MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

Setitik cahaya menyilaukan seolah datang dari kejauhan, kemudian lambat laun semakin dekat ... Mendekat ... Dan ...


"Selamat pagi ..."


Sapaan suara lembut terdengar bak sebuah simphony di telinga ...


'Suara itu ...'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raja tersentak bangun, kemudian ia terduduk begitu saja diatas pembaringan dengan wajah ling-lung.


Sebuah senyum manis dibibir yang berwarna natural tanpa polesan, merupakan pemandangan indah pertama yang dilihat oleh Raja, sekaligus sanggup membuatnya terpana selama berjenak-jenak lamanya.


"Ada di mana aku ...?" ucap Raja dengan tampang bodoh.


Mendengar pertanyaan Raja tersebut, Naysila justru tertawa kecil.


Tak langsung menjawabnya namun langkah Naysila terayun kesisi ranjang, guna menaruh nampan yang sejak awal berada dalam genggaman kedua tangannya terlebih dahulu, setelah itu barulah Naysila menaruh tubuhnya ke sisi ranjang, seraya menatap Raja yang terus mengawasinya dengan tatapan heran seolah menuntut jawaban.


"Pertanyaanmu aneh sekali ..." cetus Naysila masih dengan senyum manisnya yang awet.


Kepala Raja sontak menoleh kesana-kemari, dan alisnya semakin bertaut manakala menyadari ternyata dirinya tengah berada di dalam kamarnya sendiri.


'Bukankah terakhir kali aku berada di Rumah sakit Medika karena Naysila yang sedang sakit ...?'


'Tapi kenapa sekarang justru aku yang merasakan tubuhku yang lemas, sementara wanita yang seolah tak bisa berhenti tersenyum itu terlihat baik-baik saja ...?'


'Apa aku sedang bermimpi ...? Atau berhalusinasi ...?'


Raja memijat kedua alisnya, dikarenakan kepalanya menjadi pening mendadak hanya karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Masa iya kamu lupa dengan kamarmu sendiri ... Mmm ... Sayang ...?"


Sepasang mata Raja langsung melotot begitu kepalanya terangkat.


'Panggilan lembut itu ...'


Pipi Raja sontak bersemu, namun yang ada Naysila malah tertawa kecil menyaksikan Raja yang berusaha menyembunyikan diri bahwa dirinya sedang tersipu.


"Ada apa? Bukankah aku memang harus memanggilmu seperti itu? Kan kamu sendiri yang memintaku agar ..."


"Iya, Iya, tidak perlu mengingatkan aku se-keras itu. Aku belum amnesia sampai-sampai bisa lupa dengan titahku sendiri ..."

__ADS_1


"Buktinya kamu bisa lupa dengan kamarmu sendiri ..."


"Aku bukan lupa, tapi hanya sedikit bingung."


"Kenapa harus bingung?"


"Wajar jika aku merasa bingung. Seingatku, terakhir kali aku sedang berada di Rumah Sakit Medika karena dirimu ... Lalu kenapa tiba-tiba aku bisa berada di kamarku?"


Naysila hanya mengulum senyum, atas setiap selorohan ketus Raja. Tatapan Naysila pun menyapu lembut.


"Apakah sekarang kamu sudah merasa baik-baik saja?"


Raja melirik Naysila sedikit.


Sesungguhnya Raja merasa agak canggung dengan pembicaraan mereka saat ini, karena Naysila yang tidak pernah lagi menyematkan panggilan 'Tuan' seperti biasanya, lebih memilih mengatakan 'Kamu' dan tadi bahkan sempat memanggilnya 'Sayang'. Akhhh ...


"Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya aku sedang sakit ..." desis Raja acuh, sambil mengalihkan wajahnya.


"Kamu memang sedang sakit, Sayang ..."


Deg.


Jantung Raja berdebar lagi.


'Ada apa sih dengan wanita ini ...?'


