MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
KELIRU MENILAI


__ADS_3

Naysila bukannya tidak tau bahwa ruang kerja Raja merupakan salah satu area privacy yang tidak boleh sembarangan didatangi oleh siapa pun, tak terkecuali dirinya.


Namun kali ini, karena rasa penasaran yang membumbung akibat sikap Raja yang berubah drastis sekaligus merasa memiliki alasan untuk berada di sana demi sebuah informasi mengenai kedatangan sang ibu mertua, Naysila dengan penuh semangat mendatangi pria itu dengan senang hati.


Tok ... Tok ... Tok ...


Tiga kali ketukan pada daun pintu telah dirasa cukup bagi Naysila sebagai upaya awal yang harus dirinya lakukan, sebelum nekad memutar handle pintu yang berada tepat dihadapannya.


"Boleh aku masuk?" Naysila tersenyum kearah pria yang sedang menengadah demi mengetahui siapa gerangan yang datang.


"Ada apa lagi?"


Bukannya mempersilahkan Naysila untuk masuk, Raja malah melontarkan pertanyaan dengan nada ketus.


"Ada yang ingin aku sampaikan ..." kilah Naysila.


Tanpa menggubris keengganan Raja atas kehadirannya, langkah Naysila telah terayun masuk kedalam ruangan, kemudian mengambil tepat dihadapan Raja yang duduk dengan layar laptop terbuka diatas meja.


"Asisten Jo baru saja memberitahu, bahwa sore nanti ibu akan datang berkunjung."


"Lalu?"


Naysila menatap Raja dengan alis bertaut. "Mmmm ... Maksudnya?"


"Katamu ibu akan berkunjung. Lalu kenapa memangnya?"


Naysila menggeleng rikuh. "Mmm ... Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberitahukan dirimu saja ..."


"Biarkan saja kalau ibu ingin datang. Lalu kamu mau aku bagaimana? Mengadakan penyambutan secara resmi ...?"


Naysila terhenyak ditempatnya menerima rentetan kalimat ketus tersebut.


"T-tidak juga harus seperti itu ... Tapi setidaknya ... Aku pikir kamu akan senang kalau ..."


"Kalau apa? Kalau ibu datang?"

__ADS_1


"Itu ... Maksudku ..."


"Kamu tidak sedang mencari cari agar bisa menggangguku, kan?" tuding Raja acuh, yang karena tudingan tersebut begitu tepat sasaran, Naysila bahkan sampai terbatuk kecil dibuatnya.


'Astaga pria ini ... Padahal aku baru saja ingin berprasangka baik kepadanya, tapi ternyata aku sangat keliru menilai, karena seorang Raja Adiguna benar-benar merupakan titisan dewa iblis yang tak berperasaan ...!'


Bathin Naysila mengumpat kesal, mendapati sikap Raja yang kini telah menjadi berpuluh-puluh kali lipat lebih menyebalkan dari sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu terserah padamu. Maafkan aku karena telah mengganggumu, Tuan ..." Naysila bangkit dari duduknya begitu saja dengan wajahnya yang memerah, dan ia dengan sengaja kembali menyematkan panggilan 'Tuan' karena kekesalan hatinya kepada Raja yang menggunung.


'Untuk apa? Untuk apa aku meninggikan dirinya begitu rupa sementara dia sendiri tidak pernah berniat memperlakukan aku dengan perlakuan yang sedikit lebih baik ...?'


Naysila membathin penuh kecewa.


Sepasang mata Raja sontak membeliak lebar saat telinganya menangkap dengan jelas panggilan 'Tuan' yang diucapkan Naysila diakhir kalimat.


Seiring dengan tubuh Naysila yang beranjak dari duduknya, dengan gerakan yang secepat peluru Raja pun ikut bangkit meninggalkan kursi kebesarannya guna memburu wanita yang sedang mempertontonkan aksi keras kepalanya secara terang-terangan.


"Naysila, berhenti!"


Titah keras Raja tak digubris oleh Naysila sama sekali.


"Lepaskan aku ...!"


Naysila menghentakkan pergelangan tangannya yang telah dicengkeram kuat-kuat oleh sebuah tangan yang lebar. Dia tak peduli meskipun dihadapannya Raja sedang menghunuskan tatapan yang setajam belati, bahkan gigi pria itu ikut bergemeretak akibat menahan amarah.


"Ternyata kamu memang sengaja ingin membuatku marah ya?" desis Raja sambil menyeringai, tetap menolak membebaskan Naysila meskipun Naysila telah berusaha keras mengurai cengkeraman di pergelangan tangannya.


"Aku hanya ingin kembali ke kamar."


"Jangan lakukan apapun sebelum aku yang mengijinkannya."


"Begitukah?"


"Hidupmu itu milikku."

__ADS_1


Naysila malah tertawa tanpa suara mendengar kalimat Raja yang dipenuhi keegoisan. "Apakah untuk bernapas pun aku harus butuh ijinmu juga, Tuan ...?"


Mata Raja menyala nyalang mendapati Naysila yang terang-terangan menantangnya, apalagi dengan kembali memanggilnya 'Tuan' untuk yang kedua kalinya.


"Kamu benar-benar sedang berusaha menentangku rupanya ..."


"Tuan, aku hanya ingin kembali ke kamar dan ... Mmmm ..."


Mangambang, karena detik berikutnya Naysila telah mendapati wajah tampan Raja telah begitu dekat dipelupuk matanya yang membulat, sedang menyumbat jalan keluar dari untaian kata yang hendak keluar dari mulutnya dengan sesuatu yang terasa lembut.


Yah, lembut ...


Sangat lembut ...


Namun semakin lama, semakin menuntut ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sudah kuperingatkan dirimu agar jangan pernah memanggilku 'Tuan'. Salahkan dirimu sendiri kenapa malah melanggarnya ..."


Napas Naysila bahkan masih memburu usai sebuah pertautan yang cukup lama, namun ia hanya terdiam tak mampu berkata apa-apa, manakala bisikan sinis Raja telah menyapu gendang telinganya.


Raja bahkan mengakhiri ucapannya itu dengan menekan ujung jari telunjuknya kepucuk hidung Naysila, lengkap dengan ekspresi wajahnya yang remeh, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Naysila dengan senyum mengejek.


Untuk beberapa saat lamanya setelah kepergian Raja, Naysila hanya bisa mematung ditempatnya.


Kemudian tangan kanan Naysila pun terangkat menyentuh dadanya yang masih berdebar dengan sangat kencang.


Hawa panas sontak menyebar pada keseluruhan wajah Naysila yang bersemu merah, manakala adegan intim barusan bak terputar ulang dibenaknya sehingga terasa begitu nyata.


Sentuhan Raja ...


Kelembutannya ...


Yang sayangnya semua itu harus diakhiri dengan kalimat ejekan yang menyakitkan ...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa like and supportnya yah 🙏


__ADS_2