
"Raja ...! Rasanya sudah lama Ibu tidak melihatmu ..."
Wajah Dian Melinda begitu semringah.
Seolah dirinya selalu lupa dengan sifat dan sikap Raja selama ini, wanita itu bahkan terlihat ingin segera merengkuh tubuh kekar putranya meskipun pada akhirnya kembali urung, manakala menyadari Raja langsung mundur tiga langkah sekaligus.
Posisi tubuh tinggi menjulang milik Raja kini benar-benar berdiri was-was dibelakang punggung Naysila yang seolah menjadi sebuah tameng yang kokoh.
"Maafkan aku Bu, tapi bisakah Ibu sedikit menjauh dan menjaga jarak dari Raja ...?" Naysila berucap santun, sadar bahwa dibalik punggungnya ada seorang pria gagah berbadan tegap, yang sedang mengkerut karena enggan.
Dian Melinda terlihat mematung, sebelum akhirnya ia tersadar manakala pundaknya terasa disentuh.
"Ibu ..." Suara Reza terdengar berbisik perlahan.
"Astaga ... Maaf, maafkan Ibu, sayang ... Ibu terlalu bersemangat setiap kali melihatmu ..." Dian Melinda yang seolah baru saja mendapatkan kembali kesadarannya kini terlihat menatap Raja penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Bu, maafkan aku juga karena telah bersikap seperti ini ..."
Dian Melinda terlihat mengibaskan tangannya. "Sudah, tidak apa-apa. Ibu yang salah.
Kali ini Raja tidak menanggapi, yang karena pria itu hanya diam, maka udara disekitar mereka seolah ikut-ikutan menjadi hampa.
"Raja, Naysila, terima kasih telah datang, mari silahkan masuk ..." Reza memutuskan untuk mengakhiri keheningan yang aneh diantara mereka semua dengan sebuah ajakan ramah.
Pria itu pun menarik mundur langkahnya seolah membuka jalan masuk agar semakin lapang, sambil tak lupa mengamit bahu ibu dan istrinya sekaligus.
"Iya, Raja ... Mari, masuklah ..." ajak Dian Melinda kemudian, ikut meniru kalimat ajakan Reza untuk mempersilahkan Raja dan Naysila masuk lebih dulu.
Naysila menoleh kearah Raja yang kini telah beringsut kesampingnya, terlihat masih ragu untuk melangkah masuk meskipun Reza, Dian Melinda, juga Utari, sudah jelas-jelas telah memberi jalan yang lebih lapang dari sebelumnya.
"Tidak apa-apa, ayo kita masuk ..." ajak Naysila dengan senyum terkembang sempurna bak sebuah asupan kekuatan ekstra untuk menepis keraguan yang sempat hinggap ditepian hati Raja.
Tidak hanya sampai disitu, Naysila tanpa rasa canggung meraih pergelangan tangan Raja yang semula masih berdiri kaku, kemudian menariknya lembut kearah daun pintu yang terpentang dihadapan mereka.
__ADS_1
"Ada aku, maka semuanya akan baik-baik saja ... Tenanglah ..." lirih suara Naysila mengiringi langkahnya juga Raja saat terayun seirama.
Dalam diam, akhirnya Dian Melinda memutuskan membuntuti langkah sepasang suami-istri dihadapannya, masih dengan menjaga jarak aman, begitupun dengan Reza dan Utari yang pada akhirnya menyusul beriringan diurutan paling belakang.
Dian Melinda tentu saja tak ingin, ketidaknyamanan Raja membuat Naysila kembali menjadi pahlawan kesiangan.
Cih.
Meskipun hanya dalam hati, namun wanita itu tak henti mendengus geram.
Dirinya tak habis pikir, tentang alasan apa yang membuat Raja bisa menerima kehadiran Naysila dengan begitu mudah.
Naysila bisa berdekatan dengan putranya tanpa jarak, juga tanpa membahayakan kesehatan serta mental Raja, sementara dirinya yang notabene ibu kandung Raja yang telah mengandung, melahirkan, juga bersusah payah membesarkan ... Kini jangankan menyentuh, mendekati Raja saja ia tak bisa.
