MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
SEBUAH PELUKAN


__ADS_3

"Ini pasti inisial namaku, kan?"


Raja terlihat mengusap bangga inisial nama 'R.A.' yang nampak menghiasi pinggiran sebuah sweater rajut berwarna putih, yang ternyata merupakan hadiah yang dijanjikan Naysila untuknya.


Bukan hanya inisial nama berwarna pink itu saja yang membuat hati Reza berbunga-bunga melainkan tambahan emoticon berbentuk hati yang tersemat setelah inisial namanya tersebut, sanggup membuat Raja besar kepala alias ke-ge-eran.


"Hhhhmm ..." Naysila hanya berdehem kecil, di sudut hatinya juga merasa senang, menyadari Raja terlihat sangat menyukai hadiahnya, apalagi saat mengetahui bahwa sweater tersebut merupakan hasil rajutan tangan Naysila selama berbulan-bulan.


Bahkan kekhawatiran Naysila yang sempat deg-degan karena takut Raja akan protes dengan warna pink yang terlihat begitu kontras dengan warna putih yang merupakan warna kebangsaan seorang Raja Adiguna, malah tidak terjadi sama sekali.


Yang ada Raja malah terlihat senang saat mendapati eksperimen Naysila tersebut.


"Katakan kepadaku, kenapa inisial ini kamu rajut dengan benang berwarna pink ...?"


Naysila sedikit terhenyak mendapati pertanyaan gabut Raja.


"Kenapa?" ulang Naysila dengan alis bertaut.


"Iya, kenapa? Kenapa kamu memilih benang berwarna pink? Kamu kan bisa saja menggunakan benang berwarna hitam, cokelat, biru, hijau ..."


Naysila terdiam sejenak.


Sebenarnya kalau mau jujur, saat ingin memberikan sentuhan kecil berupa inisial nama Raja di pinggiran sweater yang dibuatnya itu, Naysila sendiri tidak pernah berpikir apa-apa.


Ia hanya memilih begitu saja benang berwarna pink karena terkesan lebih manis, tanpa tendensi apa-apa seperti yang mungkin sedang bercokol didalam benak Raja sekarang.


"Tidak ada alasan yang spesifik. Aku hanya asal memilih warna benangnya dan ..."


"Bohong. Bagaimana mungkin kamu hanya asal memilih?"


Naysila mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi bingung.


'Lagian, apanya yang salah dengan memilih benang berwarna pink?'


'Kenapa juga pria dihadapanku ini malah tersenyum aneh seperti itu ...?'


Naysila membathin, bingung menerka apa yang sebenarnya sedang bercokol dalam otak Raja.


"Lalu ... Emoticon hati ini ... Kenapa kamu merajutnya ...?" tukas Raja lagi, yang sangat terlihat betapa ingin dirinya menyudutkan Naysila.


Lagi-lagi Naysila terhenyak menerima pertanyaan gabrut Raja.

__ADS_1


Jujur, saat membuatnya Naysila juga tidak sedang memikirkan apa-apa. Hanya berpikir bahwa sepertinya akan lebih menarik dan lucu jika ia menambahkan sebuah emoticon berbentuk buah hati kecil diujungnya.


'Memangnya pria ini sedang mengharapkan apa dari sebuah inisial nama berwarna pink dengan emoticon berbentuk buah hati yang telah aku rajut itu ...?'


Pikir Naysila lagi dengan dahi berkerut.


"Jadi kamu tetap mau bilang bahwa kamu tidak sengaja melakukan semua itu yah? Memilih benang berwarna pink sebagai tambahan ornamen inisial namaku, juga dengan emoticon love ini ..."


"Aku memang tidak berniat apa-apa dengan semua itu, selain hanya ingin membuat sebuah sweater yang hangat untukmu ..."


"Padahal jauh didalam sana, sesungguhnya hatimu sudah menyadarinya sejak awal ..." Raja bicara sambil menatap Naysila dengan senyum misterius.


"Menyadari apa?"


"Menyadari kalau sejak dulu kamu sudah naksir aku duluan ..."


Dituduh seperti itu langsung saja sepasang bola mata Naysila membelalak, sementara Raja malah tergelak kesenangan.


"Please deh, jangan ge-er yah ..." elak Naysila dengan kedua pipi bersemu.


"Tidak ada yang ge-er. Hatimu memang sudah memberi signal sejak awal, tapi kamu yang tidak ingin menerima kenyataan ..."


"Menerima kenyataan apanya?"


"Tidak mung ..."


Mengambang.


