
'Sepertinya pria ini benar-benar ingin membuatku malu ...!'
Entah sudah kesekian kalinya Naysila menggeram kesal, meskipun dibibirnya tetap terulas senyuman.
Senyum Naysila memang seolah tak kan pernah bisa lekang, tak peduli se-menyebalkan apapun ulah Raja bahkan sejak mereka masih dalam perjalanan kerumah ini, pria itu seolah tak jenuh membuat ulah.
Mulai dari mencium tanpa permisi saat di mobil, minta disuapi dibawah tatapan semua orang saat ingin makan, rewel dengan semua menu super lezat yang susah payah disajikan Dian Melinda khusus untuknya, dan masih banyak lagi tingkah konyol serta alay yang telah Raja lakoni.
Yang terakhir adalah pria itu menjadi semakin nekad saat mengambil alih sendok yang ada ditangan Naysila, kemudian bersikeras ingin balik menyuapi Naysila yang memang sejak tadi belum menerima asupan makanan sedikitpun karena harus menyuapi si bayi besar.
"Buka mulutmu." desis Raja lirih.
Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun yang secara kasat mata hanya bisa melihat kemanjaan seorang Raja dari kejauhan, rupanya semua itu hanya kedok semata.
Yang sesungguhnya terjadi saat ini adalah sepasang mata elang Raja justru sedang berisikan ancaman mematikan, seperti kegemaran pria itu selama ini, manakala Naysila tidak segera membuka mulut sesuai keinginannya.
__ADS_1
'Lagian apa-apaan sih?'
'Apakah meminta disuapi sejak tadi tidak cukup membuatnya puas sehingga sekarang Raja malah kembali ngotot ingin menyuapi aku juga dengan makanan yang sama, yang berasal dari piring yang sama, bahkan juga dengan sendok yang sama!'
Kira-kira seperti itulah riuh rendah bathin Naysila berkecamuk, terlebih saat menyadari bahwa semua tingkah polah Raja tersebut terus dilakukan dengan penuh rasa percaya diri, tepat didepan batang hidung keluarganya sendiri ... Seolah sengaja ingin pamer kemesraan!
Memang, secara kasat mata siapapun yang menyaksikan ulah Raja saat ini pasti akan berpikir bahwa pria itu sedang bucin tingkat dewa kepada istrinya sendiri, namun lain halnya dengan segala praduga yang bercokol didalam otak Naysila.
Entah kenapa Naysila justru mencurigai kemanjaan Raja yang terkesan overdosis, dan sudah pasti ada sesuatu, yang membuat Raja sengaja bertindak seperti itu.
Untuk itulah Naysila meyakini seribu persen bahwa kalau bukan karena dilatar-belakangi oleh sesuatu, maka Raja tidak mungkin melakukan tindakan yang bisa memicu tingkat kebaperan yang sedemikian tinggi.
Bagaimana mungkin seorang Raja Adiguna bisa menyuapi Naysila dengan penuh perhatian, lengkap dengan senyum manis yang sudah pasti itu merupakan senyuman yang palsu, plus tatapan yang teramat sangat mencerminkan seseorang yang jatuh cinta namun Naysila yakin semua itu bohong belaka.
Raja nampak mendekatkan wajahnya seolah sedang menghirup aroma segar dari rambut Naysila yang tergerai, namun pada kenyataannya lagi-lagi pria itu ternyata hanya berniat membisikkan sebait ancaman sinis.
__ADS_1
"Kalau kamu masih tidak membuka mulutmu sekarang juga, maka aku akan menciummu."
Naysila meringis mendengarnya. Ia tidak merasa kaget sama sekali karena sudah sejak awal meyakini bahwa sikap Raja yang tulus itu tidak benar adanya.
"Aku akan menghitung sampai tiga. Kalau tidak kamu lakukan juga maka aku bersumpah akan membuatmu malu sekalian."
Bak sebuah bisikan setan yang disertai senyum licik yang sempurna, Naysila pun tak bisa berbuat apa-apa selain dibuat tunduk oleh ancaman yang telah membuatnya mau tak mau membuka mulut, bersedia menerima satu suapan penuh dari Raja.
"Anak pintar ..."
Kalimat jahat yang berasal dari mulut yang tak kalah jahat milik Raja kembali terdengar menyapu gendang telinga Naysila.
Sementara itu Naysila tidak lagi berusaha merespon apapun selain hanya mengunyah dalam diam, meskipun sepasang matanya yang menentang tajam kilau mata Raja tak bisa berbohong ...
Tentang seberapa besar rasa kesal yang membumbung didalamnya ...
__ADS_1
NEXT ...