Raja benar-benar tidak bisa didekati, dan jika ada yang bertanya bagaimana selama ini Raja berinteraksi dengan lingkup pekerjaannya dengan kondisi paranoid parah seperti ini, maka jawabannya adalah sama seperti saat Naysila melindungi Raja.
Dalam kesehariannya, Raja selalu didampingi oleh Asisten Her yang terkadang merangkap tugas menjadi bodyguard dadakan Raja, saat menghadapi situasi manakala Raja berada dalam kerumunan tanpa sengaja, atau bertemu orang baru yang tidak tahu bahwa Raja sangat menjaga dirinya agar tidak perlu melakukan kontak fisik secara langsung baik disengaja maupun tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diatas meja makan persegi panjang, telah dipenuhi aneka hidangan lezat.
Dian Melinda bersama Reza dan Utari duduk bersisian di sisi kanan, sedangkan disudut yang lain Raja duduk bersisian dengan Naysila.
Pada beberapa saat yang lalu, Dian Melinda telah mempersilahkan kedua putranya yang datang bersama istri mereka masing-masing untuk menikmati hidangan yang tersedia.
"Tuan, saat ini aku tidak harus menyuapimu, kan ...?" lirih Naysila sambil menoleh sedikit kearah Raja, tatapan matanya dipenuhi permohonan.
Bukan apa-apa, karena akhir-akhir ini Naysila bahkan merasa bahwa semakin lama Raja semakin merepotkan sehingga tak jarang untuk makan pun pria itu ingin disuapi oleh Naysila.
"Apa maksudmu menanyakan hal itu? Kamu ingin melarikan diri dari tugasmu, yah?" tuding Raja to the point.
Naysila sontak melotot menyadari ucapannya yang lirih malah dijawab Raja dengan nada suara normal, sehingga tidak mustahil bisa terdengar hingga keujung meja disebelah sana, oleh ibu mertua, juga kakak ipar beserta istrinya.
__ADS_1
"Tidak, bukan itu ..." Naysila mencoba mengelak, namun belum apa-apa kalimatnya kembali dibantah dengan nada suara berat yang intonasinya semakin kentara.
"Lalu kenapa masih bertanya? Tentu saja kamu harus menyuapi aku, Naysila. Bagaimana aku bisa makan kalau tidak disuapi olehmu ...?"
'Luar biasa ... Lalu saat kamu berada di kantor, atau di mana pun saat aku sedang tidak disampingmu ... Apa kamu tidak pernah makan sama sekali karena harus menunggu diriku yang menyuapimu ...?'
'Apakah sebelum aku hadir dalam hidupmu kemudian menyuapimu, maka itu artinya kamu tidak pernah makan ...?'
"Malah bengong ... Cepat suapi aku karena aku benar-benar sudah lapar."
"Tapi ..."
"Beraninya kamu masih membantahku ..."
"Tuan, bagaimana aku bisa menyuapimu dihadapan mereka ...?" tatap Naysila penuh permohonan, namun sepasang mata elang milik Raja malah terhunus tajam.
"Kalau begitu mari kita pulang dan makan dirumah saja, agar kamu bisa menyuapi aku tanpa malu terlihat orang-orang!"
Mendengar ancaman yang tak tanggung-tanggung tersebut telah membuat Naysila terhenyak kaget setengah mati, terlebih saat menyadari pergerakan Raja yang benar-benar hendak beranjak dari kursi makan yang kini ia duduki.
"T-tunggu ..."
Tanpa berpikir dua kali Naysila langsung menahan pergelangan tangan dan lengan kokoh milik Raja sekaligus, guna mengurungkan tekad bulat pria itu yang ingin segera beranjak.
"Baiklah ... Baiklah ... Aku akan melakukannya, tolong kembalilah kekursimu dan kita akan makan dengan tenang ..." bujuk Naysila lagi bak sedang bicara dengan bocah ingusan yang sedang ngambek.
Perlahan Raja menghempaskan tubuhnya lagi keatas kursi, masih dengan wajahnya yang terlipat meskipun disudut hati ia telah tersenyum penuh kemenangan.
Sementara itu ...
Baik Raja maupun Naysila, keduanya tidak menyadari jika drama setengah babak yang terjadi diantara mereka diam-diam sedang dinikmati oleh tiga pasang mata sekaligus, dari sudut meja makan yang lain ...
Bersambung ...
__ADS_1