
"Masih ada lagi?"
"Ini yang terakhir, Tuan."
Raja mendengus kesal menyadari yang dimaksud dengan yang terakhir dari Asisten Her adalah setumpuk dokumen yang berada didalam pelukan pria berkaca mata itu.
"Padahal aku kan sudah mengatakannya sejak awal, bahwa sebelum jam empat semua laporan dari divisi yang belum memasukkan laporan harus segera dimasukkan!" dumel Raja kesal, karena mendapati dirinya yang awalnya berniat ingin buru-buru pulang pada akhirnya harus kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Tapi ini baru jam setengah empat, Tuan ..." lirih Asisten Her usai menaruh tumpukan laporan tersebut tepat diatas meja Raja.
Mendengar hal tersebut, refleks tangan kanan Raja menyingkap ujung kemeja yang menutupi pergelangan tangan kirinya, di mana sebuah jam tangan Rolex limited edition jelas-jelas menunjukkan pukul setengah empat sore seperti yang diucapkan Asisten Her barusan.
Mendapati kenyataan tersebut bukannya intropeksi diri atas kesalahannya, yang ada Raja malah terlihat semakin kesal saja.
"Kamu sengaja mencari-cari kesalahan majikanmu yah?!" tuduh Raja seenaknya.
"Maafkan aku, Tuan, tapi mana mungkin aku selancang itu?" elak Asisten Her yang gelagagapan dituduh dengan tuduhan yang tak berdasar.
"Huhh, sudah, diam. Berani sekali kamu menyanggah ucapanku ... Keluar sana!" usir Raja tak tanggung-tanggung.
Asisten Her yang sudah hafal betul temperamen sang majikan akhirnya hanya bisa menunduk takjim.
"Permisi, Tuan ..."
"Iya, pergi sana ... Awas saja kalau sampai kamu muncul kembali dengan membawa tumpukan pekerjaan baru untukku ..." pungkas Raja lagi penuh ancaman, mengiringi langkah Asisten Her yang beranjak keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Dasar Tuan Bucin ..." desis Asisten Her lirih, begitu tubuhnya keluar sepenuhnya dari ruangan Raja.
Asisten Her hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali menyaksikan tindak-tanduk Raja dari hari ke hari yang terlihat bak remaja labil yang sedang kasmaran.
Menurut penilaian Asisten Her yang sudah mengabdi pada pria itu selama bertahun-tahun lamanya, dalam dua bulan terakhir ini segala perilaku seorang Raja Adiguna memang terlihat berubah nyaris seratus delapan puluh derajat.
Memang benar, pria yang dulunya memiliki hati sedingin salju itu kini seolah telah mencair dan sedikit demi sedikit menjadi semakin hangat.
Bisa jadi semua itu merupakan dampak positif dari hubungan sang majikan dengan sang istri yang terus membaik dari hari ke hari ...?
Sepertinya memang begitu.
Meskipun sayangnya, walau telah menjadi sedikit manusiawi, sikap labil Raja malah tak sedikitpun berkurang. Contohnya ya seperti sekarang ini!
Namun sekali lagi, sekalipun Raja barusan bicara dengan nada ketus, toh Asisten Her tau betul penyebab dari semua itu pastinya karena sang bos besar berkeinginan bisa pulang ke rumah lebih awal, sementara kenyataannya pekerjaan Raja selalu datang silih berganti.
Ddrrttttt ...
Baru saja memikirkan kelakuan absurd sang majikan yang bak seorang tuan bucin, ponsel Asisten Her sudah bergetar dengan menampilkan nama Raja Adiguna memanggil di permukaan layar.
"Asisten Her ..."
"Iya, Tuan?" jawab Asisten Her atas panggilan Raja via telepon tersebut.
"Aku berubah pikiran."
__ADS_1
Kedua alis Asisten Her ikut bertaut mendengarnya. "Maksud Tuan?"
"Untuk hari ini aku tidak mau bekerja lagi. Cukup sampai di sini ... Aku lelah. Besok saja aku akan memeriksa kembali dokumen yang kamu bawa barusan ..."
Asisten Her menarik napasnya sejenak, seribu persen paham dengan seribu satu alasan yang sedang dikemukakan oleh Raja. "Lalu apa yang sekarang Tuan inginkan?"
Menanggapi pertanyaan Asisten Her, diseberang sana suara berdecak Raja telah terdengar berkali-kali.
"Masih bertanya ... Tentu saja aku ingin kamu menyiapkan mobilku sekarang juga, karena aku akan pulang sekarang ...!"
Mendengar titah tersebut Asisten Her melirik pergelangan tangannya, tepat kearah jarum jam tangan yang sedang ia kenakan.
'Padahal hanya tinggal menunggu sekitar dua puluh menit, tapi seperti biasanya si Tuan Bucin selalu tak sabaran ...'
'Memangnya butuh berapa lama sih proses untuk membubuhkan tanda tangannya yang berharga itu di setiap lembar akhir untuk dokumen laporan dari dua divisi terakhir yang masuk, sampai-sampai Raja harus menundanya sampai besok ...?'
"Asisten Her, kamu mendengarkan aku tidak?" tanya Raja saat menyadari Asisten Her yang tak kunjung merespon perintahnya.
"Iya, Tuan, akan aku siapkan mobilnya sekarang juga ..." jawab Asisten Her, tanggap.
Memangnya harus menjawab apa lagi?
Mustahil kan jika Asisten Her membantah titah seorang Raja Adiguna?
"Ya sudah, kalau begitu cepat siapkan mobilnya ..."
__ADS_1
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Raja, dengan sendirinya telah mengakhiri pembicaraan tersebut, dan lagi-lagi Asisten Her hanya bisa menggelengkan kepalanya, dengan pasrah ...
Next ...