
Pov pada beberapa jam yang lalu ...
Sepasang telaga jernih yang terbingkai apik oleh bulu-bulu mata yang lentik nampak terperangah menatap Raja yang justru terlihat stay cool.
"Tuan, kalau Tuan tidak mau aku memanggil Tuan dengan sebutan 'Tuan', lalu aku harus memanggil dengan sebutan apa ...?"
Wajah Raja terkesan pura-pura berpikir, padahal sesungguhnya ia telah merencanakan semuanya dengan baik dan tinggal menunggu moment yang tepat saja.
Wajah Naysila masih memperlihatkan kebingungan dalam menanti Raja yang pada akhirnya menjawab pertanyaannya dengan begitu lugas.
"Panggil aku 'Sayang' ...!"
Mendengar itu Naysila sontak terperangah.
"Egh? T-tidak ... Tidak ... Aku tidak mau ..."
Raja ikut terhenyak mendengar penolakan tegas Naysila yang seolah tanpa sedikitpun tawar-menawar didalamnya, dan meskipun wajahnya mulai mengeras, toh pria itu masih tetap berusaha mengendalikan emosi yang hendak meluap demi rasa gengsinya semata.
"Kalau begitu, bagaimana dengan panggilan 'Suamiku' ...?" tawar Raja lagi sedikit memaksa setelah terlebih dahulu bersusah-payah membuang rasa malu, namun sial-nya Naysila tetap menggeleng kuat-kuat.
"Itu apalagi." imbuh Naysila keras kepala.
"Kamu ..."
"Begini saja, Tuan, aku akan tetap memanggil 'Tuan' seperti biasa, karena rasanya itu lebih tepat."
Kali ini sepasang mata Raja benar-benar melotot dua-duanya.
"Tunggu sebentar! Memangnya sejak kapan kamu bisa mengaturku, ha-ah?" pungkas Raja berang.
Memang pada awalnya Raja sudah menahan diri mati-matian, namun kesabaran Raja yang hanya se-tipis tissue itu toh akhirnya koyak juga.
"Tuan ... Aku benar-benar tidak mau panggilan seperti itu, lidahku tidak terbiasa ..." rengek Naysila penuh permohonan.
"Kalau begitu biasakan!"
"Tapi Tuan ..."
"Jadi kamu ingin membantah?"
"Bukan begitu, Tuan ..."
"Pokoknya aku tidak mau tau. Kalau sampai kamu masih ingin memanggilku 'Tuan' lagi ... maka kamu akan tahu sendiri akibatnya!"
__ADS_1
Mendengar ancaman tersebut nyali Naysila mau tak mau langsung menciut.
"Lagian, aku hanya memintamu merubah panggilan demi tidak terdengar aneh ditelinga semua orang. Lalu apa perlu kamu menolak se-keras itu ...? Kemudian ekspresi wajahmu ... Kenapa juga ekspresi wajahmu bisa se-kaget itu hanya karena masalah sepele ...?!"
Naysila membisu mendengar untaian kalimat ketus yang seperti biasa meluncur dari bibir Raja dengan seenaknya.
'Apa katanya ...?'
'Masalah sepele ...?'
'Memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' dan 'Suamiku' ... Bukankah itu terlalu berlebihan untuk sebuah sandiwara yang akan berakhir kurang dari sembilan bulan ...?'
Sungguh, Naysila merasa dirinya menjadi sedikit frustasi memikirkan setiap jengkal keanehan demi keanehan Raja setiap hari.
Tapi sebaliknya, menyadari kebimbangan Naysila, diam-diam malah membuat Raja tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, Tuan, mulai sekarang aku akan berusaha mengganti panggilan untuk Tuan ..." putus Naysila yang lagi-lagi memilih mengalah, karena pada dasarnya dirinya memang tak mungkin menang jika harus mendebat Raja.
"Nah ... Menurut begitu kan lebih baik ..."
'Iya, Baiklah, Tuan semena-mena! Lagipula kalau dipikir-pikir untuk apa aku membuang energi dan berdebat denganmu, padahal aku bahkan tahu persis bahwa aku tak mungkin menang dari pria egois seperti dirimu ...!'
Rutuk Naysila dalam hati, gondok setengah mati.
Naysila mengawasi sosok Raja tanpa minat. "Terserah Tuan saja ..." pungkasnya, seolah ia telah sepenuhnya yakin tak ingin memperpanjang pembicaraan yang agak memalukan itu lebih lama.
Raja pun tersenyum jumawa mendengar nada pasrah yang terkandung dalam ucapan lirih Naysila.