Raja merutuk dalam hati, oleh karena dirinya yang lagi-lagi dibuat merona salah tingkah karena panggilan 'Sayang' untuk kali kedua, yang terdengar begitu merdu mendayu di telinga.


Naysila yang tidak ingin membuat Raja semakin salting brutal akhirnya memilih beranjak dari duduknya.


"Berbaring saja dulu. Kata dokter Ryan, kamu butuh istirahat yang cukup ..."


"Tunggu."


Langkah Naysila terhenti, dikarenakan pergelangan tangannya yang telah dicekal lembut.


Namun manakala Naysila berpaling, sebuah wajah meringis milik Raja terlihat jelas, membuat Naysila sadar bahwa tangan yang digunakan Raja untuk mencekal pergelangan tangannya merupakan punggung tangan yang pada beberapa jam yang lalu baru saja terbebas dari jarum infus yang menancap di sana.


"Astaga, hati-hati, Sayang ..."


'Tuh, kan ... Lagi-lagi memanggilku seperti itu ... Apa dia sengaja ingin membuat aku khilaf ...?'


Naysila buru-buru meraih punggung tangan yang masih terdapat perban kecil diatasnya, menaruhnya hati-hati keatas bantal yang empuk sembari ia menghempaskan kembali tubuhnya ke tempat semula agar bisa mengusap punggung tangan Raja.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa ada perban di punggung tanganku? Apakah aku terluka?" tanya Raja beruntun, sedikit panik.


"Tenanglah Sayang ... Ini bukan luka, tapi bekas jarum infus ..."


"Jarum infus ...?!" Raja terhenyak mendengarnya.


"Iya, jarum infus. Dokter Ryan baru saja mencabutnya tadi pagi, karena itulah kamu masih merasakan sakit dari bekasnya ..."


"Kenapa aku harus di infus? Apa yang terjadi ...?"


Sepasang mata Raja dan Naysila sontak bertaut.


'Jadi dia tidak ingat sama sekali apa yang terjadi ...?'


Naysila membathin.


'Kenapa bola matanya indah sekali ...?'


Bathin Raja, yang melenceng jauh dari topik.


'Astagaaaa ... Kenapa otakku malah membahas tentang bola mata Naysila sih ...?'


Membathin lagi, kali ini sebelah tangannya yang lain refleks menyentuh tengkuk, karena sebelah tangannya yang satu masih berada diatas empuknya bantal, sembari menikmati usapan lembut jemari Naysila ...


Bersambung ...


🧕 : Curhat dikit yah ... 🙂


(Rasanya ingin menyerah ...)


Tahukah kalian bahwa pembaca novel ini dalam sehari sering tidak mencapai 20 orang bahkan 10 orang ...?


Please, ini sangat berat bagi seorang author, untuk terus menulis naskah minim pembaca hingga selesai.


Kerinduanku adalah jika jumlah pembacaku bisa naik. Namun segala daya tetap tak membuahkan hasil, sehingga akhirnya aku sering males untuk Up (Maaf🥺)


Semua ini harus aku katakan, agar kalian mengerti. Bahwa aku selalu berusaha meneruskan karya:


- MENIKAHI PERAWAT LANSIA, dan


- HALLO, OM ...!


Yang saat ini sedang ongoing. Tapi ketahuilah, rendahnya minat pembaca membuat author tidak mendapatkan apa-apa, sekalipun puluhan bab sudah kami persembahkan untuk Noveltoon dan Pembaca, dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran.

__ADS_1


Kenapa tidak banyak pembaca yang berminat membaca karya-karyaku ...?


Entahlah ... mungkin karena semua karyaku memang tidak semenarik yang sebagian besar pembaca inginkan, apalagi Beranda Rekomendasi hanya milik mereka yang itu-itu saja, karena Noveltoon terlalu pilih kasih sehingga hanya mengelu-elukan yang pemes saja ... 😌


__ADS_2