MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
TERPUKAU


__ADS_3

Raja sedang memakai jam tangan rolex miliknya ke pergelangan tangan.


Malam ini Raja memang sedikit kerepotan hanya karena harus mempersiapkan dirinya sendiri untuk memenuhi undangan makan malam dari ibunya, meskipun semua outfit yang hendak ia kenakan dari ujung kaki sampai ujung rambut telah disediakan oleh Asisten Jo begitu ia kembali dari bekerja.


Sejak saat Raja diharuskan tinggal bersama Naysila, Raja sudah menduga bahwa pastinya keadaan tersebuat akan membuat dirinya tidak bisa menghindar dan akan selalu berinteraksi intens dengan wanita itu.


Untuk itulah sesuai niat buruknya sejak awal, Raja memilih rutin mengerjai Naysila sehingga mengharuskan wanita itu untuk mengurus segala sesuatu yang menyangkut dirinya, hingga ke hal terkecil sekalipun.


Iya, pada awalnya Raja memang iseng semata, sama sekali tak menyangka buah keisengannya akan berbuntut rasa ketergantungan, sehingga tanpa sadar Raja malah terbiasa mengandalkan Naysila dalam segala urusan yang menyangkut dirinya ... Seperti halnya malam ini di mana Raja bahkan dibuat repot dalam mengenakan semua pakaian dan aksesoris standar, karena Raja yang terbiasa mengandalkan Naysila.


Sesungguhnya nyaris di sepanjang hidup telah dihabiskan Raja dengan penuh kehati-hatian oleh karena kondisi paranoid akut yang melekat dalam sifatnya.


Tapi manakala Raja tak bisa mengelak dari isi surat wasiat kakek yang mengharuskan Raja menikahi Naysila dan harus berbagi kamar dengan wanita itu dalam kurun waktu satu tahun, semua kenyataan itu sudah cukup membuat Raja memiliki alasan yang kuat dalam membalaskan setiap jengkal perasaan kesalnya hingga memutuskan untuk mengerjai Naysila habis-habisan, setiap hari!


Raja bahkan belum menyadari jika niat buruknya telah berbuntut kenyamanan.


Kehadiran Naysila rupanya cukup banyak memiliki andil dalam menghibur Raja, karena mengerjai Naysila, memarahi Naysila, menakut-nakuti Naysila, mengancam, mem-bully ... dan masih banyak lagi ...


Oh my ...


Demi apa ...?


Raja bahkan menemukan kesenangan tersendiri acap kali ia mengerjai Naysila sedemikian rupa.


Wajah Naysila yang memerah, ujung jemari yang bergetar halus, sikapnya yang berpura-pura tenang namun kenyataannya gugup juga salah tingkah ...


Gila.


Semua pemandangan itu ibarat candu yang telah membuat Raja ingin selalu mengerjai, sekaligus menikmati.


Raja bahkan penasaran ingin tahu hal apa saja yang bercokol dibenak Naysila acap kali menghadapi sikap Raja yang menyebalkan.


Pasti setiap kali Naysila menundukkan wajah atau mengulas senyum terpaksa, disaat yang sama gadis itu sedang memaki dalam hati ...!


Anehnya, menyadari hal tersebut bukannya merasa kesal, Raja justru mulai berpikir, bahwa mempunyai istri yang bodoh, polos dan penurut seperti Naysila ternyata cukup menyenangkan!


"Asisten Jo!" panggil Raja begitu ia selesai mematut dirinya untuk yang terakhir kali didepan cermin besar.


"Iya, Tuan?" sahut Asisten Jo yang langsung menampakkan batang hidungnya tepat didepan pintu kamar yang memang sejak awal tidak terkunci.


Pria paruh baya itu sejak awal sudah berdiri diluar kamar, menunggu kalai-kalau Raja akan memanggilnya jika membutuhkan pertolongan karena sang Nyonya besar yang tadinya sedang di make over di lantai bawah.


"Apakah Naysila sudah selesai?"


Sudah, Tuan. Saat ini Nyonya Naysila sedang menunggu kehadiran Tuan ..."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan turun sekarang juga." putus Raja tanpa berpikir dua kali.


Langkah Raja terayun keluar dari kamar, menuju lift diikuti oleh Asisten Jo dari belakang.


"Silahkan, Tuan." seperti biasa Asisten Jo yang menekan tombol pada panel lift, guna mempersilahkan Raja untuk masuk terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat pintu lift terbuka yang dilihat Raja pertama kali adalah sosok Naysila yang telah berdiri menyambutnya tepat didepan pintu lift dengan kepala tertunduk.


Dibelakang Naysila nampak Nona Grace yang berdiri bersama pasukannya yang telah bekerja keras selama beberapa jam terakhir, demi mengubah seorang upik abu menjadi seorang putri.


Raut ketegangan jelas menyelimuti wajah mereka, selaras dengan irama dada yang berdebar keras, menunggu reaksi Raja atas hasil maha karya mereka untuk sosok Naysila, sang Nyonya besar.


