MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
KASIH IBU


__ADS_3

"Ibu tidak tau harus berkata apa. Disisi lain ibu senang mendengar bahwa Raja bersedia memberikan kepercayaan yang sedemikian besar kepadamu. Bahkan hanya mendengar bahwa perlakuan Raja kepadamu yang semakin hari semakin membaik membuat ibu sangat lega. Tapi ..."


Alis Reza bertaut menyadari wajah yang tadinya semringah milik Dian Melinda kini berubah sendu, bahkan kalimat wanita itu telah mengambang tanpa kelanjutan.


"Tapi apa, Bu? Apa yang sebenarnya sedang ibu khawatirkan?" tanya Reza pada akhirnya, karena Dian Melinda tak kunjung berucap, hanya menunduk dengan raut kesedihan yang semakin nyata.


"Ibu hanya berpikir, bahwa kalau kamu pergi ... Lalu bagaimana dengan ibu ...?"


Saat berucap demikian, setitik air mata Dian Melinda jatuh kepangkuannya.


Sejak kecil, Reza tidak pernah sekalipun berada jauh dari Dian Melinda, dan karena itulah sosok Reza bak sebuah sumber kekuatan baginya.


Dian Melinda memang memiliki dua orang putra, namun semua orang tau bahwa Raja bukanlah seorang putra yang bisa dipeluk olehnya setiap saat.


Karena Raja merupakan pewaris tunggal dari seluruh harta kekayaan Keluarga Adiguna, maka sejak kecil putranya itu telah di asuh oleh sang kakek tanpa mampu dibantah baik oleh Dian Melinda maupun mendiang suaminya Prabu Adiguna.


Dominasi kekuasaan Rafly Adiguna sangatlah tak terbatas, sehingga meskipun sebagai orang tua kandung, Dian Melinda dan Prabu tak kuasa menentang Rafly Adiguna, sehingga dengan terpaksa merelakan Raja diasuh oleh sang kakek.


Tapi baik almarhum suaminya maupun dirinya sendiri sangat tak menyangka bahwa sebegitu besarnya kebencian Rafly Adiguna kepada seorang Dian Melinda, membuat pria itu tega menanamkan doktrin keras bagi Raja.

__ADS_1


Raja bahkan menderita gangguan paranoid parah, karena memang sejak kecil Rafly Adiguna ingin membuat Raja sebagai cerminan dirinya, sayangnya Rafly tidak pernah menduga bahwa jiwa dan mental Raja masih terlalu dini untuk bisa menerapkan standar ketat dari dirinya, sehingga yang ada Raja malah menderita penyakit aneh yang membuatnya tidak bisa didekati oleh siapapun selain oleh Rafly Adiguna, sekalipun itu kedua orang tua kandungnya sendiri.


Mengenang semua peristiwa demi peristiwa yang terjadi di sepanjang hidupnya, sebagai ibu Raja dan Reza lengkap dengan segala kepahitan yang ada didalamnya, tanpa sadar telah membuat kedua bahu Dian Melinda bergetar lirih.


Melihat pemandangan sendu dihadapannya membuat Reza merasa tenggorokannya tercekat.


Reza tak menyangka, rencana keberangkatannya keluar negeri demi sebuah mega project milik Raja mampu menorehkan kesedihan yang begitu mendalam bagi sang ibu.


Refleks Reza pun beringsut mendekat demi bisa merengkuh tubuh paruh baya milik Dian Melinda yang kini telah terisak sempurna.


"Bu, tolong jangan bersedih seperti ini. Aku mohon, Bu, berikanlah aku kekuatan agar aku bisa bekerja dengan lebih baik lagi ..." lirih Reza dengan suaranya yang tercekat, menahan tangis.


Sebagai manusia Reza sadar ibunya bukanlah manusia yang sempurna. Ada begitu banyak kisah kelam masa lalu yang melekat didiri seorang Dian Melinda.


Kalau mau jujur Reza juga sadar bahwa ibunya memiliki beberapa sifat yang sedikit tidak terpuji, dan sangat manipulatif.


Namun meskipun demikian, dimata Reza sosok Dian Melinda tetaplah seorang ibu yang hebat, yang bisa melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya, tak peduli meskipun cara yang beliau tempuh itu salah.


Kasih sayang ibu memanglah sungguh luar biasa, untuk Raja begitupun dengan dirinya. Reza tau persis tentang hal itu juga bisa merasakannya, karena Reza sendiri bukanlah sosok yang dipenuhi cinta dan perhatian seperti Raja, yang notabene merupakan adik tirinya.

__ADS_1


Oleh karena memiliki harta dan kekuasaan, segala sikap ketus, dingin, angkuh dan arogan dari seorang Raja Adiguna seolah tak pernah berarti apa-apa bagi orang lain, karena pada kenyataannya semua orang akan tetap tunduk, patuh, dan terus berada disamping Raja apapun kondisinya.


Berbeda dengan Reza yang terlebih setelah kehilangan Prabu Adiguna.


Reza telah mengalami berkali-kali keterpurukan, jatuh-bangun yang tak lagi terhitung berapa banyaknya, namun toh Reza selalu berusaha bangkit dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk istrinya Utari.


Hanya ada Dian Melinda seorang, satu-satunya sosok yang selalu berada dalam suka dan duka, terus menopang, menjadi kekuatan, dan tak sedetik pun berniat meninggalkan meskipun Reza dalam keadaan nelangsa berada dititik nadir kehidupan.


"Tidak, Reza ... Ibu hanya bersedih karena kelak pasti akan merindukanmu. Tapi ibu mohon, jangan pedulikan semua itu ... Pergilah, Reza, pergi dan buktikan kepada seisi dunia ini bahwa kamu adalah sosok yang berguna. Buktikan kepada Raja, bahwa dia tidak pernah salah telah memilihmu ..."


Dian Melinda mengucapkan semua kalimat tersebut dengan penuh keyakinan meskipun sambil berurai air mata.


"Pergilah, Reza ... Ibu pasti akan mendukung serta mendoakan setiap langkah yang kamu ambil, Nak. Tolong jangan khawatirkan ibu ..."


Pelukan Reza semakin mengerat, yang menandakan tekadnya yang juga semakin menguat.


Karena bagi Reza, setiap kata yang terucap dari pemilik surganya itu merupakan satu-satunya harapan, juga sumber motivasi terbesar dalam hidupnya.


Tanpa ibu, Reza bahkan merasa hidupnya tak sedikitpun berarti ...

__ADS_1


Next ...


__ADS_2