MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
TANPA BERPIKIR DUA KALI


__ADS_3

Nama wanita tua itu adalah Ainun. Tapi semua orang yang mengenalnya memanggilnya dengan sebutan Nenek Nun.


Untuk Naysila yang memiliki sifat dan kepribadian yang hangat, tentu bukanlah perkara sulit untuk mengakrabkan diri dengan semua pedagang yang berada di sana, tak terkecuali dengan Nenek Nun yang benar-benar tak menyangka akan mendapat kunjungan istimewa dari seorang wanita cantik, anggun, namun sangat bersahaja seperti Naysila, yang notabene merupakan pendamping hidup seorang Tuan Raja Adiguna yang hebat.


Cantik, baik hati, ramah, dan penuh kehangatan.


Begitulah kira-kira penilaian semua orang atas diri Naysila, yang dari dalam dirinya seolah memancarkan begitu banyak aura positif yang mengagumkan.


Terlebih lagi Naysila tidak hanya datang dengan sepuluh jari, karena diakhir kunjungan, ternyata wanita yang mampu menawan hati semua orang dalam waktu singkat itu telah menyiapkan begitu banyak hampers untuk dibagikan kepada semua orang yang ada di pasar tersebut tanpa terkecuali.


Hampers yang berisi makanan Padang dari sebuah restoran padang terkenal itu, telah dibagikan oleh para anak buah serta pengawal Raja Adiguna yang seabrek kepada puluhan pedagang penghuni lapak, begitupun juga dengan semua pembeli yang kebetulan sedang berbelanja di pasar tersebut.


Tak ada satu pun yang terlewat, karena semua orang yang ada di sana semuanya tak luput dari pembagian berkah kecil-kecilan yang sebenarnya telah digagas Naysila seorang diri secara mendadak tanpa sepengetahuan Raja.


"Nyonya Naysila, terima kasih banyak atas kedatangan Nyonya yang secara khusus untuk menemui nenek dan kami semua yang ada di sini, apalagi Nyonya sampai repot-repot membawa bingkisan istimewa untuk kami semua ..." ucap Nenek Nun kearah Naysila yang baru saja mengucapkan permohonannya untuk pamit, dengan bibir tuanya yang tak henti berulas senyuman.


Ungkapan hati yang terucap dengan begitu tulus dari Nenek Nun langsung diiyakan oleh semua orang yang ada di sana.


"Iya, Nek, sama-sama. Sesungguhnya aku juga senang bisa berada di sini hari ini, dan bertemu kalian semua. Rasanya masih ingin berada disini lebih lama ... Tapi ..."


Mengambang.


Kilat kesedihan melintas samar pada sepasang bola mata jernih milik Naysila, namun tentu saja tak bisa Naysila ungkapkan, bahwa betapa bahagia dirinya bisa mendapatkan kesempatan menghirup udara kebebasan yang rasanya sudah sangat lama tak bisa ia hirup.


Tak ada seorangpun yang tahu, bahwa dibalik kemewahan yang ada didiri Naysila, sesungguhnya aroma pasar tradisional, serta kehidupan bermasyarakat pada strata sosial seperti inilah yang sejatinya merupakan kehidupan Naysila yang real, serta kehidupan yang Naysila kehendaki, sebelum Naysila terpenjara dalam sangkar emas milik Raja, yang telah membelenggu seluruh kebebasannya.


Naysila merindukan kehidupan lamanya, yakni kehidupan yang bebas tanpa intimidasi serta aturan yang kaku, namun pada akhirnya Naysila sadar bahwa ia harus lebih banyak bersabar sebelum pintu kebebasan yang sebenar-benarnya kelak akan terbuka lebar untuknya.


"Tidak, Nyonya, tidak apa-apa. Kami tahu Nyonya pasti sangat sibuk, dan Tuan Raja pasti juga akan khawatir kalau Nyonya tidak kembali secepatnya ..."

__ADS_1


Seperti sangat memahami isi hati Naysila, ucapan Nenek Nun seolah menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi Naysila untuk membulatkan tekad.


"Baiklah, Nek, semuanya ... Kalau begitu kami pamit dulu ..."


"Baik, Nyonya,"


"Hati-hati Nyonya Naysila ..."


"Jaga diri Nyonya ..."


"Mari, Nay ..." ajak Reza yang sejak awal terus berada disamping Naysila, diantara berbagai ungkapan simpati semua orang yang bertebaran.


Naysila mengangguk, mengiyakan.


Keduanya pun melangkah membelah kerumunan manusia yang secara refleks terbuka memberi jalan, diiringi beberapa orang pengawal yang setia menjaga dikiri-kanan.


"Nyonya Naysila, datanglah kemari setiap kali Nyonya ingin ..."


"Nyonya, baik sekali, Tuan Raja sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik dan baik hati seperti Nyonya Naysila ..."


"Semoga Tuhan, merestui hubungan Nyonya Naysila dan Tuan Raja hingga akhir hayat ..."


"Juga agar cepat dikaruniai momongan yang lucu ..."


"Semua doa terbaik untuk Nyonya dan Tuan Raja ..."


Berbagai ungkapan dan doa yang menyejukkan terus mengiringi langkah rombongan Naysila yang bergerak menuju area dimana mobil mereka terparkir.


"Hari ini sangat luar biasa ..."

__ADS_1


Naysila menoleh mendengar kalimat Reza yang melangkah tepat disampingnya.


"Iya ..." jawab Naysila semringah.


"Kamu juga luar biasa ..."


Naysila tersenyum. "Terima kasih. Semuanya tak lepas dari peranmu juga, Kak ..."


Reza membalas senyum Naysila. "Aku hanya membantu ..."


"Tapi bantuanmu sangat berarti ..." kilah Naysila lagi.


Reza manggut-manggut, masih dengan senyum yang sama, kemudian mereka tidak bicara lagi sampai ketika Reza mengantarkan Naysila terlebih dahulu hingga ke pintu mobil yang ditumpangi Naysila.


"Ada apa, Nay?" tanya Reza mendapati Naysila yang masih berdiri kaku meskipun pintu mobil telah terbuka.


Reza sedikit terhenyak mendapati wajah putih Naysila yang kini terlihat memucat.


"Astaga ... Wajahmu pucat, Nay. Kamu sakit?" tanya Reza panik.


Naysila menggeleng, namun jemari tangannya terangkat guna memijat pelipis kanannya. "Tidak apa-apa, Kak, tiba-tiba merasa sedikit pusing ..."


"Masuklah, aku akan bersamamu." putus Reza begitu saja.


"Tapi ..."


"Jangan membantah. Kita akan pergi ke dokter, dan aku akan menghubungi Raja secepatnya ..."


Merasa kepalanya menjadi semakin pening, kali ini Naysila memutuskan untuk langsung masuk kedalam mobil tanpa menyanggah kalimat Reza.

__ADS_1


Sementara Reza pun ikut masuk kedalam mobil yang sama, tanpa berpikir dua kali ...


Bersambung ...


__ADS_2