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kamu harus mengingatnya dengan baik ..."
Naysila mengangkat wajahnya sedikit, sehingga kedua pandangan mereka bertemu dengan jarak yang begitu dekat, namun Raja malah menambah langkah sehingga mengikis jarak diantara mereka.
Langkah Naysila yang refleks ingin mundur tertahan oleh karena sebuah lengan kekar yang kini telah berhasil menahan pinggangnya yang ramping terlebih dahulu.
'Egh ... Pria aneh ini mau apa lagi ...?'
Sekujur tubuh Naysila menegang saat menyadari, dengan wajah yang dipenuhi seringaian jahat, perlahan namun pasti wajah Raja semakin mendekat, terus mendekat, dan baru terhenti saat wajah pria itu benar-benar tersuruk diatas bahu kanan naysila yang menegang sempurna.
Diantara helai rambut Naysila yang wangi meriap, sebuah bisikan iblis berisikan ancaman gila terdengar jelas ditelinga.
"Panggil aku 'Sayang', dan jangan pernah kamu melupakannya. Karena sekali saja kamu lupa ... Maka aku tidak akan pernah segan untuk menghukum kecerobohanmu tanpa ampun ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kemarilah."
Raja menepuk permukaan pahanya, dengan senyum aneh yang terukir diatas bibirnya.
Naysila yang baru menyadari kehadiran Reza di dalam ruangan Raja, sontak menghentikan langkahnya. Dirinya menjadi semakin ragu mendekat terlebih saat menangkap gestur tubuh Raja yang seolah memberi signal bahaya.
"Kenapa malah berdiri disitu? Kemarilah ..."
Meskipun merasa ragu, langkah Naysila pun akhirnya tetap terayun mendekat dan ...
Bugh.
Glek.
Tepat seperti bayangan horor yang tadi sempat melintas dibenak Naysila, hanya dengan sebuah gerakan enteng namun cukup bertenaga, pria itu langsung meraih pergelangan tangan Naysila secepat kilat, kemudian menariknya kearah tubuhnya hingga bo kong Naysila mendarat tepat diatas paha Raja begitu saja.
"Kenapa lama sekali ...?" bisikan Raja memang terdengar lembut mendayu, namun sebenarnya cukup mengintimidasi manakala Raja mengucapkannya dengan bibir yang nyaris menyentuh tengkuk.
Naysila bahkan bisa merasakan dengan jelas bagaimana bulu kuduknya refleks meremang oleh karena hembusan napas hangat yang menyapu permukaan kulit belakang lehernya yang sensitive.
"Aaaa ... Aku berangkat hanya berselang satu jam dari dirimu. Bagaimana bisa terasa lama ...?" jawab Naysila sedikit terbata, dikarenakan perasaan malu dan tidak nyaman yang mendera secara bersamaan karena posisi tubuhnya yang bertengger diatas pangkuan Raja sementara dihadapan mereka ada Reza.
"Benarkah ...? Kenapa aku malah merasa sangat lama ya ...?" imbuh Raja seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Untung saja Naysila bisa menahan diri untuk tidak memekik, karena usai berucap dengan nada lirih, kali ini tindakan Raja terasa semakin ekstrim.
Wajah Raja yang mengendus belakang lengannya seperti seekor kucing yang sedang bermanja kepada majikannya membuat Naysila benar-benar merasa shock, namun Naysila berusaha menghadapi situasi tersebut dengan luwes.
'Pria ini sedang apa ...?'
'Dasar gila! Kenapa dia melakukan hal memalukan seperti ini tepat didepan batang hidung Reza ...?'
'Apakah dia benar-benar telah kehilangan rasa malu ...?'
Bathin Naysila semakin dipenuhi oleh pikiran-pikiran frustasi, namun Naysila tau bahwa ia tidak bisa memberontak apalagi protes dengan perlakuan Raja, karena kalau sampai Naysila berani melakukannya, seperti biasa ancaman bertubi-tubi pasti akan diterima Naysila setelahnya tanpa ampun.
Alhasil Naysila hanya bisa berusaha mengimbangi kegilaan Raja yang tak beralasan, terus bersandiwara agar terlihat baik-baik saja meskipun jantungnya yang berdegup kencang seolah ingin copot dari tempatnya.
Sementara itu ...
Mendapati pemandangan super uwwu yang tersaji tepat didepan hidungnya Reza hanya bisa tersenyum kecil, sedikit menunduk, berusaha membuang pandangannya yang terasa jengah ...
Bersambung ...
__ADS_1