MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
SENGAJA MEMPROVOKASI


__ADS_3

Raja merasa pagi ini terasa sedikit berbeda dengan hari-hari biasa.


Bukan hanya karena dirinya yang terus disuguhi secercah senyum Naysila yang secerah sinar mentari di pagi hari, karena wanita itu bahkan beberapa kali terdengar bersenandung kecil.


"Naysila ..." panggilan Raja yang disertai cekalan pada pergelangan tangan kiri Naysila, sanggup membuat langkah Naysila yang hendak menjauh darinya sontak tertunda.


Mereka berdua baru saja selesai berhadap-hadapan tanpa kata saat Naysila membantu Raja berpakaian di pagi hari seperti biasa.


Namun Naysila yang terus-menerus tersenyum tanpa kata itu telah membuat Raja penasaran setengah mati, tentang alasan apa yang membuat wajah wanita itu senantiasa berseri-seri.


"Iya, Tuan ... Ada apa ...?"


Raja terdiam sejenak dengan tatapan lekat seolah sedang manksir-naksir.


"Katakan kepadaku, kenapa kamu terus tersenyum seperti itu?" tanya Raja pada akhirnya setelah dirinya sama sekali tidak bisa mendapatkan clue tentang kebahagiaan Naysila yang tak seperti biasanya.


"Ah, tidak Tuan ... Tidak apa-apa ..." elak Naysila, tapi anehnya senyum dibibirnya malah semakin lebar saja.


"Jangan bohong." tuntut Raja, namun yang ada wanita dihadapannya tetap keukeuh menggeleng.


"Tidak ada, Tuan, sungguh ..."


Tak kuasa memaksa Naysila yang masih dengan senyumnya yang mencurigakan, akhirnya Raja pun mengurai cekalan tangannya, membebaskan wanita itu agar bisa melanjutkan aktifitasnya, tapi anehnya bukannya bergegas pergi Naysila malah masih betah berdiri menatap Raja yang kini sudah berbalik badan dan meneliti penampilannya lewat pantulan cermin besar.


"Ada apa lagi?" tanya Raja curiga, meskipun tanpa menoleh.


"Akh ... Tidak ... Tidak ..."


Sepasang alis lebat milik Raja bertaut samar, namun ia tak lagi berucap apapun.


"Mmm ... Anu ... Tuan ... Tidak melupakan sesuatu ...?" ucap Naysila menyadari Raja yang tak kunjung bicara.


"Melupakan sesuatu ...? Melupakan apa maksudmu?" tanya Raja kali ini sambil meraih arloji mahal miliknya, kemudian mengenakannya.


"Hhhmm ... Hari ini ... Tuan tidak lupa janji Tuan hari ini kan?"


"Ada apa dengan hari ini? Memangnya aku berjanji apa?" ucap Raja yang malah balik bertanya, karena benar-benar tidak paham dengan arah tujuan kalimat Naysila.


Sebuah tarikan napas berat disertai tatapan mata yang berubah kecewa milik Naysila kini terlihat jelas.


"Jadi Tuan lupa dengan janji Tuan pada dua hari yang lalu ...?"


"Naysila ... Aku sungguh tidak mengerti. Memangnya aku berjanji apa?" tanya Raja lagi, merasa malas memutar otak guna mengingat apakah dirinya pernah membuat janji.


"Tentang harmonika ..."


"Harmonika?"


"Iya, harmonika. Tuan kan sudah berjanji akan mengajakku bertemu nenek penjual mainan grosiran yang sudah memberikan aku hadiah ..."

__ADS_1


"Nenek itu sudah tidak berada di sana." pungkas Raja sambil lalu, langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Appaa ...?"


"Nenek itu sudah tidak berada di sana." ulang Raja semakin meyakinkan.


"Tapi ..."


"Tidak percaya ya sudah. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya bahwa nenek itu sudah tidak berada di sana."


"Iya, tapi nenek itu pindah ke mana, Tuan ...??


"Tentu saja pindah ke lokasi lapak yang baru ..."


"Kalau begitu kenapa kita tidak pergi saja ke lokasi lapak yang baru ...?"


Sepasang mata Raja melotot mendengar selorohan Naysila yang terdengar ngotot.


"Kamu sudah gila yah? Di lokasi lapak yang baru keadaannya sangat ramai. Kamu ingin aku ke sana dan bersinggungan dengan banyak orang?"


"Tapi Tuan kan sudah berjanji ..."


"Memang pada awalnya aku ingin meninjau lokasi tersebut untuk bertemu semua pedagang di sana, dan mengucapkan terima kasih kepada mereka semua karena telah bersedia di relokasi. Tapi saat mendengar informasi bahwa lokasi tersebut telah menjadi dua kali lipat lebih ramai daripada lokasi sebelumnya ... Aku mengurungkan niatku untuk datang ke sana dan hanya meminta Reza untuk mewakili kehadiranku ..."


"Kalau begitu biarkan saja aku pergi dengan Reza ..."


"Apa kamu bilang ...?"


"Tidak boleh!" sentak Raja to the point.


"Kenapa tidak boleh, Tuan?"


"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh ...!"


