MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
DEBARAN LEMBUT


__ADS_3

Kenyataan saat ini seolah benar-benar luput dari pemikiran Naysila.


Naysila lupa, bahwa menjadi istri Raja bukan hanya sebatas menjadi seorang pelayan biasa yang melayani semua kebutuhan Raja bahkan dari hal terkecil.


Menjadi istri Raja tidak semudah itu ... Tidak juga sesederhana itu!


Saat mereka mulai tinggal bersama, Naysila mulai sadar bahwa ia perlu menjadi sosok yang menarik.


Semua itu penting untuk reputasi Raja, agar jangan sampai keberadaannya hanya bisa membuat pria super hebat itu malu meskipun itu dihadapan keluarga besarnya sendiri.


Raja sudah pasti bukanlah pria sembarangan. Karena setelah menjalani syarat untuk menikahi Naysila selama satu tahun, pria itu benar-benar akan menguasai seluruh harta kekayaan juga kerajaan bisnis yang sebelumnya milik mendiang Rafly Adiguna.


Saat ini Raja terlihat menopang dagu dengan raut wajah yang terlihat bak orang yang sedang berpikir keras.


Dalam penilaian Naysila, Raja pasti sedang berpikir tentang alasan apa yang sekiranya telah membuat kakeknya mengirimkan wanita jelek seperti dirinya untuk mendampingi cucu kesayangannya yang sesempurna Raja.


'Lagian ... Kenapa sih aku harus terlihat begitu buruk di matanya?'


'Bahkan rentetan perawatan panjang yang dilakukan Nona Grace sepertinya tidak banyak membantuku untuk terlihat sedikit menawan ...'


Naysila menggerutu dalam hati sambil menghempaskan napasnya dengan lesu, merasa tak kunjung menemukan cara yang sekiranya tepat agar bisa membuat Raja senang, atau setidaknya menghargai sedikit saja usahanya.


Namun tanpa sepengetahuan Naysila, saat ini didalam benak Raja yang terjadi justru berkebalikan seratus delapan puluh derajat.


Yah, Naysila tidak tahu, bahwa sekarang benak Raja sedang gigih berperang.

__ADS_1


'Raja Adiguna, kamu ini sedang apa ...?'


Raja membathin kalut.


'Oh my ...! Untuk apa aku menyentuh dan mengabsen satu persatu bagian wajahnya ...? dan lebih anehnya lagi ... Aku malah suka saat melakukannya ...!'


'Sejujurnya aku bahkan telah berkeinginan melakukan semua itu sejak jauh hari, bahkan sempat berhari-hari memikirkan cara agar bisa menyentuh setiap lekuk wajahnya yang selalu membuatku penasaran.'


'Gilanya lagi, barusan aku juga sangat menyukai moment tersebut ... Tanpa sedikitpun merasa takut jika diwajahnya yang jelek itu terdapat kuman ... dan hal-hal mengerikan yang bisa saja terkontaminasi saat aku menyentuhnya ...'


'Sial ... Aku bahkan sempat berkeinginan merasakan bibirnya. Diujung jariku teksturnya terasa sangat lembut ... Pasti rasanya manis ...'


Raja mengusap wajahnya berkali-kali, semakin pusing saat harus menghalau keras berbagai pikiran aneh sekaligus liar, yang berseliweran diotaknya.


'Lagipula kenapa wanita jelek itu bisa terlihat semakin cantik dari hari ke hari ...?'


Lagi-lagi Raja mengusap wajahnya berkali-kali, kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.


"Maaf Tuan, rasanya aku mulai tidak yakin bisa menemani Tuan dan memenuhi undangan makan malam Nyonya Dian ..."


Raja menoleh kearah Naysila yang sedang tertunduk dalam. Kedua jemari wanita itu terlihat berada tepat diatas pangkuan, saling memilin satu sama lain.


"Sudah aku katakan, aku yang akan memutuskan ... Bukan dirimu ...!"


"Tuan tidak takut jika nanti ditertawakan ...?" tanya Naysila lagi menegaskan, yang pada kenyataannya dirinya benar-benar percaya atas penilaian Raja yang telah ia terima, bahwa penampilannya malam ini memang sangat memalukan.

__ADS_1


Mendengar itu Raja terlihat mendengus kesal. "Memangnya siapa yang berani menertawakan Raja Adiguna ...?" ujarnya songong.


Untuk hal ini Raja berkata benar. Saat ini kedudukan Raja dalam keluarga besar Adiguna sudah pasti jauh lebih tinggi dari anggota lainnya.


Lalu mana mungkin ada yang berani menertawakan dirinya?


Terlebih semua orang juga tahu bahwa Raja bukanlah sosok yang cukup ramah. Pria itu memiliki sifat dingin, arogan, serta tidak mudah didekati ... Sekalipun oleh ibu kandungnya sendiri!


"Tuan ... Lalu apa yang harus aku lakukan agar setidaknya aku bisa terlihat sedikit menarik ...?" rengek Naysila yang nekad menatap Raja dengan intens dengan tatapan penuh harap sekaligus memohon.


Bukan apa-apa, Karena Naysila tau persis bahwa yang akan ia hadapi sebentar adalah Nyonya Dian Melinda, wanita yang selalu membenci kehadirannya sejak awal tanpa sebab berarti.


"Tuan ... Kamu harus membantuku ..." ujar Naysila lagi menyadari Raja yang kini balas menatapnya, namun belum mengatakan apa-apa.


"Apa katamu ...? Harus ...?"


"Iya, harus. Tuan menyukainya atau tidak, aku kan istri sah-mu, Tuan. Setidaknya ... Tolong jadikan aku sedikit pantas dan ..."


'Mmmmhh ...'


Sederet kalimat Naysila sontak terbungkam sempurna, seiring dengan sebuah kelembutan yang menyentuh dua belahan bibirnya secara tiba-tiba.


Seketika semua yang terdengar ditelinga pun menjadi hening ... Seolah keduanya hanya bisa mendengarkan debaran lembut, dari bilik jantung masing-masing ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa di Like, Comment, Gift and Vote yah 😀🙏


__ADS_2