"Tuan ..." sapa Naysila santun.


Langkah Raja terayun ragu saat keluar dari bilik lift.


Dengan sepasang matanya yang menatap nanar, Raja bahkan telah lupa berkedip saking tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang.


Tepat dihadapannya, hanya berjarak tidak lebih dari tiga meter, di mana tubuh ramping milik Naysila berdiri tegak, berbalut gaun berwarna putih berpotongan sederhana, terkesan sedikit konvensional namun telah membuat wanita itu menjadi berkali-kali lipat lebih anggun dimata Raja.


Rambut Naysila yang biasanya terkuncir satu kebelakang kini dibiarkan tergerai, dan wajahnya terlihat smooth dikarenakan sentuhan make up flawless yang sangat pas.



"Tuan, bagaimana dengan penampilanku? Apakah aku sudah cukup pantas untuk mendampingi Tuan ...?" tanya Naysila seolah tak sabar mendengar pujian tulus dari bibir Raja, namun yang ada Raja malah membuang wajahnya yang memerah hingga ke cuping.


"Dasar jelek ..."


"A-appa ...?" Naysila dan semua orang yang berada di sana terhenyak mendengar cibiran sinis itu, hanya wajah Asisten Jo saja yang masih tak bergeming.


"Karena kamu memang aslinya sangat jelek, memakai gaun yang bagus dan berdandan pun rasanya percuma ..."


"Baiklah ..." Desis Naysila lemah dengan wajah merah padam, menahan malu juga geram. Bibirnya bahkan bergeletar lirih. "Nona Grace ..."


Tanpa berniat menyanggah Raja, Naysila telah menyerukan lirih nama Nona Grace yang langsung tergopoh-gopoh mendekat dari arah belakang.


"Iya, Nyonya ..."


Bisakah kamu merias wajahku lagi agar tidak terlihat jelek?" tanya Naysila yang akhirnya memilih kembali menekan kesabarannya hingga tandas.


Nona Grace terlihat salah tingkah, namun senyum lembut Naysila justru terukir dibibirnya seolah memberikan sedikit penghiburan, padahal dirinya sendiri pun tengah dipeluk kesedihan, juga butuh dihibur oleh seseorang.


"Tuan Raja tidak menyukai wajahku. Bisakah Nona Grace merias wajahku lagi ...?" ulang Naysila, menyadari Nona Grace yang belum bergeming.

__ADS_1


"Tidak perlu!" sanggahan Raja terdengar tegas.


"Tapi Tuan ..."


"Apa-apaan kamu ini, kalau wajahmu harus dirias lagi, kita bisa terlambat." ungkap Raja memberi alasan, padahal yang ada dia justru sempat terpukau tak percaya menyaksikan kecantikan Naysila.


"Apakah tidak apa-apa jika Tuan berjalan bersama dengan wanita jelek seperti diriku ...?"


"Memangnya aku bisa apa? Bukankah aku memang harus membiasakan diri menerima nasibku yang malang karena memiliki istri jelek seperti dirimu ...?"


Naysila menelan ludahnya mendapati ucapan Raja yang seolah tanpa dosa.


"Malah bengong ... Ayo berangkat sekarang!" titah Raja lagi sambil melangkah acuh, melewati Naysila begitu saja.


"Mari Nyonya ..." pada akhirnya Asisten Jo yang menyadarkan Naysila untuk melangkah mengikuti langkah Raja yang telah mendahului dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepeninggal Raja dan Naysila, Nona Grace terlihat mendekati sofa dan menghempaskan tubuhnya yang letih di sana.


"Nona Grace ... Ada apa ...?" beberapa anak buah yang bekerja di Spa and Salon miliknya terlihat mendekati sang owner, yang kali ini turun langsung menangani klien istimewa atas permintaan khusus seorang Raja Adiguna.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa sedih dan sedikit kecewa. Aku menyesal tidak bisa mempergunakan kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk Nyonya Naysila. Aku telah mengecewakan Tuan Raja dan ..."


"Itu tidak benar."


Nona Grace beserta beberapa anak buahnya terhenyak mendengar bantahan tiba-tiba yang berasal dari Asisten Jo, yang ternyata telah kembali usai mengantarkan kedua majikannya hingga kepintu utama.


"Asisten Jo ..."


"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik, Nona Grace ..." Asisten Jo menundukkan kepalanya kearah Nona Grace yang menatapnya ragu.


"T-tapi tadi kata Tuan Raja ..."


"Dia berbohong."


"A-apppa ...?"


"Kenyataannya Tuan Raja sangat terpukau dengan hasil kerja kerasmu."


"B-benarkah ...?" sepasang mata Nona Grace menyorot tak percaya.


Asisten Jo terlihat mengangguk yakin. "Nona Grace ... terima kasih, terima kasih karena kamu telah melakukan tugasmu dengan baik ..."


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2