Hanya karena sebelah tangan Raja yang terangkat menyentuh sebelah pipi Naysila dengan sangat lembut, mulut Naysila yang hendak mengajukan protes sengit telah terbungkam sempurna.


Tak ada lagi tawa usil Raja, begitupun dengan kalimat jahilnya.


Saat ini yang nampak dihadapan Naysila hanyalah sebuah wajah tampan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi pendar.


"Tolong berikan aku kesempatan. Kalau kamu memberikannya, aku akan mengabulkan permintaan yang selalu kamu pinta setiap waktu ..."


Naysila terhenyak mendengar sebait kalimat yang terucap dengan nada berat namun dipenuhi kesungguhan itu.


Permintaan Naysila yang menurut Raja merupakan permintaan yang selalu dipinta oleh Naysila sepanjang waktu adalah tak lain yaitu permintaan untuk mengunjungi seorang psikolog handal dan melakukan therapy.


Memang benar, sejak hubungan mereka membaik Naysila sudah berkali-kali meminta Raja untuk melakukan semua itu, namun hingga detik ini Raja tidak pernah sekalipun menyatakan kesediaannya.

__ADS_1


Sesungguhnya meskipun belum pernah mengiyakan, tanpa sepengetahuan Naysila, Raja selalu memikirkan keinginan wanita itu setiap waktu.


Bukan karena berniat ingin sembuh yang membuat Raja sedikit termotivasi dalam melakukan serangkaian therapy yang ditawarkan, melainkan semata-mata karena tekad Raja yang selalu ingin meluluskan apapun yang diinginkan Naysila dari dirinya.


Se-sederhana itu, karena perasaan Raja untuk bisa bersama Naysila telah membuatnya tertantang menjadi sosok yang benar-benar diinginkan oleh wanita itu.


Melembutkan hati, bersikap hangat, menghargai sesama, dan selalu bersyukur dalam setiap keadaan.


Sejauh ini semua nasihat Naysila sekalipun hanya diucapkan dengan sambil lalu, diam-diam selalu berusaha untuk diterapkan oleh Raja dalam kesehariannya.


Raja bahkan terkejut saat mendapati hasil dari semua ucapan positif Naysila itu tak ada satu pun yang tidak memberikan kontribusi yang baik dalam kehidupannya.


Semua itu terbukti oleh hubungannya dengan ibu yang semakin membaik, begitupun hubungannya dengan Reza.


Kemudian segala hal yang menyangkut pekerjaan, komunikasi yang terbangun dengan para pegawai yang dulunya berjalan kaku kini mulai mencair, dan yang paling signifikan adalah meluasnya peta bisnis dengan munculnya relasi-relasi baru lewat pihak ketiga yang selalu datang bertubi-tubi tanpa terprediksi.


Raja harus mengakui, bahwa dalam kurun waktu dua bulan terakhir, ada banyak sekali target yang terealisasi.


Semuanya berjalan dengan sangat lancar, seiring dengan semakin terbukanya peluang-peluang emas yang tentu saja menguntungkan Adiguna Corporation.


"J-jadi kamu bersedia menjalani therapy ...?" binar yang terpancar dari tatapan Naysila membuat hati Raja ikut berpendar.


Raja pun mengangguk dengan yakin. "Demi dirimu, Nay ... Memangnya apa sih yang tidak bisa aku lakukan ..." imbuhnya ringan.


Naysila menatap Raja seolah tak percaya, dan kali ini tatapannya telah bercampur haru.


Wanita mana yang tidak bahagia mendengar kalimat seperti yang diucapkan Raja barusan?


Sama halnya dengan Naysila, yang meskipun ditepian hatinya masih bergelayut berbagai macam keraguan, namun ia juga tak bisa memungkiri betapa saat ini hatinya telah dipenuhi kebahagiaan.


"Bolehkan aku memelukmu ...?" lirih Naysila membuat Raja terhenyak, seolah tak ingin percaya begitu saja dengan pendengarannya.


"Naysila, kamu ..."


"Saat ini aku sangat bahagia. Saking bahagianya, rasanya aku benar-benar ingin memeluk seseorang ..."


"Aku. Aku saja. Ada aku disini, kenapa kamu masih mencari seseorang untuk dipeluk ...?" protes Raja yang berubah sengit. Gelagatnya mirip sekali dengan seorang bocah yang sedang merajuk.


Melihat pemandangan lucu itu, membuat Naysila tak bisa lagi menahan tawanya.


Namun meskipun sedang tergelak, Naysila tetap mengayun langkahnya mendekati Raja, guna menghadiahi pria itu dengan sebuah pelukan ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2