MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
PENYESALAN


__ADS_3

Dulu, saat Naysila merasa kesal atau sedih entah dikarenakan perselisihan dengan teman, ditegur guru di sekolah, atau bahkan saat Naysila dimarahi ayah dan ibu, Naysila selalu menumpahkan kesedihannya dengan membersihkan kamar mandi.


Biasanya setelah melakukan kegiatan tersebut perasaan Naysila akan jauh lebih baik, seolah segala rasa yang tak menyenangkan di dalam hati ikut sirna tanpa bekas.


Tapi selama beberapa tahun terakhir ini, Naysila seolah tidak pernah lagi merasa kesal.


Kesibukan demi kesibukan dalam pekerjaannya yang notabene memerlukan kesabaran tingkat dewa telah membuat Naysila mulai lupa bagaimana rasanya marah, kecewa, kesal, dan ...


'Lalu sekarang aku sedang apa ...? Apakah aku sedang marah ...? Kecewa ...? Kesal ...? Atau jangan-jangan ... Aku sedang ... Cembu ...'


"Hentikan."


Nada suara dingin Raja telah membuat Naysila terkesiap.


"Kamu tuli yah? Aku bilang Hentikan!" semakin terdengar tegas.


Tubuh Naysila membeku, hanya kepalanya yang perlahan mendongak, demi mendapati pemandangan sosok Raja yang sedang berkacak pinggang dibingkai pintu, menatap tajam kearahnya.


Dengan gerak perlahan Naysila pun bangkit dan berdiri, kemudian ia melangkahkan kaki kearah keran air dan memutarnya untuk menyemprot dan meluruhkan cairan pembersih dari permukaan lantai.


Usai melakukan semua itu, kini Naysila melangkahkan kakinya perlahan kearah wastafel guna membasuh kedua tangannya, lalu membasuhnya lagi dan lagi, karena sengaja ingin berlama-lama sampai pada akhirnya ...


"Aaaaaaaa ...!"


Teriakan Naysila memenuhi seluruh sudut kamar mandi takkala tubuhnya terangkat tinggi ke udara.


Sungguh Naysila tidak pernah menyangka bahwa saat ini Raja malah nekad membopong tubuhnya dengan begitu enteng, dan membawanya keluar dari kamar mandi yang cukup luas tersebut.


"T-Tuan ... Apa yang kamu laku ..."


"Diam."


"T-Turunkan aku ..."


"Aku bilang diam."


"T-tapi ..."


Bugh ...!


"Awwwh ...!" pekik Naysila saat tubuh mungilnya dihempaskan kasar, ke atas ranjang besar yang super empuk.

__ADS_1


"Katakan! Cepat katakan apa alasan yang membuatmu bertingkah menyebalkan seperti ini?!"


"Aku tidak ..."


"Naysila, sudah cukup aku bersabar saat disepanjang perjalanan pulang kamu terus berdiam diri dan membuang muka. Sekarang kamu lebih mementingkan menyikat lantai kamar mandi dan memilih mengacuhkan aku ...?!"


Raja kembali terlihat berkacak pinggang. Air mukanya begitu keruh, dan lewat nada suaranya yang meninggi jelas menandakan bahwa pria itu benar-benar sedang dilanda amarah.


"Kan sudah kubilang aku tidak apa-apa ..."


"Bohong!!"


"Ya sudah kalau Tuan tidak percaya ..."


"Kamu ..."


Mengambang.


Gigi Raja bergemeretak gusar menyaksikan sikap Naysila yang masih bisa menjawabnya dengan acuh tak acuh.


"Naysila, aku peringatkan dirimu untuk yang terakhir kali. Tolong jangan membuatku marah atau kamu akan menyesal ..." desis Raja dengan tatapan yang menghujam tepat pada sepasang manik mata Naysila.


'Kelopak matanya sejajar dengan lipatan gaya alami yang semakin menyempit saat mencapai sudut dalam setiap mata ...'


'Terkesan polos, imut, namun sedikit keras kepala ...'


'Semua itu telah menjadi sebuah visual yang tepat saat tergabung dengan bentuk ujung hidung yang bulat, serta struktur wajah yang seimbang ...'


'Damned ... Ternyata Naysila memang secantik ini ... Dan aku baru menyadarinya ...'



Naysila menelan ludahnya kelu, saat menyadari air muka Raja yang tadinya mengeras gusar sekarang terlihat mengendur perlahan.


'Ada apa ... Apakah dia tidak jadi marah ...?'


Bathin Naysila keheranan, padahal ia sempat menyesal dan mulai ketakutan karena tersadar telah membangkitkan kemarahan iblis dari sosok angkuh Raja.


"Pergilah tidur ..." Titah Raja.


Kali ini nada suara Raja tidak lagi sekeras awalnya, kemudian pria itu membalikkan tubuh dan melangkah kearah lemari pakaian, menyambar sebuah kemeja berwarna putih dari susunan teratas secara asal-asalan dan mengancingkannya satu-persatu sambil berjalan kearah pintu kamar.

__ADS_1


Melihat pemandangan tersebut Naysila bergegas bangkit dan turun dari ranjang.


"Tuan ..."


Langkah Raja terhenti pas saat tangan kanannya hendak menyentuh handle pintu.


"Ada apa lagi?" tanya Raja, yang hanya menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh.


"Tuan, maafkan aku ... Maafkan semua sikapku yang menyebalkan. Aku akui ... Aku ... Aku hanya sedikit merasa lelah, sehingga tanpa sadar telah bersikap tidak sopan ..." lirih suara Naysila dipenuhi penyesalan yang teramat sangat.


Sungguh Naysila sangat menyesal, mengapa dirinya bisa menjadi sekonyol ini, hanya karena terpicu oleh berbagai pernyataan Utari yang begitu bangga saat mengurai betapa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Raja, namun justru Utari yang lebih mengetahuinya.


Tentang nastar ...


Tentang pantai ...


Tentang piano ...


Tentang permen jahe ...


Hembusan napas berat Raja terdengar jelas ditelinga Naysila.


"Naysila ... Jangan pernah lagi merasa kesal tanpa alasan seperti ini. Karena jika situasi hatimu buruk, maka bisa-bisa situasi hatiku akan jauh lebih buruk darimu ..."


Naysila terhenyak sebelum akhirnya tertunduk dalam. "Tuan, maafkan aku ..."


"Tidurlah." desis Raja dengan nada suaranya yang datar, sambil mengerling sedikit.



Naysila kembali mendongak, tepat di saat Raja telah membuang muka.


"Tuan, kamu akan pergi kemana? Ini sudah larut malam ..."


"Aku akan pergi keruang kerja. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan, dan sebaiknya kamu tidur saja, jangan menungguku."


Kemudian seolah tanpa tercegah, sosok tinggi tegap itu benar-benar menghilang dibalik pintu, meninggalkan Naysila dengan sejuta penyesalan ...


Bersambung ...


🧕 : Jangan lupa di Like, Comment, Gift and Vote yah 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2