MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
MENDADAK BERUBAH


__ADS_3

Moment sarapan di pagi ini sungguh tak seperti biasanya.


Karena setelah sekian lama, mendadak pagi ini Raja tiba-tiba saja ingin makan sendiri membuat Naysila yang tadinya telah siap menyuapi Raja akhirnya harus pasrah meletakkan kembali sendok yang ada ditangannya keatas piring.


"Aku akan makan sendiri." tutur Raja, acuh.


Untuk kesekian kalinya Naysila terhenyak mendengar penolakan Raja atas dirinya.


Barusan, saat Raja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe, Raja juga telah menolak Naysila saat hendak membantunya berpakaian, dan sekarang pria itu kembali menolak saat Naysila ingin menyuapinya seperti biasa.


'Ada apa ...?'


Rasanya Naysila ingin bertanya, namun pada kenyataan lidahnya telah sedemikian kelu meski hanya untuk mengucapkan sepatah kata.


"Sayang, kamu mau wafel lagi tidak? Aku ambilkan yah ..."


"Tidak. Aku sudah kenyang." tolak Raja.


Lagi-lagi tangan Naysila urung terangkat, guna menjangkau wafel yang biasanya merupakan salah satu menu sarapan kegemaran Raja, sehingga biasanya pria itu pasti akan memakannya lebih dari satu, namun kali ini tidak.

__ADS_1


Raja pun menyelesaikan acara makan paginya dengan cepat, tanpa berkata-kata lagi.


Pria itu bahkan tidak bertanya disaat Naysila tidak ikut menemani dirinya sarapan, dan hanya duduk sambil mengawasi Raja yang makan dari awal hingga akhir.


Tatapan keheranan serta meminta penjelasan atas sikap dingin Raja, yang seolah terpancar dari sepasang bening milik Naysila bahkan tidak digubris Raja sama sekali.


Raja menyeka mulutnya dengan selembar tisue sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.


"Aku akan pergi ke perpustakaan. Tolong jangan coba-coba menggangguku." ucap Raja seraya mengayunkan langkahnya kearah pintu, dan menghilang di sana dalam sekejap mata.


Hari ini, Raja memang telah memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Namun keputusannya itu tidak serta-merta berarti Raja benar-benar berniat tidak bekerja.


Alih-alih mempergunakan hari senggangnya untuk istirahat seperti pesan dokter Ryan, pria itu justru memilih menghabiskan waktu seharian didalam perpustakaan yang juga merupakan ruang kerja yang letaknya ada dibagian paling kiri dari lantai tiga.


"Iya? Ada apa Asisten Jo?" ujar Naysila sedikit terkejut mendengar sapaan yang tiba-tiba.


Naysila membalikkan tubuhnya guna mendapati sosok Asisten Jo yang telah berdiri tegak dibelakang punggungnya.


"Sekali lagi maaf jika saya mengagetkan, Nyonya. Tapi terus terang saya sungguh tidak bermaksud seperti itu ..."

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa Asisten Jo. Katakan saja, apa yang membuatmu datang ke sini ...?" tepis Naysila sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Nyonya Naysila, aku baru saja menerima telepon dari Nyonya Dian Melinda. Katanya beliau ingin datang menjenguk Tuan Raja yang sudah siuman ..."


Naysila terpaku ditempatnya mendengar informasi yang dibawa oleh Asisten Jo untuknya, perihal sang Ibu Mertua yang berniat datang berkunjung.


"Apakah Tuan Raja sudah diberitahu?" tanya Naysila kemudian.


"Tuan Raja belum mengetahuinya, karena menurut Nyonya Dian Melinda, ponsel Tuan Raja masih tidak bisa dihubungi."


"Kalau begitu biar aku saja yang akan memberitahukannya." pungkas Naysila. "Oh. Iya, kapan tepatnya ibu akan berkunjung."


"Sore ini, Nyonya."


"Oh, baiklah, Asisten Jo. Biar aku saja yang akan menemui langsung Tuan Raja diruang kerjanya ..."


"Iya Nyonya, kalau begitu aku akan kembali kebawah sekarang ..."


Naysila pun mengangguk, dan Asisten Jo pun akhirnya berbalik dan melangkah kearah lift yang akan membawanya kelantai bawah, guna meneruskan kembali semua tugas dan pekerjaannya atas seluruh perputaran aktifitas didalam rumah megah tersebut, yang telah sekian tahun menjadi tanggung jawabnya.

__ADS_1


NEXT ...


🧕 : Jangan lupa di Like and Support yah ... 🙏


__ADS_2