MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
BERDIAM DIRI


__ADS_3

Saat di perjalanan pulang, Naysila lebih banyak berdiam diri dan tak banyak bicara.


Bahkan bisa dibilang Naysila hanya bicara seperlunya, itupun hanya saat Raja menanyakan sesuatu dan ia akan menjawabnya dengan jawaban pendek-pendek seala kadarnya, cenderung malas-malasan.


'Mungkin dia mengantuk ...'


Begitu pikir Raja sebelumnya, sebelum akhirnya mereka tiba dikamar dan memulai ritual bersih-bersih seperti biasa sebelum benar-benar naik ke ranjang, disitulah Raja baru tersadar bahwa sepasang telaga milik wanita yang sedang mempreteli kancing kemejanya satu persatu itu bukannya menampakkan rasa kantuk, melainkan rasa sebal.


"Ada dengan wajah jelekmu?" tanya Raja keheranan saking tak bisa lagi menahan rasa penasarannya lebih lama, atas pemandangan wajah masam lengkap dengan bibir yang naik dua centi tersebut.


"Apanya yang ada apa, Tuan?"


"Kamu ..."


"Aku tidak apa-apa!"


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa, bicaramu saja ketus seperti itu!"


Naysila membuang wajahnya, namun jemarinya masih menari diatas kancing terakhir dari kemeja putih milik Raja.


"Tidak mungkin aku salah mengartikan, karena sudah jelas terlihat bahwa kamu memang sedang kesal ...!"


"Maaf, tapi Tuan berkata benar. Tuan memang salah mengartikan karena aku sedang tidak merasakan apa-apa ... Termasuk rasa kesal seperti penilaian Tuan ..."


"Lalu kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"


"Wajah jelekku sedang tidak cemberut."


Mendengar jawaban bernada ironi seperti itu mampu membuat Raja sedikit menggeram memendam rasa gondok yang hendak meledak.


"Tidak cemberut bagaimana ... Bibirmu saja sampai naik setinggi itu ... Aneh sekali ..."


"Bibirku memang sudah seperti ini sejak awal, Tuan. Lalu di mananya yang aneh?"

__ADS_1


Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir mungil milik Naysila jelas terkesan acuh tak acuh.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dengan membawa kemeja putih yang telah berhasil ia loloskan dari tubuh kokoh milik Raja, berniat menaruhnya kedalam keranjang pakaian kotor yang berada didekat pintu menuju ke kamar mandi, sebelum akhirnya ia juga masuk kedalam kamar mandi tersebut tanpa suara.


Sesungguhnya di saat yang sama Naysila juga sedang menaruh rasa heran untuk dirinya sendiri, tentang mengapa sekarang ia bersikap uring-uringan dihadapan Raja.


Entahlah ...


Yang jelas usai pembicaraan singkat dengan Utari yang berbuntut pada sebuah kenyataan tentang satu dari sekian banyak kisah masa lalu Raja yang tidak ia ketahui, cukup ampuh membuat Naysila menjadi kesal tanpa alasan.


Naysila bahkan tidak tahu apa motif Utari yang seolah sengaja ingin membuka tabir masa lalu Raja kepada dirinya. Bahwa diantara mereka sempat memiliki kedekatan, yang entah bagaimana lika-liku kisahnya sehingga bisa berakhir dengan status Utari sebagai istri Reza.


Jadi itukah alasannya mengapa Raja bertingkah bak seorang pria bucin akut sepanjang makan malam ...?


Jadi Raja sengaja ingin pamer kemesraan didepan hidung Utari ...?


Raja ingin membuat Utari cemburu ...?


Apakah itu artinya Raja masih menyimpan rasa untuk wanita yang sudah berstatus sebagai kakak iparnya itu ...?


'Owh, stoped it, Naysila ... Kenapa sekarang kamu harus peduli dengan Raja ...?'


'Memangnya apa pentingnya masa lalu Raja untukmu ...?'


'Bukankah keberadaanmu sendiri dalam kehidupan Raja hanya sekedar menjalankan perjanjian tertulis dalam kurun waktu satu tahun ...?'


