MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
PERMINTAAN IBU


__ADS_3

"Jika hanya karena permintaan itu Ibu mengundangku datang, maka dikemudian hari Ibu tidak perlu repot-repot seperti ini ..."


"Tidak, Raja ... Bukan begitu ..."


Dengan ekspresi kelabakan Dian Melinda dengan cepat menepis kalimat datar Raja dalam menanggapi apa yang baru saja ia utarakan.


Setelah makan malam Dian Melinda memang sengaja meminta waktu sebentar agar bisa bicara empat mata dengan Raja didalam ruang kerja almarhum Prabu suaminya, yang juga merupakan ayah Raja.


Tujuan utamanya sudah jelas, Dian Melinda menginginkan keterlibatan Reza dalam pengelolaan Adiguna Corporation yang saat ini telah dikuasai Raja sepenuhnya, begitu putranya itu bersedia menikahi Naysila sesuai keinginan mendiang Rafly Adiguna.


Setelah kepergian Prabu yang begitu mendadak, Dian melinda merasa tidak lagi punya harapan sebagai jaminan masa depan untuk Reza, mengingat betapa Reza dan dirinya tidak punya tempat sedikitpun dimata seorang Rafly Adiguna.


Dian Melinda sudah menunggu semua kesempatan ini cukup lama dan ingin mewujudkan misinya itu secepatnya, namun tak disangka Raja malah menyikapi permintaannya dengan kalimat remeh seperti barusan.


'Sumpah demi apapun, mengapa semakin hari, aku merasa semakin tidak bisa mengenali anakku sendiri ...'


'Semua sikap Raja ini sudah pasti diakibatkan doktrin keras si tua Rafly Adiguna yang sudah mampus itu!'


'Si al, bahkan setelah tua bangka itu mati, jangankan memenangkan hati Raja, berbeda halnya dengan Reza, aku bahkan merasa semakin hari Raja menjadi semakin menjauh dari jangkauanku ... Juga semakin tidak bisa aku kendalikan ...!'


Kekesalan dihati Dian Melinda datang bertubi-tubi, semakin berlipat ganda, manakala dengan entengnya lagi-lagi Raja mampu menepis dirinya dengan mudah.


Dian Melinda bahkan tidak tahu, selama bertahun-tahun entah racun mematikan apa yang sudah ditanamkan Rafly Adiguna untuk Raja, sehingga membuat putranya itu begitu gampang membantah sekaligus menyepelekan dirinya.


Dian Melinda yang duduk dengan jarak tak kurang dari dua meter, berantarakan meja kerja almarhum Prabu yang kali ini sedang diduduki oleh Raja, terlihat menatap putra bungsunya itu begitu dalam.


"Raja sayang, demi Tuhan, Nak, Ibu mengundangmu datang semata-mata karena kerinduan Ibu kepadamu. Entah kamu menyadarinya atau tidak ... Tapi semenjak Ayahmu meninggal, sepertinya kamu nyaris melupakan Ibu ..."

__ADS_1


"Itu tidak benar." tukas Raja cepat, yang mencerminkan rasa tak nyamannya atas kalimat Dian Melinda.


"Tapi ibu bisa merasakannya, kalau selama ini kamu sudah sedemikian jauh dari Ibu ..."


"Bukankah setiap kali Ibu menelpon, atau mengirimkan pesan, seingatku tidak pernah sekalipun aku mengabaikannya?"


"Iya, itu memang benar. Tapi Raja ..."


"Kalau pun aku sedang berada dalam kondisi di mana aku benar-benar tidak bisa menerima telepon atau membaca sekaligus membalas pesan Ibu, bukankah aku selalu melakukan feedback atas semua itu ...?"


"Iya Raja ... Iya ... Tapi ..."


"Aku juga selalu memenuhi semua kebutuhan Ibu setiap bulannya ..."


