MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
POIN PERJANJIAN


__ADS_3

"Aku hanya ingin tidur, lalu kenapa wajahmu panik begitu?" ejek Raja dengan wajahnya yang berada sejajar diatas wajah Naysila yang memucat di bawah sana. "By the way kalau tidak salah dengar, barusan kamu kembali memanggilku 'Tuan'. Ck ... Ck ... CK ... Tak kusangka kamu sangat suka saat aku cium yah ..."


"T-tidak. Itu tidak benar ..." tolak Naysila dengan bibir gemetar, saat merasakan bahwa bagian tubuh bawah milik Raja mulai menindih tubuhnya sedikit demi sedikit.


"Begitu yah? Lalu kenapa kamu juga terlihat sangat cemburu dengan Utari. Apakah kamu memang sangat menyukaiku ...? Hhhemm ...?" tuding Raja lagi, yang semakin menurunkan tubuhnya se-inchi demi se-inchi.


"Jangan ge-er, karena aku tidak menyukai, Tuan, seperti yang Tuan tuduhkan saat ini ..."


Naysila berucap demikian sambil buru-buru memeluk kedua lengannya, demi mencegah bagian atas tubuhnya terhimpit langsung oleh sebuah dada bidang yang kini benar-benar telah jatuh menindihnya.


Naysila memalingkan wajahnya yang memerah oleh karena perasaan malu dan berdebar yang telah mengambil alih semua perasaan yang ada didalam sanubarinya yang terdalam.


Sungguh, sisi hatinya tidak menginginkan untuk diperlakukan oleh Raja dengan semena-mena, namun entah kenapa mulutnya selalu terkunci dan tak bisa menolaknya.


"Menyebutku 'Tuan' untuk yang ketiga kalinya, itu artinya kamu sudah mengantongi tiga kali jatah sentuhan dariku. Apakah ciumanku sudah cukup, atau jangan-jangan kamu menginginkan sesuatu yang lebih ...?"


"Tuan, tolong jangan lakukan ini kepadaku ... Aku mohon ..."


Sekali matanya mengerjap, dua buah bening sekaligus terlihat bergulir jatuh dari kedua sudut mata Naysila yang kini seolah tak sudi lagi menatap Raja.


Sepenggal kalimat Naysila tersebut rupanya cukup ampuh, karena pada akhirnya pergerakan Raja yang perlahan namun pasti itu kini telah terjeda seutuhnya.


Raja menarik kembali pucuk hidungnya yang tadinya telah menempel disebelah pipi Naysila, yang mungkin tak lebih dari dua detik bibirnya akan berlabuh juga di sana, sebelum akhirnya Raja mengurungkan semua niatnya tersebut dengan susah payah.

__ADS_1


"Kenapa ...?" bisik Raja serak, diantara kepasrahan dan rasa amarah yang nyaris tak terbendung.


Raja sama sekali tak menyangka jika semua kepatuhan Naysila tidak termasuk dengan apa yang begitu ingin dirinya lakukan saat ini, yakni menyentuh wanita itu!


"Karena itu ... Itu tidak ada dalam perjanjian ..." ucap Naysila asal, yang tak tau harus berucap apalagi sebagai alasan.


"Kata siapa?" pungkas Raja secepat kilat.


Bukan apa-apa, karena Raja merasa sejak awal tidak pernah mencantumkan poin tersebut kedalam surat perjanjian antara dirinya dan Naysila, sebelum mereka berdua setuju menikah.


Naysila pun tertunduk pasrah.


Memang benar tidak pernah ada poin perjanjian yang membahas masalah sentuhan.


"Seorang perawat lansia seperti diriku tidak akan pernah pantas disentuh oleh pria seperti Tuan ..." desis Naysila masih dengan tubuhnya yang mengkerut kesamping seraya memeluk dada.


Melihat pemandangan tersebut kesabaran Raja benar-benar musnah tak bersisa.


Dengan sebelah tangannya yang kuat, Raja telah mencengkram dua pelipis Naysila sekaligus, memaksa wajah dengan sepasang mata yang memerah menahan tangis itu untuk menatapnya dengan paksa.


"Dengar baik-baik, Naysila Pertiwi. Bukan kamu, melainkan aku yang akan menentukan apa yang pantas dan tidak pantas untuk diriku. Kamu mengerti?" desis Raja tertahan, penuh dengan luapan emosi yang hendak keluar, namun seolah tercekat di tenggorokan.


"M-maaf, T-Tuan ..."

__ADS_1


Sekujur tubuh Naysila gemetar ketakutan, begitu menyadari kemarahan Raja yang sedang berada dipuncak tertinggi sebuah perasaan amarah, yang menggunung dan membuncah.


"Naysila, aku ingatkan sekali lagi bahwa kamu adalah milikku. Untuk sekali ini saja, aku akan memaafkan penolakanmu yang begitu lancang. Karena kalau hal ini terjadi lagi di waktu mendatang ... Maka kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya ...!"


Kalimat yang sarat akan ancaman mematikan dari seorang Raja Adiguna telah diakhiri pria itu dengan senyuman yang begitu sinis, sebelum akhirnya kepalanya tertunduk guna menjemput milik Naysila yang rasanya teramat sangat manis.


Seolah benar-benar ingin membuktikan kesungguhan dalam setiap ucapannya untuk kepemilikan dirinya atas diri Naysila, kali ini sentuhan Raja tidak berhenti disitu saja.


Dengan nekad jemari Raja mulai menyusuri setiap jengkal lekuk tubuh Naysila yang terbungkus piyama satin berwarna putih, namun pada akhirnya ia kembali menggeram marah saat menemukan gestur penolakan tubuh Naysila yang begitu halus namun nyata, kendatipun wanita itu tidak lagi mengucapkan sepenggal kalimat protes.


Saat Raja tanpa sengaja mengangkat kepalanya, yang ia temui pertama kali adalah pemandangan dari seraut wajah ketakutan milik Naysila yang sedang memejamkan kedua matanya kuat-kuat.


Kemudian entah dari mana datangnya perasaan iba tersebut, sehingga tiba-tiba saja Raja mulai merasakan sebuah kesejukan yang mengaliri setiap lekuk sanubarinya yang terdalam.


'Raja Adiguna ... Kamu ini sedang apa ...?'


'Sudah jelas-jelas sekarang dirimu sedang ditolak, lalu apa lagi yang ingin kamu buktikan ...?'


'Terimalah kekalahanmu dengan lapang dada karena sesungguhnya kamu sendiri tau persis, bahwa wanita yang selalu kamu sebut sebagai milikmu ini ... Sudah sejak awal tidak pernah benar-benar menjadi milikmu ...'


Bersambung ...


🧕 : Like and supportnya jangan lupa yah ... 🙏

__ADS_1


__ADS_2