
Raja baru saja hendak beranjak dari kursi kebesarannya, manakala Asisten Jo telah lebih dahulu masuk kedalam ruangan usai mengetuknya dengan tergesa.
"Ada apa Asisten Jo?" tanya Raja keheranan mendapati wajah Asisten Jo yang terlihat agak tegang.
"Tuan, barusan Tuan Reza menelepon ..."
"Katakan ada apa?" pungkas Raja lagi cepat, begitu mendengar nama Reza disebut.
Sepasang mata Raja langsung mengarah penuh menatap Asisten Jo dengan intens, karena tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak.
"Tuan Reza baru saja memberitahu bahwa Nyonya Naysila sepertinya tidak enak badan ..."
"Apaaa?!"
"Iya Tuan, kata Tuan Reza saat ini beliau sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Medika."
Raja terhenyak mendapati informasi tersebut.
"Kalau begitu kita harus ke Rumah Sakit Medika sekarang juga." titah Raja dengan raut wajah yang cemas.
"Baik, Tuan." jawab Asisten Jo dengan sigap.
Detik berikutnya beriringan keduanya meninggalkan ruangan Raja ... dengan langkah yang tergesa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang perjalanan, mobil yang dikendarai oleh sopir telah melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.
Hal tersebut dikarenakan Raja yang berkali-kali terus memerintahkan pria yang duduk dibelakang kemudi itu untuk menambah kecepatan.
Raja sendiri baru bisa tenang begitu mobil mereka mulai memasuki area Rumah Sakit Medika.
__ADS_1
"Sepertinya didepan itu mobil Nyonya Naysila, Tuan." ucap Asisten Jo yang duduk di depan tepat disebelah sang sopir, begitu menyadari bahwa plat mobil tipe SUV berwarna hitam yang hanya terpaut dua mobil dengan mobil mereka, merupakan salah satu dari sekian banyak koleksi mobil mewah yang ada di dalam garasi mobil yang tak kalah mewah milik Raja.
"Kamu benar Asisten Jo. Hentikan mobilnya, karena aku akan keluar sekarang ..." titah Raja yang tak sabar, begitu menyadari mobil yang tadinya ditumpangi Naysila telah berhenti tepat di lobby depan Rumah sakit, sementara mobil mereka masih harus mengantri dari dua mobil di depan, sebelum bisa mencapai lobby.
Mobil berhenti, dan Raja pun bergegas turun dari mobil tanpa berpikir dua kali.
Menyadari pergerakan Raja yang terburu-buru, dengan sigap Asisten Jo pun ikut turun dari mobil guna menyusul sang majikan.
Dari kejauhan telah nampak sosok Reza yang terlihat keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Hentikan ...!" pekik Raja, menyadari gerakan Reza yang hendak memapah tubuh lemah tak berdaya milik Naysila yang masih bersandar di jok mobil.
Reza yang terkejut setengah mati mendengar sebuah suara yang cukup dikenalnya itu pun urung membantu Naysila turun dari mobil.
Namun saat kepalanya baru saja hendak berpaling, Reza telah mendapati tubuhnya yang didorong keras hingga membentur sisi mobil dengan cukup keras.
"Beraninya kamu berniat menyentuh istriku!!" ekspresi wajah Raja terlihat geram, saat menuding pucuk hidung Reza yang kaget setengah mati atas respon Raja yang luar biasa.
"Tutup mulutmu!"
Reza menelan ludahnya kelu, sekaligus memilih menelan kembali kalimat penjelasan serta pembelaan diri yang awalnya hendak ia kemukakan, namun urung begitu dirinya menyadari percuma saja ia melakukan semua itu karena kini kemarahan Raja benar-benar sedang berada dititik kulminasi tertinggi.
"T-Tuan ... H-hentikan ..."
Raja menggeram marah menyadari panggilan 'Tuan' yang kembali terucap dari bibir Naysila, namun pada akhirnya kondisi lemah Naysila sanggup mengalihkan perhatian Raja yang sedang meradang.
"Nay ..."
Seolah tersadar, Raja bergegas mendekat, menyadari Naysila yang sedang berusaha turun dari mobil dengan gerakan lemah dan sempoyongan.
Dengan sigap Raja langsung mengambil alih tubuh mungil Naysila, hendak membawanya masuk kedalam Rumah Sakit guna mendapatkan perawatan medis sesegera mungkin.
__ADS_1
Namun baru beberapa langkah, sudah terlihat beberapa orang perawat dan seorang dokter datang tergopoh-gopoh, menyongsong Raja dengan sebuah brankar pasien.
"Tuan Raja, maafkan aku karena aku baru saja diberitahu tentang kondisi Nyonya Naysila ..."
Sangat terlihat raut penyesalan di wajah dokter Ryan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Adiguna.
"Tidak apa-apa, dokter, tapi tolong ... Sembuhkan Naysila secepatnya ..." ujar Raja dengan nada suaranya yang bergetar penuh permohonan, sambil menatap kepala Naysila yang terkulai lemah di dadanya.
"Baiklah Tuan, tapi sebelumnya, tolong letakkan dulu Nyonya Naysila keatas brankar pasien, biarkan para perawat yang akan membantu membawa Nyonya Naysila agar segera mendapatkan perawatan ..."
Dengan berat hati, pada akhirnya Raja pun akhirnya mau menaruh tubuh lemah Naysila keatas brankar pasien, namun langkahnya tetap terayun mengikuti arah brankar pasien tersebut.
"Maaf Tuan, tapi tolong perhatikan diri Tuan ..." Asisten Jo berucap tepat dibelakang Raja, seolah mengingatkan pria itu akan sebuah hal penting yang sepertinya telah terlupakan.
Mendengar peringatan Asisten Jo tersebut, Raja langsung terhenyak kaget seolah baru tersadar akan sesuatu.
Masih dengan langkah yang terayun cepat karena mengikuti gesitnya pergerakan brankar pasien dengan tubuh Naysila yang tergolek lemah diatasnya, refleks Raja mengangkat kedua tangannya yang polos tanpa sarung tangan yang biasanya tak pernah sekalipun ia tanggalkan jika bersinggungan dengan dunia luar.
Tepat di saat Raja menyadari keteledorannya dalam memproteksi dirinya sendiri, maka rasa panas bercampur gatal secara tiba-tiba mulai menyerang jari-jemarinya seiring dengan munculnya bercak-bercak merah bak tanda bekas gigitan nyamuk di beberapa bagian permukaan kulit tangan.
Tidak hanya sampai disitu saja, karena kemudian rasa yang sama mulai bermunculan di area tengkuk, wajah, bahkan sedikit demi sedikit mulai menggerogoti tubuh bagian dalam Raja.
"Sial ..."
Umpat Raja yang menyadari tubuhnya yang kembali bereaksi, setelah sekian lama ia tak lagi merasakan hal serupa saking disiplinnya Raja dalam menjaga dirinya sendiri.
Sayangnya kali ini kepanikan Raja atas kesehatan Naysila telah membuatnya lengah, sehingga Raja melupakan semua hal penting tersebut ... dengan begitu mudah ...
Bersambung ...
🧕 : Jangan lupa di support terus yah ... 🥰
__ADS_1