'Dirimu bahkan tidak berarti apa-apa di mata pria itu, selain seorang pelayan rendahan yang bisa ia perintah semaunya, bahkan terkadang dirimu sanggup menjadi sebuah mainan demi menyenangkan hatinya ...!'


Raja yang berdiri bingung menghadapi sikap uring-uringan yang ditunjukkan Naysila sejak kepulangan mereka dari rumah ibunya akhirnya memilih mengangkat kedua bahu dengan pasrah.


Dengan tubuhnya yang masih bertelan jang dada Raja memutuskan untuk melangkahkan kaki ke sisi ranjang, menunggu Naysila kembali guna memakaikan atasan piyama ketubuhnya, sekaligus memeriksa pemberitahuan masuk yang mengantri di ponselnya untuk dibuka satu per satu.


Untuk sesaat Raja tenggelam dalam kesibukannya meneliti beberapa laporan yang dikirimkan oleh beberapa manager perusahaan dari divisi masing-masing yang mereka bawahi, manakala ia menyadari setelah sekian lama Naysila belum juga muncul kembali kehadapannya.

__ADS_1


"Kenapa dia belum kembali?"


Raja bergumam sambil menaruh ponselnya keatas bantal, kemudian ia bangkit berdiri dari duduknya, hendak menyusul Naysila yang terakhir kali terlihat sosoknya memasuki kamar mandi.


"Naysila ...?" panggil Raja sambil melongokkan kepalanya melewati bingkai pintu kamar mandi yang tidak terkunci.


Untuk sejenak sepasang alis Raja mengerinyit nyata menyaksikan wanita yang sedang ia cari tengah berjongkok sambil menyikat lantai kamar mandi yang bak pualam.


"Heh, Naysila ... Kamu ini sedang apa?" tanya Raja keheranan, mendapati Naysila yang sedang membersihkan kamar mandi saat malam sudah selarut ini.


"Apakah Tuan tidak bisa melihatnya?"


"Kamu ..."


"Aku sedang membersihkan lantai kamar mandi. Apakah Tuan benar-benar tidak bisa melihatnya ...?"


Raja terhenyak, sama sekali bukan karena kenyataan tentang Naysila yang sedang berjongkok dihadapannya dengan sikat lantai ditangan, melainkan karena keberanian wanita itu yang barusan begitu berani menjawab pertanyaan basa-basinya dengan nada yang tergolong ketus.


"Naysila, kamu ini sebenarnya kenapa?" Raja mencoba mengedepankan kesabarannya yang mulai menipis.


"Aku tidak apa-apa ..."


"Baiklah, lalu kenapa semalam ini malah menyikat lantai kamar mandi? Kamu sedang marah padaku, yah?" tukas Raja to the point.


Sepasang mata Raja mengawasi sosok Naysila dengan pandangan menaksir-naksir, namun sedikit pun Naysila tak menggubris kalimat beruntun Raja yang terlontar untuknya.


Jemari lentik Naysila masih saja melakukan gerakan menyikat lantai kamar mandi yang super bersih, seperti tidak ada kotornya sama sekali.


Sejujurnya tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Naysila memang sedang dipenuhi rasa kesal luar biasa, dan menyikat kamar mandi saat sedang merasa kesal merupakan sebuah kebiasaan yang rasanya sudah lama sekali tidak pernah lagi ia lakoni.


(Ada yang sama dengan Naysila gak? Karena author juga kalo lagi kesal suka bersihin kamar mandi loh ... 😅🤭)


Memang sedikit aneh, tapi entah kenapa Naysila selalu merasa bahwa usai melakukan pekerjaan tersebut, maka perasaanya akan merasa jauh lebih baik, seolah ia mampu menyalurkan berbagai rasa tidak menyenangkan yang sedang mendera sanubari ...

__ADS_1


NEXT ...


🧕 : Jangan lupa di Like, Comment, Gift and Vote yah 🤗🙏


__ADS_2