"Oh, astaga, Raja ... Kenapa kamu malah mengungkit hal itu? Kamu membuat ibu sedih ..." pungkas Dian Melinda seraya menyembunyikan rasa panik, menyadari bahwa Raja mulai membahas soal jatah bulanan dengan jumlah fantatis, yang rutin diterima olehnya setiap awal bulan selama beberapa tahun terakhir, tepat setelah kepergian Prabu.


"Raja, maafkan Ibu. Bukannya Ibu ingin menyakiti hatimu tapi tolong mengertilah bagaimana besarnya kerinduan Ibu kepadamu. Jangankan bisa memelukmu ... Ibu bahkan harus menjaga jarak sejauh ini, hanya agar bisa duduk dan bicara denganmu ... Putra Ibu sendiri ..."


Raja membuang wajahnya mendengar kalimat Dian Melinda.


Sesungguhnya sudah sejak lama, diam-diam Raja pun mulai membenci keadaan dirinya saat ini.


Dulu, saat Raja mulai mengalami keanehan oleh karena berinteraksi dengan orang lain, Raja justru bisa menikmati kesendiriannya.


Namun semuanya berubah manakala Raja mulai beranjak dewasa dan mulai memikul tanggung jawab Adiguna Corporation.


Disitulah awal mulanya Raja memahami, bahwa meskipun tubuhnya terlihat sangat sehat dan bugar, namun sesungguhnya dirinya benar-benar sakit. Tidak hanya secara fisik ... Tapi juga mental ...!

__ADS_1


Sayangnya saat Raja menyadari kekurangan besar yang ada pada dirinya semuanya sudah terlambat, karena saat ini, seluruh tubuh dan jiwanya seolah terlanjur tersugesti dengan baik, untuk mendeteksi siapapun yang berada didekatnya sebagai sebuah ancaman.


"Raja ... Bisa jadi dikarenakan faktor usia Ibu yang semakin menua, sehingga entah kenapa akhir-akhir ini Ibu selalu ingin bisa bertemu denganmu, begitupun dengan Reza, kemudian melewatkan banyak waktu bersama ..."


"Ibu kan tahu sendiri bahwa aku sangat sibuk. Pekerjaanku sangat banyak, dan aku juga harus menghandle semuanya ..." lirih Raja, kali ini nada suaranya seolah turun setengah oktaf dari sebelumnya.


Dian Melinda tahu bahwa Raja menyesal karena tanpa sengaja telah menyinggung masalah uang bulanan, namun kali ini dirinya tidak ingin gegabah.


"Justru karena Ibu tahu betapa sibuknya kamu, dan betapa beratnya tanggung-jawab yang ada dipundakmu saat ini, untuk itulah Ibu mengungkapkan isi hati Ibu kepadamu, Sayang ..."


Raja menahan diri untuk tidak menyanggah perkataan Ibunya dulu, namun meskipun demikian sorot matanya yang tajam tak kunjung berpindah dari sosok Dian Melinda.


"Ibu paham kamu sangat sibuk, maka tak perlu sering, tapi bisakah sesekali kamu datang dan menginap di sini satu atau dua malam? Kita bisa makan malam bersama ... mengobrol ringan ..."


Dian Melinda nampak menarik napasnya sejenak, saat menatap Raja dengan tatapan hampa.


"Kemudian mengenai Reza ... Kenapa kamu tidak bisa mempercayainya? Meskipun pada hakekatnya Reza bukanlah seorang Adiguna seperti dirimu ... Tapi Reza adalah putra Ibu juga ..."


"Ibu, bukan maksudku menyepelekan Reza. Tapi almarhum kakek tidak ..."


"Raja, anggaplah ini sebagai bagian dari kebaikan hatimu untuk Reza ... Juga untuk Ibu ..."


"Tapi, Bu ..."


"Kakekmu sudah meninggal, ayahmu juga, dan umur Ibu pun tak lagi muda. Raja ... Ibu mohon dengan sangat, tolong berikan Reza kesempatan ... Demi Ibu ..."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2