
"Mari kita berdamai ..."
"Maksudku, berdamai dalam arti yang sesungguhnya. Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang, apakah aku harus mengakhiri semua hubungan ini sesegara mungkin, atau malah sebaliknya ..."
"Naysila, kamu tau sendiri bahwa semua ini berawal dari keinginan terakhir kakekku semata. Bukan karena keinginanku, bukan juga keinginanmu. Tapi kakek sudah meninggal, dan sekarang aku memiliki kekuasaan. Menyiasati sebuah surat wasiat, dengan segala kekuasaan yang aku punya itu adalah perkara mudah. Aku yakin bisa mengatur semuanya, tapi sebaliknya ..."
"Jika bukan denganmu, dengan siapa aku harus menjalani kehidupanku kedepan ...? Maksudku ... Dengan kondisiku yang seperti ini ... Sangat mustahil bagiku untuk bersama wanita lain. Jika aku harus memikirkan semua itu ... Rasanya semua pintu telah tertutup, kekayaan dan kekuasaanku pun tak bisa membantu sedikitpun ..."
"Jadi aku mohon ... Tetaplah denganku, dan lupakan perjanjian kita, Nay. Please, di masa depan, mari kita sama-sama mencoba menjalani semua ini dengan sabar dan perlahan ..."
"Aku berjanji akan berusaha, dan aku sangat berharap, bahwa kamu juga mau melakukan hal yang sama ..."
"Tapi aku tidak akan memaksa, jikalau sampai dibatas waktu dirimu tetap tak sanggup menerima takdir ini ... Maka aku berjanji akan melepasmu juga ..."
...
Dua bulan kemudian ...
"Ini adalah kerja sama yang fantastis. Karena jika semuanya berjalan dengan lancar, maka sudah pasti perusahaan akan sangat diuntungkan di masa depan ..."
Reza menatap Raja lekat.
Sungguh, Reza nyaris tidak percaya bahwa saat ini Raja sedang bicara dihadapannya, untuk mempercayakan dirinya menangani mega project Adiguna Corporation dengan sebuah perusahaan raksasa yang bermarkas di negara adikuasa.
"Raja, kamu ... Kamu tidak salah ingin mempercayakan semua ini kepadaku ...?" tanya Reza seolah sangsi, namun yang ada dihadapannya Raja malah menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Kalau bukan dirimu, lalu siapa lagi yang lebih tepat untukku percayakan pekerjaan yang tidak main-main ini ...?"
__ADS_1
Reza tertunduk mendengar kalimat Raja.
Entahlah, tapi Reza tak bisa memungkiri bahwa saat ini hatinya sedang menghangat.
Semua ini rasanya terlalu cepat.
Dua bulan yang lalu dengan permintaan yang alot dari ibu, Raja akhirnya bersedia menerima kehadirannya sebagai bagian dari Adiguna Corporation.
Tapi meskipun demikian, Reza cukup terkejut mendapati bahwa bukan hanya sebagai staf biasa posisi yang diberikan Raja untuknya, melainkan kepercayaan sebagai seorang Manager Perencanaan, di perusahaan raksasa milik adik tirinya itu.
Memang dalam dua bulan terakhir, Reza telah bekerja keras, seolah dirinya ingin membuktikan bahwa Raja tidak boleh menyesal telah mempercayai dirinya dengan penuh lapang dada.
Tapi menyadari dalam waktu yang terbilang relatif singkat tersebut Raja kembali mempercayakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang memiliki kontribusi sangat besar bagi perkembangan Adiguna Corporation di masa depan, Demi Tuhan, semua kenyataan itu tak bisa tidak membuat Reza terharu.
"Raja ... Aku ... Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Aku hanya bisa berharap, kelak aku harus lebih giat bekerja, agar aku tidak akan mengecewakanmu ..."
Reza pasti tidak tau, bahwa disudut hati Raja ada perasaan hangat yang serupa.
Seumur hidup, Raja bukanlah orang yang mudah percaya dengan orang lain. Tapi entah kenapa Raja bisa mempercayai Reza dalam waktu yang cukup singkat.
Entahlah, apakah semua itu dikarenakan bagaimanapun mereka memiliki keterikatan darah dari wanita yang sama-sama mereka panggil dengan sebutan 'Ibu', atau memang karena Reza memiliki dedikasi yang tinggi dalam pekerjaan?
Sepertinya kedua unsur tersebut cukup masuk diakal, dalam mempengaruhi penilaian Raja terhadap Reza.
Memang tak bisa dipungkiri, Reza adalah kakak tiri Raja dari ibu yang sama, namun lepas dari semua itu, Reza benar-benar seorang pekerja keras.
"Baiklah, kalau begitu kapan tepatnya aku harus memulai semua perencanaan ini ...?" tanya Reza kemudian, begitu ia kembali bisa menguasai jiwanya yang sesaat lalu dipenuhi keharuan.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik." pungkas Raja sambil bersandar di kursi kebesarannya. "Aku hanya bisa memberikanmu waktu kurang dari satu minggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya."
Reza mengangguk paham, bahwa yang dimaksud Raja dengan mengurus segala sesuatu pastinya merupakan berbagai kelengkapan dokumen pribadinya dalam rangka keberangkatan ke luar negeri.
"Jangan khawatir. Semua dokumenku masih berlaku. Aku bahkan tidak membutuhkan waktu seminggu jika memang kamu menginginkan aku sesegera mungkin menangani semuanya ..."
Raja terdiam sesaat, seolah teringat sesuatu hal penting yang nyaris terlupakan.
"Mmmm ... Reza, apakah kamu tidak merasa perlu membicarakan hal ini dulu dengan ibu dan ... Utari ...?" tanya Raja pada akhirnya.
Reza terdiam sejenak mendapati pertanyaan itu, namun didalam hatinya terdapat senyum miris.
'Dengan ibu sudah pasti. Tapi dengan Utari ... Apakah ada bedanya?'
Sisi bathin Reza bertanya, gundah. Namun Reza sama sekali tidak berkeinginan untuk membagi persoalan rumah tangganya kepada orang lain, apalagi kepada Raja.
"Aku akan membicarakannya hari ini juga. Dengan ibu, juga dengan Utari. Aku yakin mereka berdua pasti mengerti bahkan akan memberikan dukungan sepenuhnya untukku."
Raja mengawasi wajah Reza yang tanpa riak, yang tak tercermin sedikitpun bahwa sesungguhnya Reza yang terlihat baik-baik saja justru sedang memikul prahara rumah tangga yang entah endingnya akan seperti apa.
"Kalau begitu, selesaikanlah semua urusanmu di sini terlebih dahulu, kalau semuanya sudah siap beritahu aku sesegera mungkin."
"Baiklah, Raja, aku mengerti. Kalau sudah tidak ada lagi yang inign kamu bicarakan, aku akan kembali keruanganku sekarang juga ..."
"Kembalilah keruanganmu. Kita bicara lagi nanti ..."
Reza pun mengangguk patuh, sebelum akhirnya bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu keluar.
__ADS_1
Bersambung ...