
Naysila bukannya tidak tau bahwa sejak tadi ada sepasang mata elang yang kerap mengawasi setiap pergerakan tubuhnya dengan begitu intens.
Untuk itulah Naysila sengaja kerap melakukan segala sesuatu, berpura-pura sibuk, mondar-mandir tak menentu, semata-mata hanya untuk menghindar agar Raja tidak punya kesempatan bertanya ini dan itu.
'Kenapa dia tidak tidur saja sih? Kalau dia masih duduk mengutak-atik ponsel sambil sesekali melirik dengan tampang mencurigakan seperti itu ... Aku kan jadi semakin takut untuk mendekat ...'
Bathin Naysila sambil berpura-pura melipat tumpukan bajunya yang sebenarnya sudah rapi sejak awal.
Naysila merasa geregetan sendiri karena Raja belum juga menampakkan gelagat untuk merebahkan dirinya ke pembaringan.
Sementara itu ...
Raja yang kelihatannya sibuk mengutak-atik ponsel namun sebenarnya hanya membuka-buka berbagai aplikasi secara acak itu sesungguhnya juga sedang menahan gemas.
Berbagai pertanyaan telah menginvasi otaknya guna meminta jawaban.
Namun jangankan bertanya langsung, Naysila bahkan tidak pernah mendekati Raja seolah sengaja tidak ingin memberikan Raja kesempatan untuk bicara kepadanya.
'Mengapa dia sengaja menyudutkan Utari seperti itu? Apakah dia tau kisah masa lalu antara aku dan Utari? Tapi kalau pun demikian, kenapa dia harus bertindak se-ekstrim itu ...? Apakah dia sedang menampakkan rasa cemburu ...?'
Kepala Raja pening sendiri, karena terus-menerus dikejar pertanyaan yang sama, usai dirinya dibuat terhenyak diam-diam atas aksi Naysila yang begitu luwes namun menggigit, saat menghadapi Ibu dan Utari sore tadi.
Tak tahan saling berdiam diri cukup lama, kesabaran Raja yang memang biasanya hanya setipis tissue itu kini habis tak bersisa.
Raja melempar ponsel ditangannya ke atas permukaan bantal, kemudian dengan gerakan tegas Raja pun bangkit dari duduknya yang awalnya bersandar nyaman di kepala ranjang, langsung menghampiri Naysila yang begitu menyadari pergerakan Raja ia pun berniat buru-buru bangkit dengan cekatan.
__ADS_1
"Heh, mau kemana kamu?" pungkas Raja, dengan gesit langsung menangkap lengan mungil Naysila yang hendak melarikan diri dari hadapannya.
"Egh, anu ... Aku ... Aku mau ke kamar mandi ... Iya, kamar mandi ..."
Alis Raja bertaut mendengar jawaban Naysila yang terpatah-patah, saking gugupnya..
"Ada apa? Kamu lagi diare?" tanya Raja penuh selidik, tanpa sedikit pun mengendurkan cengkeraman tangannya di lengan Naysila, seolah takut jika terlepas wanita itu bisa menghilang dari pandangannya.
Kepala Naysila sontak menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Raja yang penuh selidik.
'Diare ...?'
"Ihh, jorok ... Malu-maluin banget ...'
'Bisa-bisanya Raja menuduh aku sedang diare ...!'
Yah, meskipun sejak awal Naysila memang sengaja bolak-balik kamar mandi demi menghindari Raja, tapi kalau dituduh sedang diare Naysila juga merasa malu.
"Kalau bukan diare, lalu ada apa?"
"T-tidak ada apa-apa ... Aku ... Aku hanya ..."
"Naysila, jangan main-main denganku yah. kamu pikir sejak tadi aku tidak menghitungnya?"
"Egh, a-appaa ...?"
__ADS_1
Raja melengos mendapati wajah polos Naysila yang seolah tanpa dosa.
"Aku sudah menghitungnya sejak tadi, kamu sudah empat kali masuk-keluar kamar mandi tanpa alasan yang jelas. Lalu sekarang kamu mau masuk kamar mandi lagi? Memangnya kamu sedang melakukan apa?"
Naysila terhenyak ditempatnya, nyaris tak percaya saat menyadari bisa-bisanya Raja bahkan sampai menghitung sudah berapa kali dia bolak-balik kamar mandi tanpa alasan yang jelas.
"Kemari ..." tanpa membuang waktu lebih lama, Raja langsung menyeret lengan Naysila mendekati ranjang.
Naysila yang sontak terkejut atas tindakan spontan Raja terlihat memberontak kecil.
"S-sebentar ... Ini ... Anu ... T-tidak, aku belum mengantuk ..."
Pemberontakan rikuh Naysila seolah tak berarti apa-apa bagi Raja yang terus saja menyeret tubuh mungilnya kearah yang ia inginkan.
"Terserah kamu sudah mengantuk atau belum, yang jelas sekarang aku sudah mengantuk, dan itu artinya waktunya untuk tidur ...!"
"Iya, baik, baiklah ... Tapi aku kan bisa naik ke ranjang sendiri tanpa harus di .... Aaaaaaakkh ...!!"
Kalimat Naysila telah berujung pada pekik tertahan, manakala tubuh mungil Naysila terasa melayang sejenak di udara sebelum nyaris terpental usai terhempas keras ke permukaan ranjang yang super empuk.
Belum sepenuhnya Naysila sadar dengan apa yang terjadi, manakala tak lebih dari dua detik tubuh kekar Raja telah menyusul diatasnya.
"T-Tuan mau apa ...?" Naysila beringsut panik saat tubuh Raja mengungkungnya dengan bertumpu pada kedua lengan kekar yang dipenuhi tonjolan ototnya yang liat di kiri dan di kanan ...
Next ...
__ADS_1
🧕 : Jangan lupa di Like yah 🙏