MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
WHO KNOWS


__ADS_3

Menyadari ada yang datang, Naysila pun buru-buru mengangkat wajahnya.


Awalnya Naysila berpikir bahwa yang datang itu adalah Raja, tapi ternyata dugaannya meleset jauh, karena pada kenyataannya justru sosok tinggi ramping milik Utari yang berjalan mendekati Naysila sambil tersenyum tipis dengan membawa sebuah nampan di tangan.


"Aku membawakan teh untukmu ..." ujar Utari penuh keramahan, sembari menaruh segelas teh dan sebuah toples yang penuh berisi kue nastar keatas meja.


"Terima kasih, Utari ..." ucap Naysila singkat.


"Silahkan, Nay ... Aku sengaja membuatnya hangat, agar bisa segera diminum ..."


"Iya, terima kasih ..." lagi-lagi Naysila mengucapkan kalimat yang sama, bingung harus mengobrol apa dengan wanita cantik dengan latar belakang keluarga yang masih merupakan kerabat jauh dari keluarga Adiguna itu.


Demi menghargai tawaran Utari, Naysila pun memilih buru-buru menyimpan ponsel kedalam tas tangan miliknya terlebih dahulu, sebelum akhirnya meraih cangkir teh yang baru saja dihidangkan Utari dan menyeruputnya sedikit.


"Bolehkah aku duduk di sini untuk menemanimu?" tanya Utari saat Naysila menaruh kembali cangkir teh miliknya keatas meja.


"Kenapa masih bertanya? Tentu saja boleh, Utari ..."


Mendengar itu Utari pun langsung menghempaskan tubuhnya perlahan pada salah satu kursi yang ada di teras samping tersebut, sehingga membuat posisi duduknya dengan Naysila menjadi berhadap-hadapan.


"Apakah pembicaraan Ibu dan Raja masih berlangsung ...?" tanya Naysila pada akhirnya, setelah bersusah payah memutar otak demi mendapatkan sebuah bahan obrolan yang standar.


Utari terlihat mengangguk. "Iya, tadi Ibu sempat keluar sebentar dari ruang kerja Ayah hanya untuk memanggil Reza, kemudian Ibu juga menyuruhku ke sini untuk menemanimu sekaligus menyuguhkan secangkir teh ..."


"Oh ya ...?"


"Iya, Naysila, kata Ibu, Raja ingin membicarakan sebuah hal penting dengan Reza ..." ucap Utari lagi sambil menatap Naysila, masih dengan senyum dibibir. "Sepertinya alasan Ibu memintaku untuk menemanimu, karena mereka memerlukan waktu yang khusus untuk bicara ..."


"Maaf jika karena keberadaanku, jadi merepotkanmu juga ..."


"Tidak sama sekali. Aku justru senang bisa mempunyai kesempatan berbincang denganmu. Selama ini ... Kita bahkan belum pernah mengobrol ..."


Naysila tersenyum menanggapi kalimat demi kalimat Utari, meskipun di dalam hati dirinya masih bingung mencari topik pembicaraan yang pas untuk mereka karena seperti yang diutarakan oleh Utari barusan, bahwa selama ini mereka memang tidak pernah berbicara akrab apalagi hanya bicara empat mata seperti sekarang.


Dulu, pada waktu status Naysila masih sabagai perawat untuk Tuan Rafly Adiguna, jangankan menyapa, menolehkan kepala kepada perawat lansia rendahan seperti dirinya pun Utari seolah enggan.


Sejujurnya selama ini Naysila juga tidak merasa terlalu terusik dengan sikap Utari yang acuh kepadanya.


Rasanya wajar saja jika seorang Nona muda bersikap angkuh, bukan?


Tapi menyadari saat ini Utari bahkan rela menyeduh teh dan mengantarkannya langsung kehadapannya telah membuat Naysila merasa takjub.

__ADS_1


Ternyata seperti inilah rasanya menjadi istri dari seorang Raja Adiguna.


Tak peduli kehadiranmu disukai atau tidak, semua orang bahkan tak lagi peduli dari mana asal-muasal latar belakang seorang Naysila, karena kenyataannya saat ini dirinya merupakan istri sah dari seorang Raja Adiguna yang berkuasa.


"Naysila, apa kamu tidak ingin sekalian mencicipi kue-nya ...?"


Kalimat Utari telah membuat Naysila tersadar dari lamunan panjang.


