MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
GENCATAN SENJATA


__ADS_3

'Apa yang harus aku lakukan ...?'


'Aku sudah mencoba segala cara, mulai dari bersikap dingin, acuh, kasar, bahkan memaksa ... Tapi hati wanita ini seolah berada di puncak tertinggi sebuah menara yang tak bisa aku jangkau ...'


'Apa mungkin karena aku kurang bersabar ...? Juga kurang berusaha ...?'


Raja memang telah menarik dirinya dalam beberapa inchi usai menyadari penolakan Naysila yang terlihat nyata, lebih memilih sedikit menepi sambil menopang kepala dengan sebelah tangan, memperhatikan dengan seksama sosok Naysila yang masih mengkerut memeluk dada, dengan sepasang bola mata indahnya yang terpejam kuat-kuat.


'Raja Adiguna, ini sangat konyol. Bagaimana mungkin pria se-hebat dirimu yang punya segalanya, tidak bisa memiliki seutuhnya, seorang wanita yang sebelumnya hanya merupakan seorang perawat lansia ...?'


Aneh memang, tapi Raja benar-benar mendapati kenyataan, bahwa saat ini didalam lubuk hatinya sedang riuh tertawa, menertawakan dirinya sendiri.


'Sepertinya sudah saatnya aku melakukan gencatan senjata ...'


Raja membathin lagi namun kali ini ia membathin dengan penuh keyakinan, usai dirinya di bully oleh dirinya sendiri dengan sedemikian rupa.


Wajah polos dengan raut ketakutan yang nyata milik Naysila masih terlihat jelas di pelupuk mata Raja, yang tengah berusaha keras menepis amarahnya agar tidak membuncah.


Raja telah berbulat tekad, bahwa kali ini dirinya benar-benar ingin menyerah ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hening.


Hening.


Hening.


'Ada apa ...?'


Naysila tidak bisa mencegah hatinya untuk menjadi tidak penasaran, dan karena itulah diam-diam ia kembali membuka matanya yang semula terkatup kuat dengan perlahan, berusaha mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi, yang tentu saja tak bisa ia ketahui dalam keadaan mata yang terpejam.

__ADS_1


'Astaga ...!'


Detik berikutnya Naysila pun terkesiap hebat, begitu sadar bahwa Raja masih ada di sana, masih mengawasi dirinya lekat-lekat sambil menopang kepala, belum juga beranjak kemana-mana.


"Tidak perlu mengintip."


"Aaaaa ... T-tidak ... Aku ... Aku tidak mengintip ..." pungkas Naysila gugup bercampur malu, karena kedapatan secara terang-terangan bahwa dirinya memang berniat mengintip.


"Naysila ..."


"I-iya, Tuan ..."


Wajah Raja sesaat berubah keruh mendengar panggilan 'Tuan' yang terdengar menyebalkan, lagi-lagi meluncur dari bibir mungil milik Naysila.


Entah kenapa wanita itu seolah tidak pernah jera meskipun Raja telah memberikan hukuman berkali-kali.


'Jangan-jangan dia memang menyukai hukumannya ...'


Melihat Raja yang diam saja, membuat setitik penyesalan muncul di sudut hati Naysila, apalagi saat mendapati Raja yang tak lagi meledak meskipun dirinya kembali lancang karena memanggil Raja dengan panggilan yang dibenci oleh pria itu.


"M-maaf, S-Sayang ..."


Dengan bersusah payah akhirnya Naysila berusaha meralat kesalahannya, khawatir jika Raja akan kembali menghukumnya dengan tindakan yang seolah mampu membuat jiwanya meledak.


Yah, tindakan yang selalu diawali Raja dengan penuh kemarahan, namun selalu berakhir dengan kelembutan, dan tindakan yang selalu dibenci olehnya, namun anehnya tak pernah bisa ia tolak.


Tangan kanan Raja terangkat menyentuh rambut Naysila yang terkejut setengah mati mendapati perlakuan lembut Raja yang kini sedang membelai, padahal sudah jelas-jelas baru saja Naysila telah membuat kesalahan.


"Kalau seperti itu, kan terdengar lebih baik ..."


Senyum yang terukir dipermukaan bibir Raja hampir membuat Naysila mengucek kedua matanya sekaligus, takut salah melihat.

__ADS_1


'Tumben dia tidak marah. Apakah pria dihadapanku ini benar-benar Raja Adiguna ...?'


Naysila terdiam, hanya sepasang matanya yang takjub menatap Raja yang terlihat begitu tenang.


"Nay ..." panggil Raja lagi, masih sambil membelai lembut setiap helai rambut yang mampu terjangkau oleh jemarinya.


"I-iya ...?"


Tarikan napas Raja terdengar jelas, seolah lewat oksigen yang terhirup tersebut, Raja mencari tambahan kekuatan, sebelum akhirnya berucap lirih ...


"Mari kita berdamai ..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah, membuat Utari kembali mengecek layar ponselnya untuk memastikan jam berapa kepulangan Reza malam ini.


Nyaris jam dua belas malam.


Rasanya dengan jam seperti itu bisa dibilang sangat larut sekalipun dengan alasan lembur.


Utari tak berniat beranjak sedikitpun dari duduknya yang sejak tadi menghuni sofa single yang letaknya disudut ruang tamu, meskipun bunyi anak kunci yang terputar pada daun pintu terdengar jelas ditelinga.


Sosok Reza pun muncul dengan penampilannya yang sedikit kusut.


Kancing atas kemejanya telah terbuka, dan rambutnya sedikit acak-acakan.


Pria itu sama sekali tak menyadari ada sepasang mata indah yang kerap mengawasi setiap gerak-geriknya saat berusaha melintasi ruang tamu yang agak temaram, karena sebagian penerangannya telah dipadamkan ...


Next ...


🧕: Jangan lupa Like and Supportnya yah ... 🙏

__ADS_1


__ADS_2