"Tapi kan Tuan sudah berjanji ..."


"Aku menarik kembali janji itu." pungkas Raja seenaknya.


Naysila terhenyak mendapati pemandangan Raja yang melotot kearahnya. "Mana bisa seperti itu, Tuan ..."


"Tentu saja bisa. Kamu lupa siapa aku? Aku ini Raja Adiguna."


"Tuan pasti pernah mendengar sebuah ungkapan, bahwa pria sejati tidak pernah ingkar janji ..."


Bola mata Raja semakin melebar mendapati sikap keukeuh dari Naysila yang terus berusaha memojokkan dirinya demi mendapatkan ijin agar bisa tetap pergi.


"Kamu ini ..." geram Raja, kesal bukan main.


"Masa iya Tuan tidak bisa mempercayai kepergianku bersama kakak Tuan sendiri ...?" kalimat Naysila semakin terkesan memprovokasi.

__ADS_1


Bukan apa-apa, karena melihat gerak-gerik Raja saat ini yang semakin jelas terlihat mulai bimbang, tersulut emosi, juga rasa gengsi, membuat Naysila semakin nekad untuk mendapatkan ijin resmi dari pria itu agar dirinya bisa melenggang keluar dari sangkar emas milik Raja, hanya demi bisa menghirup segarnya udara bebas yang hiruk-pikuk diluar sana.


Bayangkan saja, tiga bulan sudah Naysila hidup hanya untuk berinteraksi dengan satu orang menyebalkan seperti Raja Adiguna.


Membayangkan ia harus bertahan dengan kondisi seperti itu selama kurang lebih sembilan bulan kedepan, bukankah pantas jika sekarang Naysila rindu ingin merasakan sedikit saja kebebasan ...?


'Kali ini, aku harus bisa menundukkan pria sombong ini ... Bagaimanapun caranya ...!'


Begitulah kira-kira bunyi tekad isi hati Naysila yang sangat mengharapkan bahwa kali ini, semoga Raja bisa menurunkan sedikit saja standar pengekangan atas hidupnya.


Sementara itu ...


Bersamaan dengan riuh-rendahnya bathin Naysila yang semakin giat berdemo demi mendapatkan kesempatan menghirup udara luar, diam-diam di dalam hati Raja pun sedang terjadi perang dunia ketiga.


'Wanita ini apa-apaan ...? Bisa-bisanya dia memintaku untuk mengijinkan dirinya pergi bersama Reza ...?'


'Apakah dia tidak merasa khawatir sama sekali pergi bersama Reza ...? Yang notabene merupakan pria lain yang bukan suaminya ...?'


'Si al ... Apakah Reza memang se-beruntung itu hingga bisa dengan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain ...?'


'Bahkan dulu, Utari juga memilih bersama Reza karena alasan yang sama ...'


'Memangnya se-tipis apa tingkat kepercayaan orang lain kepadaku, sehingga rasanya hanya seorang Rafly Adiguna saja yang bisa mempercayai diriku berserta seluruh kekuranganku tanpa terkecuali ...!'


Demi Tuhan, rasanya Raja ingin mengumpat jika memikirkan semua itu.


"Tuan, seharusnya kamu tidak perlu merasa khawatir apalagi merasa cemburu dengan keberadaan Reza ..."


Sepasang mata Raja langsung melotot sengit atas ucapan Naysila.


Saking gengsinya, Raja bahkan tak menyadari bahwa Naysila sengaja mengucapkan kalimat konyol itu demi memanas-manasi hati Raja yang sesungguhnya sudah kadung panas duluan.


"Cih, memangnya siapa juga yang khawatir dan cemburu kepadamu ...?" ujar Raja tanpa sensor, lagi-lagi termakan umpan mentah-mentah.


"Kalau memang demikian, lalu kenapa tidak ijinkan saja aku pergi bersama Reza dan ..."


"Pergilah!! Pergilah bersama Reza ...!! Lakukan saja apa maumu hari ini ...!! Tapi ingat baik-baik, Naysila, batas toleransi ku hanya untuk hari ini ...!!"


Suara Raja yang menggelegar, seolah memenuhi seluruh sudut kamar mereka yang maha luas.


"Lagipula ... Jangan sampai karena aku melarangmu pergi ... Maka kamu akan kembali bernyanyi dan menuduh bahwa aku sedang cemburu ...!!"


Raja yang masih mengomel panjang-pendek membuat Naysila hampir tak bisa menguasai tawanya yang hendak memecah.


Di mata Naysila, sikap Raja kali ini terlihat benar-benar lucu, menggemaskan, sangat kekanak-kanakan, persis seperti bocah yang sedang ngambek.


Situasi hati Raja yang labil seperti inilah yang sangat disukai Naysila, karena tanpa sadar pria itu akan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, setiap kali berhubungan dengan rasa gengsi.


"Naysila ... Naysila ... Bisa-bisanya kamu menuduhku cemburu ...? Cih ... Sudah gila ...! Mimpi kamu!"

__ADS_1


Rutuk Raja lagi dengan wajah masam, yang kali ini hanya ditanggapi Naysila dengan senyum penuh kemenangan ...


Bersambung ...


__ADS_2