MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
SYARAT


__ADS_3

"Saat aku pergi, sebaiknya kamu harus segera bersiap, karena dalam satu jam berikutnya seorang supir akan datang menjemputmu ..."


"Baiklah,"


Raja melirik Naysila yang sesaat lalu saat mereka berdebat terlihat manyun, namun sekarang wajah wanita itu kembali berseri-seri ... Bak secercah sinar mentari dipagi hari!


'Apakah dia harus merasa se-senang itu hanya karena hendak pergi keluar rumah dan mengunjungi sebuah pasar tradisional ...?'


'Di rumah ini, aku bahkan telah menyediakan semua fasilitas apapun untuk membuatnya senang dan merasa betah, tapi sejauh ini aku bahkan tidak pernah melihat Naysila tersenyum lebar seperti sekarang ...'


Jujur, mendapati semua kebahagiaan yang terpancar nyata dari wajah Naysila, sesungguhnya membuat Raja ikut merasa senang.


Tapi menyadari kebahagiaan wanita justru tidak melibatkan dirinya sama sekali, kenyataan tersebut mau tak mau membuat Raja juga merasa dongkol setengah mati.


Seolah teringat akan sesuatu, Raja pun merogoh ponsel miliknya yang ada di saku celana dengan tergesa-gesa.


"Oh iya, aku hampir lupa kalau aku harus kembali memerintahkan Asisten Jo untuk meminta Joice datang dan membantumu bersiap ..."


"Egh, tidak ... Tidak perlu, Tuan ..."


Naysila menepis buru-buru, membuat gerak jemari Raja yang terlanjur menekan panggilan cepat untuk memanggil Asisten Jo sontak membatalkan panggilan tersebut.


"Tuan, aku tidak memerlukan keahlian Nona Joice untuk berdandan ..."


"Lalu mau kamu apakan wajah jelekmu itu kalau tidak dibantu oleh orang berpengalaman seperti Joice?"


Meskipun tidak berkeinginan menggubris, namun semburat merah langsung menghiasi wajah oval Naysila begitu mendengar Raja yang seperti biasa sangat gemar mengatai wajahnya jelek.


"Aku hanya ingin menemui nenek itu saja, Tuan, bukan menghadiri makan malam atau pesta ..."


"Tapi ..."


"Lagipula saat datang ke sana aku kan harus mengenakan topi dan masker, lalu untuk apa berdandan berlebihan ...?"


Raja terdiam.


Sepasang mata Raja kembali melirik Naysila yang masih betah berdiri tegak, tak jauh dari dirinya.


"Kamu yakin?" selidik Raja seolah ingin memastikan.


Naysila terlihat mengangguk kuat-kuat.


"Baiklah kalau begitu." putus Raja pada akhirnya. "Ngomong-ngomong, sebelum kamu pergi, aku punya beberapa syarat yang harus kamu penuhi ..."


Sepasang alis Naysila yang terbentuk alami terlihat mengerinyit nyata.


'Syarat yang harus aku penuhi ...?'

__ADS_1


'Memangnya syarat apa lagi ...?'


"Tetaplah menjaga jarak dengan siapapun."


"Baiklah, Tuan, aku akan mengingatnya." sambut Naysila bersungguh-sungguh.


"Kedua, saat berada di sana, jangan pernah melepaskan topi, masker, dan juga sarung tangan."


"Tapi, Tuan, bukankah aku harus bicara dan menghaturkan rasa terima kasih untuk Nenek? Sepertinya akan terlihat tidak sopan jika aku ..."


"Baiklah, baiklah, kalau begitu aku mengijinkanmu melepas masker, tapi hanya jika ingin menghaturkan rasa terima kasih untuk nenek itu. Kemudian yang ketiga ..."


'Cih, memangnya dia punya berapa banyak syarat ...?'


Mau tak mau Naysila masih sempat membathin, begitu syarat dari Raja memasuki point ketiga.


"Saat pulang ke rumah, kamu harus benar-benar meyakinkan tubuhmu bersih dari semua kuman-kuman yang ada diluar sana."


"Iya, Tuan, aku mengerti. Kalau perlu aku akan berendam selama setengah jam di jacuzzi ..." pungkas Naysila cepat, guna mencegah Raja menjadi semakin rewel.


"Kemudian yang terakhir ..."


'Apa ...? Masih ada lagi ...?'


Dalam hati Naysila terhenyak, namun tentu saja tak ingin menampakkannya dihadapan Raja.


"Ha-ah?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesungguhnya dalam hati Reza pun bingung, tentang alasan apa yang membuat Raja yang kemarin meminta dirinya pergi menggantikan pria itu ke lokasi lapak yang baru dari masyarakat yang telah direlokasi, tiba-tiba pagi ini memintanya untuk pergi dengan membawa serta Naysila yang notabene adalah istrinya.


Tapi setelah Raja mengungkapkan apa alasannya sehingga Raja ingin Naysila ikut serta, tentu saja Reza pun lagi-lagi bersedia memenuhi permintaan Raja sebagai atasan, yakni pergi bersama Naysila demi menemui nenek penjual mainan grosir, yang dua hari lalu telah menghadiahi Naysila sebuah harmonika berwarna putih.