"Aku sendiri loh yang membuatnya ..." pungkas Utari lagi, terdengar sedikit pamer.


"Benarkah ...?" sepasang mata Naysila menyorot kagum, terlebih saat melihat anggukan kepala dari Utari tanda mengiyakan.


Utari terlihat mencondongkan tubuhnya kedepan guna membuka penutup toples yang berisikan kue nastar, agar Naysila bisa mencicipi kue yang merupakan hasil buah tangannya.


Demi menghargai Utari, meskipun sesungguhnya Naysila tidak terlalu menyukai jenis kue kering apapun termasuk nastar, mau tak mau Naysila pun berniat mencicipinya.


"Bagaimana, Nay?" tanya Utari tak sabar, tepat setelah gigitan pertama Naysila.


"Enak ..."


"Serius ...?"


"Hhhmm ... Iya, ini enak ..."


Tekstur kuenya lembut, manisnya pas, dan ada rasa gurih yang sepertinya berasal dari parutan keju yang tercampur pada adonan mentega dengan takaran yang tepat.


"Syukurlah kalau kamu juga menyukainya. Kemarin aku sengaja membuat kue nastar dengan stock lebih banyak dari biasanya, agar selain untuk Ibu, aku juga ingin membaginya untukmu dan Raja ..."


"Benarkah?"


"Hhmm."


"Wah Utari ... Terima kasih ya, kamu baik sekali ..." Naysila yang sama sekali tak menyangka jika Utari bahkan telah memikirkan untuk memberikan oleh-oleh tersebut untuk dirinya dan Raja, sontak tak bisa menyembunyikan rasa suka citanya.


Utari terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Bukan pemberian yang berarti ..."


"Itu tidak benar. Selain itu ... Aku juga sungguh kagum karena ternyata kamu sangat mahir membuat kue."


"Kalau kamu mau, kapan-kapan aku bersedia mengajarimu membuat kue nastar yang enak ..." tawar Utari dengan wajah semringah.


"Boleh juga. Jika nanti Raja menyukainya, aku rasa belajar membuatnya sendiri merupakan ide yang bagus dan ..."

__ADS_1


"Raja pasti menyukainya."


Naysila terhenyak, menyadari ucapannya yang telah disanggah Utari dengan penuh keyakinan.


"Apa ... Maksudmu dengan ..."


"Maksudku adalah kue nastar buatanku, sejak dulu Raja sangat menyukainya ..."


Naysila terpaku atas kalimatnya yang kembali disanggah Utari sebelum terucap sempurna.


"Jadi kamu belum mengetahuinya, Nay ...?"


Naysila menggeleng perlahan, tanpa kata.


Segaris senyum getir tertangkap samar diatas raut wajah yang mencoba tetap tersenyum meskipun sulit.


"Aku ... Setelah sekian lama ... Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali membuat kue nastar untuk Raja ..."


Naysila menelan ludahnya kelu, masih belum bisa memastikan kemana arah kalimat Utari hendak bermuara.


"Mmm ... Naysila, aku mohon ... Tolong jangan salah sangka ..."


Kepala Naysila memang menggeleng, namun sesungguhnya dirinya masih merasa bingung meskipun raut wajahnya terkesan datar.


"Kamu harus tahu, bahwa selain aku melakukannya atas persetujuan Reza dan Ibu, aku juga melakukannya semata-mata demi menunjukkan rasa terima kasihku untuk Raja, yang telah bersedia memenuhi undangan Ibu dan Reza malam ini ..."


Naysila membisu, masih belum tahu harus berkata apa.


Benak Naysila riuh menebak-nebak, mengapa sejak tadi Utari membicarakan hal yang terkesan aneh dan tidak di mengerti oleh dirinya.


"Naysila, aku senang melihat Raja akhirnya bisa menerimamu, sekalipun kalian menikah hanya demi memenuhi permintaan Kakek ... Tapi aku sungguh berharap, kalian benar-benar langgeng ..."


Naysila masih diam, belum mau menyimpulkan sesuatu yang tidak ia ketahui secara pasti duduk perkaranya.


Namun jika menilik gerak-gerik Utari yang semakin lama semakin salah tingkah, Naysila bahkan bisa menyimpulkan sendiri bahwa sepertinya dimasa lalu ... Antara Raja dan Utari pernah terikat oleh sebuah hubungan spesial, yang bisa jadi semua itu merupakan hubungan ...


Cinta ...?


Entahlah ...


Who knows ...?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2