MENIKAHI PERAWAT LANSIA

MENIKAHI PERAWAT LANSIA
MEMESAN HAMPERS


__ADS_3

Bugh.


Sebuah dokumen yang berada didalam map batik terhempas begitu saja keatas meja.


Raja menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, sambil memijat kedua alisnya secara bersamaan.


"Sial ..." desis Raja lirih, saat menyadari betapa kesal hatinya saat ini.


Belum ada satu jam Naysila dan Reza keluar beriringan dari dalam ruang kerjanya, namun kegelisahan Raja yang semakin lama semakin meningkat, seolah tak terbendung.


Padahal sudah jelas-jelas Raja dengan tegas telah memerintahkan Naysila berangkat dengan mobil terpisah dengan Reza, tapi entah kenapa bathin Raja masih saja tak tenang.


Iya ... Naysila dan Reza memang berangkat dengan kendaraan terpisah, tapi saat berada di lokasi pasar untuk bertemu nenek penjual mainan grosir itu, bukankah mereka nantinya akan tetap beriringan juga?


Sudah pasti Reza akan mendampingi langkah Naysila, kemanapun istrinya itu melangkah.


Keduanya mau tak mau akan memiliki lebih banyak waktu bersama, kemudian lambat laun diantara mereka pastilah akan timbul pembicaraan.


Lalu bagaimana kalau pembicaraan mereka nyambung satu sama lain?


Bagaimana kalau karena itu pula mereka akan semakin intens berinteraksi?


Bagaimana kalau nantinya ...


'Akhhh ...! Siaaaallll ... Siaaaallll ...!'


Bathin Raja yang mendadak berteriak kesal membuat duduk Raja menjadi belingsatan sendiri.

__ADS_1


Raja sadar, sifat paranoid telah menguasai dirinya, namun ia sendiri tak ingin membendung semua perasaannya yang terlanjur membara.


"Tidak ... Tidak bisa kalau begini ..." desis Raja dongkol sambil buru-buru meraih ponsel miliknya yang ada diatas meja, langsung menekan sebuah angka guna melakukan panggilan cepat.


"Iya, Tuan ...?" suara sigap Asisten Her di ujung sana terdengar menyapa gendang telinga Raja.


"Her, cepat siapkan mobil, aku juga ingin pergi ketempat para pedagang yg kemarin di relokasi." titah Raja to the point.


Diujung sana Asisten Her sempat sedikit nge-lag dengan titah sang majikan.


Bukan apa-apa, karena Asisten Her tahu persis bahwa Raja bahkan tidak pernah ingin berada dalam suasana hiruk-pikuk seperti itu.


Apakah semua itu dikarenakan Tuan Raja sangat mengkhawatirkan Nyonya Naysila?


Tapi bukankah Tuan Reza baru saja ditugaskan untuk menggantikan sang majikan untuk mendampingi Nyonya Naysila?


"Her, kamu dengar apa yang aku katakan, tidak?" Raja berucap tak sabar mendapati kediaman Asisten Her, yang tak tanggap seperti biasanya.


"Aaaa ... Iya, iya Tuan ..."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Siapkan mobil sekarang, karena aku akan menyusul istriku sekarang juga!"


"Baik, Tuan ... Oh iya, Tuan, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Tuan terlebih dahulu. Ini ... Ini menyangkut Nyonya Naysila ..." pungkas Asisten Her lagi saat ia teringat akan sesuatu.


Raja urung mengakhiri pembicaraan, terlebih saat mendengar nama Naysila disebut. "Apa itu?"


"Tuan, pertama-tama maafkan keteledoranku yang baru saja mengetahui informasi ini pada beberapa saat yang lalu, padahal laporan transaksi pembayaran tersebut telah terjadi pada lebih dari satu jam lamanya."

__ADS_1


"Langsung pada intinya saja." pungkas Raja tak sabar.


"Tuan, pagi tadi aku telah menerima laporan dari transaksi pembayaran via mobile banking atas nama Nyonya Naysila Pertiwi, pada sebuah Restoran Padang terkenal dalam jumlah besar."


Sepasang alis Raja bertaut mendengar informasi yang diberikan Asisten Her tersebut.


Sejujurnya, disisi lain Raja merasa senang karena setelah lebih dari tiga bulan, pada akhirnya hari ini adalah kali pertama Naysila mau menggunakan uang yang memang sengaja dibuat Raja pada sebuah rekening bank atas nama Naysila.


Namun menyadari Naysila membelanjakan uang pemberian Raja tersebut untuk membeli makanan dalam jumlah yang banyak, telah membuat Raja sedikit merasa bingung.


'Untuk apa dan untuk siapa Naysila memesan makanan dalam jumlah besar ...?'


"Nyonya Naysila memesannya dalam bentuk hampers, Tuan." suara Asisten Her kembali terdengar.


"Hampers ...?" alis Raja semakin bertaut karenanya.


"Iya Tuan, dan ratusan paket hampers tersebut dialamatkan ke lokasi pasar baru yang menjadi tujuan Nyonya hari ini. Sebuah mobil box besar yang membawa hampers tersebut bahkan telah tiba tak lama berselang saat Nyonya Naysila tiba di sana ..."


'Sepertinya Naysila ingin membagikan paket hampers tersebut kepada para pedagang ...'


Tebak Raja dalam diam, kemudian Raja pun tersenyum dalam hati.


Meskipun sesungguhnya Raja juga merasa sedikit kesal atas tindakan Naysila yang melakukan semua itu secara diam-diam tanpa melibatkan dirinya, namun pada akhirnya hati Raja menjadi luluh mendapati kebaikan hati Naysila yang bisa-bisanya berpikir untuk membawa buah tangan bagi para pedagang yang hendak ia kunjungi.


Raja bahkan tidak pernah memikirkan untuk melakukan hal-hal baik seperti itu kepada siapapun, namun Naysila sungguh luar biasa karena mampu memikirkan tindakan sederhana yang mampu menyentuh relung hati, meskipun nilainya tak seberapa ...


NEXT ...

__ADS_1


Jangan lupa di support yah guys 🤗


__ADS_2