
"Padahal selama ini aku berpikir kamu menyukai Utari ..."
Saat berucap demikian, Naysila terus memandangi wajah tampan yang berada diatas pangkuannya.
Saking intensnya tatapan Naysila, ia bahkan bisa melihat setiap helai bulu mata Raja yang bisa dibilang cukup lentik untuk ukuran pria, yang bahkan untuk dirinya yang notabene seorang wanita, tidak memiliki bulu mata yang se-lentik itu.
Sepasang mata Raja tetap terpejam, seolah tak terusik dengan ucapan Naysila, namun pemandangan berbeda justru terjadi disudut bibirnya yang mengandung senyuman.
"Lihat, lagi-lagi kamu menampakkan kecemburuanmu tanpa kamu sadari ..."
Naysila memajukan bibirnya dua centi, meskipun sudah pasti Raja tidak bisa melihatnya karena kedua mata pria itu masih terpejam, seolah sedang benar-benar meresapi belaian lembut jemari Naysila di setiap helai rambutnya.
"Aku bicara hal yang lain, tanggapanmu malah lain ..." desis Naysila tanpa menyembunyikan rasa keki.
"Aku justru membicarakan hal yang benar ..."
"Apanya yang benar?"
"Semua ucapanku."
"Ishh ... Pentingkah mengucapkan kalimat yang berlebihan ...?"
Sebelah mata Raja terlihat mengintip sedikit wajah cemberut milik Naysila.
"Naysila, aku tidak berlebihan. Tapi memang aku harus ekstra keras guna menyadarkan dirimu atas perasaanmu yang sesungguhnya ..."
Naysila terdiam, namun jemarinya tetap membelai rambut Raja.
"Aku hanya menanyakan perihal Utari, kenapa membahas hal yang tidak ada hubungannya ....?"
Raja terkekeh kecil, mendapati Naysila yang masih mencoba mengelak setiap kali Raja membahas persoalan yang sama.
"Baiklah, kalau begitu tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan, dan aku akan menjawab semuanya tanpa terkecuali ..." tantang Raja, kali ini dengan kedua matanya yang telah terbuka sempurna.
Raja bahkan telah melipat kedua lengannya keatas dada, seolah ingin mengesankan kesiapan dirinya demi menuntaskan seluruh rasa penasaran Naysila yang entah sebesar apa.
"Baiklah, kalau begitu kenapa tidak mengaku saja kalau kamu menyukai Utari ..."
"Aku sedang tergila-gila kepadamu, lalu bagaimana bisa menyukai wanita lain ...?"
Sekujur wajah Naysila merona malu.
Sejujurnya Naysila merasa sangat bahagia mendengar kalimat lugas Raja, namun lewat gestur tubuhnya, tetap saja dirinya menolak terlena.
"Aku ingin jawaban, malah balik bertanya ..."
"Baiklah, kalau begitu jawabannya tidak." pungkas Raja kemudian, tanpa sedikit pun keraguan.
"Apanya yang tidak ...?"
"Masih bertanya ... Tentu saja aku tidak menyukai Utari. Lagipula sekarang dia istri Reza, untuk apa aku menyukai istri orang lain ...?"
"Jadi karena Utari istri Reza ...?"
"Intinya aku tidak menyukainya. That's all."
"Tapi kamu pernah menyukainya, kan ...?"
__ADS_1
Raja terdiam sejenak, seolah sedang berusaha mengembalikan setiap ingatan masa lalu yang sudah sangat lama berlalu, bahkan kalau mau jujur rasanya males banget untuk diubek-ubek kembali.
"Jadi ternyata benar kamu memang menyukainya ..." lebih mirip sebuah gumaman yang lirih.
"Oh come on, Nay, saat kami bersahabat, aku dan Utari bahkan masih tergolong bocah. Saat itu bisa saja kami belum mengerti tentang apa artinya perasaan suka dan sejenisnya ... Tapi yang tidak bisa aku pungkiri bahwa saat itu juga Utari memang merupakan satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa nyaman dengan kondisiku ... Karena selain kakek, hanya dia orang yang bisa aku dekati tanpa membuatku merasa terancam ..."
"Lalu kenapa sekarang kamu tidak bisa mendekatinya lagi ...?"
"Mana aku tau, Nay? Aku juga tidak tau kenapa ... Kalau mau jujur, sekarang aku bahkan tidak suka berdekatan dengannya ..."
"Tidak suka, tapi kamu sangat menyukai kue nastar buatannya ..."
Mendengar sindiran yang terucap dengan nada sinis yang teramat sangat halus tersebut telah membuat Raja meringis.
"Utari bahkan telah beberapa kali mengirimkan nastar kesukaanmu, saking lahapnya kamu memakan kue buatannya itu ...!"
"Ha ... Ha ... Ha ..."
Naysila tidak tau apa alasan yang membuat Raja tak bisa menahan gelak tawanya sehingga lepas berderai.
'Kenapa dia malah tertawa ...? Memangnya siapa yang sedang membuat lelucon ...?'
Bathin Naysila agak geram, namun lagi-lagi dia hanya bisa memajukan bibirnya sebagai reaksi dari kekesalan hatinya yang menggunung.
"Mau aku beritahukan sebuah rahasia tidak?" tawar Raja masih sambil menyisakan tawa disudut bibir.
Sungguh Raja tak menyangka bisa menemukan perasaan cemburu yang begitu dahsyat dari Naysila, hanya dikarenakan kue nastar!
Alis Naysila sontak mengerinyit nyata. "Rahasia apa?"
