
Malam ini cuaca cukup dingin. Hembusan angin malam bahkan sanggup membuat ujung gaun berwarna putih milik Naysila berkibar diterpa angin.
Raja menatap lekat pemandangan yang terlihat cukup melankolis, bak sebuah lukisan berjudul penantian disebuah galeri yang pernah Raja kunjungi secara eksklusif.
Entah siapa pelukisnya ... Raja lupa.
Naysila pasti tidak tahu bahwa sepasang mata Raja sedang mengawasi punggungnya dengan sedemikian lekat, nyaris tak berkedip.
Wanita itu seolah tenggelam dalam lamunannya yang tak bertepi, dengan sepasang mata yang mengembara kearah pekatnya malam yang seolah tak berujung.
Kalau saja derap langkah Raja yang mendekat perlahan tak mengusik pendengarannya yang awas, bisa jadi Naysila benar-benar belum menyadari kehadiran Raja di sana.
"Tuan ...?" Naysila yang terkesiap sontak membungkuk hormat, menyadari kehadiran Raja yang sudah berdiri tegak di belakangnya.
Raja tersenyum tipis. "Kamu sedang apa?" tanya Raja, sambil melangkahkan kakinya kembali, semakin mendekat, semakin mengikis jarak diantara mereka dan baru berhenti di saat indera penciuman Naysila benar-benar leluasa menghirup aroma maskulin yang bercampur sempurna dengan aroma alami khas pria yang mendebarkan.
"Tidak sedang melakukan apa-apa, Tuan ... Aku hanya berdiri ..." jawab Naysila masih dengan kepala tertunduk, yang oleh karena sikap Naysila tersebut sanggup memancing kekesalan Raja yang tak berdasar.
"Udara sedingin ini, kenapa nekad berdiri di sini ...?" tanya Raja kemudian, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih datar, sedatar air mukanya.
"Aku ... Tadi aku merasa sedikit gerah, juga merasa agak bosan, sehingga ingin menghirup udara segar dan ..."
"Kalau kamu sakit, itu tidak baik juga untukku."
Naysila terhenyak mendengar ucapan terakhir Raja yang begitu dingin, seolah baru disadarkan bahwa lagi-lagi dirinya telah membuat sebuah kecerobohan.
Raja berkata benar. Naysila memang tidak boleh sakit, karena jika dirinya sakit, lalu bagaimana dengan Raja ...?
Tentu saja Raja tidak boleh sakit, apalagi dikarenakan dirinya!
"Maafkan aku, Tuan." ungkap Naysila bersungguh-sungguh.
Memang apalagi yang bisa Naysila lakukan selain mengharapkan pengampunan dari seorang Raja Adiguna?
"Lain kali jika kamu memang ingin menghirup udara segar di udara yang dingin seperti ini, minimal pakailah baju yang tebal ..."
"Iya, Tuan, akan aku ingat. Sekali lagi maafkan kecerobohanku ..."
Raja terdiam sejenak, tatapan matanya yang tajam masih mengarah penuh kearah Naysila yang sejak tadi terus tertunduk, seolah sengaja menghindari kontak langsung dengan pria itu.
"Tuan, sebaiknya kita masuk saja ..."
Naysila ingin beranjak secepatnya, manakala ia mulai tak nyaman dengan tatapan Raja yang terus terpaut kepadanya.
"Tunggu."
Pergelangan tangan mungil milik Naysila telah dicekal dengan sigap, sehingga pergerakan Naysila pun ikut terhenti.
"Tidak perlu buru-buru jika kamu masih ingin berada di sini."
"Tapi aku tidak lagi ..."
"Bukankah tadi kamu juga bilang bahwa merasa bosan berada di kamar ...?"
"Iya, Tuan, tapi ..."
"Lalu kenapa sekarang terburu-buru ingin kembali?"
__ADS_1
"Karena ..."
Mengambang.
Naysila memutar otak demi mendapatkan alasan yang tepat, agar dirinya tidak terperangkap dalam situasi canggung dibawah tatapan intens sepasang mata elang milik Raja yang seolah tak pernah lelah menghujam tajam.
"Karena apa?" pungkas Raja semakin mengeratkan cengkeraman pada pergelangan tangan Naysila yang mulai berkeringat dingin.
"K-karena ... Aku ..."
"Aku kenapa?" desak Raja, dengan remasan tangan yang semakin mengerat.
"Aku ... Aku juga sudah merasa dingin dan ..."
Bugh ...!
Dengan gerakan secepat peluru, Raja yang sejak awal tengah mencengkeram erat pergelangan tangan Naysila telah memutar tubuh wanita itu sedemikian rupa hingga kembali ke posisi awal, yakni menghadap penuh pada pekatnya malam.
Pada detik berikutnya, Naysila yang berniat memberontak langsung membeku ditempat, manakala rengkuhan dari dua lengan yang kekar telah melingkari tubuhnya utuh, seiring dengan himpitan sebuah dada bidang yang melekat ketat dipunggung.
"T-Tuan ...?"
"Sssttt ..."