Yah, Raja memang telah mempercayakan Reza dalam menggantikan dirinya untuk bertemu dengan para pedagang, diakibatkan kondisi lapak yang baru ternyata menjadi semakin ramai dari hari ke hari.


Kondisi Raja yang sensitif dengan keramaian membuat Reza paham mengapa Raja berubah pikiran. Namun keikutsertaan Naysila bersamanya, merupakan hal berbeda. Karena meskipun Raja langsung yang memberikan titah, namun Reza bisa melihat dan merasakan dengan jelas ada keengganan yang besar didalam perintahnya.


Nyaris di seumur hidupnya Reza sudah mengenal Raja.


Mereka memang tidak pernah dekat, tapi bukan berarti Reza buta dengan tindak-tanduk adik tirinya yang kini terlihat uring-uringan.


Sangat terlihat bahwa sesungguhnya Raja tidak rela membiarkan Naysila pergi bersama Reza, namun entah kenapa juga di lain pihak pria itu justru memerintahkan hal yang sebaliknya.


Apakah se-cemburu itu Raja Adiguna melepaskan Naysila bersama orang lain sekalipun itu dengan Reza?


Apakah itu artinya Raja benar-benar telah jatuh hati dengan Naysila?

__ADS_1


Apakah itu juga berarti Utari bukan lagi wanita yang menempati tempat istimewa dihati adik tirinya yang angkuh itu?


'Kalau memang demikian ... Haruskah aku senang ...?'


Bathin Reza sempat diliputi tanya, namun memilih memendam semua pemikiran-pemikiran tersebut yang mendadak membuatnya tak nyaman.


"Raja, apakah aku perlu menjemput Naysila?" tanya Reza hati-hati, karena meskipun telah mendengar sendiri titah Raja yang telah mempercayakan dirinya mendampingi Naysila, namun di sisi lain sifat Raja yang selalu saja tak tertebak membuat Reza selalu mengingatkan dirinya berkali-kali untuk senantiasa ekstra hati-hati dalam bertindak.


"Tunggu di sini saja, karena aku telah menyuruh supir untuk menjemputnya, mungkin sebentar lagi dia sampai." jawab Raja acuh tak acuh, dengan intonasi suara yang malas-malasan, tanpa nada berarti.


Tatapan Raja bahkan nyaris tak teralih, karena Raja bicara sambil mengutak-atik ponsel yang ada ditangannya, dengan tubuh yang bersandar jenuh pada kursi kebesarannya.


Bukan apa-apa sih, bagi Reza, keadaan Raja saat ini bisa jadi merupakan cermin dari sebuah pemandangan yang super langka.


Dari bunyi sound yang keluar dari audio ponsel Raja, jelas terdengar itu berasal dari nada salah satu game online populer yang sedang pria itu mainkan.


Yah, saat ini Raja memang sedang bermain game online.


Bayangkan saja.


Seorang Raja Adiguna bermain game online di pagi hari, pada jam kerja aktif dengan wajah yang super bete, diantara tumpukan dua dokumen yang sama tinggi disudut kiri meja besarnya yang belum tersentuh sedikit pun, dan disebelahnya juga ada sebuah laptop besar dengan layarnya yang menyala, yang sama dengan nasib dari dua tumpukan dokumen, Raja seolah tak berminat sedikitpun untuk menyentuh pekerjaannya.


Ada apa gerangan?


Sepengetahuan Reza, pria workholic seperti Raja selalu hidup dengan ritme pekerjaan tingkat tinggi tanpa mengenal lelah, mana mungkin punya waktu dan memiliki hobby bermain game apapun.


Tapi kenapa sekarang Raja malah terlihat ...


Tok ... Tok ... Tok ...


Bunyi pintu yang diketuk tiga kali dari luar, sanggup memupus perang otak yang sedang berlangsung didalam benak Reza.


"Permisi, Tuan, Nyonya Naysila sudah tiba ..." suara Anggita yang merupakan sekretaris Raja terdengar begitu daun pintu terpentang.


"Suruh masuk." singkat Raja, sambil keluar begitu saja dari pertempuran yang sedang berlangsung pada game online yang ia mainkan, dan menaruh ponselnya keatas meja.


"Baik, Tuan." sosok Anggita pun menghilang dari bingkai pintu, namun tak lama kemudian ia kembali muncul di sana bersama sang nyonya besar.


"Silahkan masuk, Nyonya,"


Suara bernada takjim milik Anggita, sanggup membuat dua orang pria di dalam ruangan tersebut mengangkat wajah serta menoleh bersamaan ke arah yang sama, di mana sosok wanita dengan outfit berwarna serba putih bersih dari ujung kaki hingga ujung rambut terlihat mengangguk ramah ke arah Anggita, sebelum akhirnya melangkah perlahan namun penuh percaya diri memasuki ruang kerja Raja yang sejuk dan luas.


Naysila melangkah mendekat sembari menyingsingkan masker berwarna putih yang menutupi sebagian wajahnya, dan sebuah sapaan hangat pun terlontar dari bibir yang berhias senyum menawan ...


"Hai, Sayang ..."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2