendekati wanita yang masih setia terisak itu.


"Utari ..." panggil Reza lembut.


Sembari menundukkan tubuhnya, Reza berjongkok dihadapan Utari, tepat dikedua lutut yang ternyata ikut bergetar lirih.


"Jangan pedulikan aku. Siapa aku sampai-sampai harus menahan laju karirmu ..."


"Utari ..."


"Pergilah. Bukankah itu yang menjadi keinginanmu? Kamu ingin lepas dari wanita tidak berguna yang bahkan tidak tau caranya menjadi sosok yang menyenangkan hati ..."


"Ikutlah denganku."


Deg.


Jantung Utari seolah terpukul dengan kuat.


Wanita itu terperangah mendapati tawaran yang tercetus tiba-tiba, sehingga ia bahkan sangsi dengan pendengarannya sendiri.


Diatas pangkuan Utari, dengan kedua tangannya Reza menggenggam dua jemari Utari sekaligus, meremasnya lembut dengan penuh rasa.


"Seandainya kamu memiliki keinginan yang sama denganku untuk memperbaiki semuanya ... Maukah kamu mencobanya sekali lagi dengan perlahan ...?"


Wajah Utari kini telah dibanjiri air mata, namun oleh Reza wajah itu ia sentuh perlahan dengan sebelah tangannya, berusaha menghapus sebagian parit yang menghias diatas kedua pipi.

__ADS_1


"Utari, mari ikutlah denganku ke luar negeri, dan kita akan memulai semuanya di sana ... dari awal ..."


Bersambung ...


__ADS_2