Wajah Naysila lagi-lagi merah padam dibuatnya, namun wanita itu diam saja, gengsi mengutarakan bahwa sesungguhnya dirinya sangat penasaran.
"Awalnya aku ingin membuangnya ..."
"Apppaaa ...?" Naysila yang awalnya cuek bebek seketika terhenyak ditempat. "Tidak mungkin ....!' semburnya sangsi.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh menanyakannya langsung kepada Asisten Jo, apakah benar aku memerintahkan dirinya membuang setiap kue nastar buatan Utari atau tidak ...?"
Naysila menatap lekat wajah Raja dengan ekspresi terkejut yang teramat nyata.
Mulut mungil Naysila yang sedikit terbuka, membuat Raja rada salfok sehingga nyaris menerkamnya.
"J-jadi ... K-kamu benar-benar memerintahkan Asisten Jo untuk membuangnya ...?" Naysila tergeragap, tak percaya.
"Hemm ..." angguk Raja.
"Raja, kamu tidak boleh membuang-buang makanan seenaknya ..."
Raja tersenyum simpul menanggapi rasa empati Naysila.
"Begini, Nay. Awalnya, aku memang telah memerintahkan Asisten Jo untuk membuang setiap kue yang diberikan oleh Utari. Tapi saat melihat Asisten Jo hendak menaruh se-toples kue nastar yang dalam keadaan utuh dan bersegel kedalam tempat sampah, tiba-tiba seorang maid nekad mencegahnya dan memohon agar bisa membawa pulang kue nastar kiriman Utari tersebut untuk ia berikan kepada anak-anaknya yang berada di rumah. Kemudian sejak saat itulah Asisten Jo selalu berinisiatif untuk memberikan kue nastar yang ingin kubuang kepada maid itu, setiap kali Utari menghadiahkannya ..."
Naysila benar-benar terperangah mendengar penuturan panjang lebar yang berasal dari mulut Raja.
Demi apa, selama ini Naysila selalu mengira setiap toples kue nastar yang dikirimkan Utari selalu menghuni ruang kerja Raja yang sangat privacy dan istimewa.
Naysila sangat tidak menyangka bahwa kenyataan yang ada sungguh sangatlah berbeda.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah merasa lega ...?" goda Raja menyadari Naysila yang masih betah bengong ditempatnya.
Naysila yang belum juga membuka mulut kini terlihat membuang muka kesamping dengan perasaan rikuh plus salah tingkah
Ia menolak bersitatap langsung dengan sepasang manik mata elang Raja yang terus mengawasinya dengan begitu lekat, dari bawah sana, tepat dari atas pangkuannya.
Dengan perlahan Raja bangkit dari pangkuan wanita yang sedang berusaha mati-matian menyembunyikan perasaan malu dan gelisah dihadapannya itu.
"Nay, kenapa begitu sulit bagiku untuk membuatmu percaya ...? Sampai kapan kamu akan terus meragukan perasaanku ...?"
Lirih suara Raja membuat rasa bersalah sontak memenuhi setiap relung hati Naysila.
'Raja berkata benar.'
'Apa yang membuatku sulit percaya?'
'Dan mengapa aku terus meragukan Raja ...?'
'Raja bahkan telah bersedia memenuhi keinginanku untuk menjalani serangkaian therapy, yang jauh hari sebelumnya, bahkan seorang Rafly Adiguna sekalipun tidak pernah berhasil membujuk Raja agar mau melakukannya!'
Perlahan namun pasti, jemari Raja menyelinap kesela-sela jemari Naysila yang saling memilin satu sama lain, kemudian meremasnya dengan lembut.
"Naysila Pertiwi, I very , very, love you. Please ... Bukalah hatimu untukku sekali ini saja. Aku mohon, Nay. Please ..." bisik Raja penuh permohonan.
Naysila mengangkat wajahnya perlahan, mengikuti kemauan jemari Raja yang menuntun dagunya agar mau menelaah lebih dalam sepasang mata elang miliknya yang didalamnya dipenuhi perasaan cinta yang meluap-luap.
Namun semakin lama, Raja terlihat semakin putus asa, menyadari Naysila yang belum juga merespon ungkapan yang berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Nay, tolong katakan sesuatu. Please, Nay ... Pleaseeee ... Aku hanya ingin mendengar kamu mengatakan ..."
"I love you too ..."
Raja sangat terhenyak, seolah sedang menyangsikan pendengarannya sendiri.
"Nay, aku ... Aku tidak salah mendengarnya kan? B-barusan kamu mengatakan ..."
"I love you too ..."
Naysila pun tersenyum tipis mendapati wajah nge-lag Raja untuk yang kedua kalinya.
Naysila bahkan nekad memencet ujung hidung mancung milik Raja terlebih dahulu sambil tertawa, guna menghilangkan perasaan gugupnya yang mendera, sebelum berusaha untuk mengelak.
Pergerakan Naysila yang bertujuan menghindari Raja sontak terpatahkan begitu saja oleh karena tubuh mungilnya yang sudah lebih dahulu diraih kemudian dihempaskan keatas ranjang yang empuk.
"Raja, kamu ..."
Senyum Raja mengembang indah. "Sayangku ..."
"Hah ...?!"
Mulut Naysila yang ternganga mendapati panggilan super manis tersebut pun langsung dibungkam oleh Raja secepat peluru.
Kemudian yang terdengar selanjutnya hanyalah suara-suara merdu dua insan yang memenuhi setiap sudut kamar yang maha luas ...
Suara-suara indah penuh kerinduan, yang berasal dari pasangan kekasih yang saling memadu hati ...
Bersambung ...
__ADS_1