Napas hangat Raja langsung menerpa tengkuk Naysila, begitu pria itu berusaha membungkam kalimat protes yang hendak terlontar keluar.
Deg.
Deg.
Deg.
'Apakah aku sudah gila ...?'. Raja.
Lidah Naysila terasa sangat kelu, dan degup jantungnya berdebar kencang laksana sebuah tambor yang sedang dipukul orang gila!
Seharusnya yang Naysila rasakan adalah kehangatan, karena kini tubuh rampingnya seutuhnya berada dalam rengkuhan hangat tubuh yang kekar, tegap, dan wangi.
Namun anehnya ... Yang ada malah sebaliknya, karena Naysila merasa tubuhnya seolah membeku bak sebuah balok es.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Naysila, perasaan gelisah yang sama juga menerpa Raja, yang bahkan telah kesulitan saat harus mengendalikan degup jantungnya yang menggila.
'Kenapa aku harus melakukan hal gila seperti ini ...?'
'Kenapa aku malah memeluknya ...?'
"Kenapa Raja ...?'
'Kenapa ...?'
Raja kalut, gelisah, salah tingkah, namun semua perasaan tersebut telah dikalahkan oleh penyesalan terlebih kesombongan hatinya.
'Kenapa masih bertanya ...? Bukankah semuanya sudah jelas ...?'
'Dia milikku ...'
'Aku pemiliknya ...!'
__ADS_1
'Kalau aku ingin ... Apapun bisa aku lakukan ... Tanpa terkecuali!'
"T-Tuan ..."
"Diam."
"T-tapi, T-Tuan ..."
"Aku bilang diam."
Naysila menggigit bibirnya resah. Gestur tubuh Naysila yang tak nyaman bukannya tidak dirasakan oleh Raja, namun yang ada pria itu malah menjadi semakin geram saat menyadari upaya Naysila yang hendak menolaknya.
"Katakan kepadaku, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang ...?"
Dalam rengkuhan posesif Raja yang membuat tubuh pria itu melekat erat kepunggungnya, Naysila masih berusaha mereka-reka apa yang sedang terjadi, juga apa yang harus ia lakukan.
"Apakah saat ini kamu sedang kege-eran ...?"
Naysila terhenyak dalam diam, tak menyangka jika ucapan Raja selanjutnya justru lebih mirip sebuah ejekan.
"Jangan-jangan kamu mulai berpikir karena aku memelukmu seerat ini ... Itu berarti aku menyukaimu ..."
"Tid ... Tidak ..." jawab Naysila tersendat.
Rasanya Naysila ingin menangis saat mengetahui bahwa saat ini, Raja hanya sedang mempermainkan dirinya, juga perasaannya.
'Ternyata tak ada yang berubah. Karena sejak awal ... Di mata seorang Raja Adiguna, aku tak pernah lebih dari sebuah boneka, objek permainan yang sangat menyenangkan, untuk dipermainkan pria itu dengan sesuka hatinya ...'
Mata Naysila terasa memanas, namun ia menahan dirinya agar tidak menangis ... Setidaknya untuk sekarang.
"Tidak, Tuan ... Mana mungkin aku berani berpikir yang tidak-tidak tentang, Tuan." lenguh Naysila lemah, mencoba bertahan dengan ketegaran terakhir yang tersisa didalam dirinya.
"Baguslah ... Inilah yang sangat aku sukai dari dirimu ... Karena kamu sangat tahu diri ..."
Bisikan jahat Raja kembali terdengar, dan rengkuhan erat yang sejak beberapa saat yang lalu menyelimuti naysila dengan utuh kini mulai terurai perlahan.
"Kembalilah ke kamar, dan persiapkan pakaianku. Aku akan menyusulmu sepuluh menit lagi ..."
"Baik, Tuan ..." lirih Naysila sembari mengangguk patuh.
Naysila pun melangkah pergi meninggalkan Raja sendirian berdiri di atas balkon.
Tepat disaat kaki Naysila melangkah, diam-diam sebulir bening langsung jatuh keatas pipinya yang putih.
Kepergian Naysila membuat keheningan kembali meraja, dan dalam diam Raja masih berdiri tegak menatap pekatnya malam.
"Raja ... Kamu ini kenapa ...? Mengapa kamu selalu bertingkah menyebalkan seperti tadi ...?"
Hembusan napas berat terdengar jelas diakhir kalimat Raja yang sedang bermonolog.
Perlahan tangan kanan Raja bergerak menyusuri kantong celananya, demi merogoh sebuah kotak kecil persegi panjang berwarna putih yang ia simpan di sana.
"Apakah aku harus minta maaf ...?"
Lagi-lagi Raja bermonolog, sembari menatap kotak harmonika di tangan kanannya, sebelum akhirnya kepalanya menggeleng kuat-kuat, hingga berkali-kali.
"Tidak ... Tidak ... Untuk apa minta maaf ...?"
__ADS_1
"Aku justru sudah melakukan hal yang benar, demi mencegah wanita itu menaruh harapan ... Begitupun juga dengan diriku ..."
Bersambung ...