Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
prolog


__ADS_3

Cantik, seksi, berkulit putih, dan juga menggairahkan, itulah gambaran wanita malam. Semakin minim baju yang dikenakan, semakin memikat para pelanggannya.


Malam dijadikan siang dan siang dijadikan malam, itu hal biasa baginya. Tidak pernah melihat siapa mangsanya, yang penting uang. Agar semua kebutuhannya tercukupi. 


"Om ...," panggil Dina lirih.


Napas Johan semakin tidak beraturan. Badannya bergetar, seperti sedang ada yang dia tahan.


"Malam ini kamu milikku, Dina."


Beberapa kecupan mendarat di leher Dina.


"Tahan, Om! Jangan sekarang!"


Dina mulai memainkan permainannya.


Raut wajah Johan tampak kesal saat Dina menolak ajakannya. Tidak lama kemudian Johan mengeluarkan 20 lembar uang pecahan seratus ribuan, sebagai DP. Johan paham dengan sifat Dina yang mata duitan. Namun baginya itu tidak masalah, asalkan Dina bisa memuaskan dirinya.


"Tunggu,Om! Masa kita main di sini?"


"Kamu, ya. Paling pintar mainin Om."


Dina tertawa sinis. Lalu tubuh mungilnya di bopong oleh Johan menuju mobil. Mata Johan terlihat sayu akibat perasaan yang semakin tidak karuan saat tangan mulus Dina melingkar di lehernya.


"Pelan-pelan bawa mobilnya, Om! Dina takut."


"Aku sudah tidak kuat, Din!"

__ADS_1


"Aawww, sakit, Om!" Dina kesal karena Johan tiba-tiba menginjak rem mendadak. Akibatnya kepala Dina terbentur.


"Din, kamu cepat nunduk," ucap Johan panik.


"Ada apa, sih, Om?"


"Jangan banyak tanya, cepat nunduk!"


Dina pun menuruti perintah Johan. Tidak lama kemudian, ada seorang perempuan cantik seumuran Johan datang menghampiri mobilnya.


"Buka!" Perempuan itu mengetuk kaca mobil Johan.


Johan pun segera turun dari mobil dan menarik tangan wanita tersebut. Terlihat ada percakapan yang cukup panas di antara mereka.


"Mas! Mas! Mas!" teriak wanita itu. Namun, Johan tidak menghiraukan panggilannya. Johan memilih kembali ke mobil dan langsung menginjak rem. Hingga terhentilah di sebuah hotel mewah di Jakarta Utara.


"Silakan masuk," sambut pelayan hotel tersebut.


"Sudah siap, Pak."


"Hmmm," balas Johan.


Johan dan Dina pun bergegas menuju kamar dengan menggunakan lift. Sesampainya di kamar, Johan langsung menarik tubuh Dina dan menghempaskannya ke atas kasur.


"Sebentar, Om. Dina mau bersih-bersih dulu."


"Jangan lama!"

__ADS_1


"Oke."


Dina langsung masuk ke kamar mandi. Ia bersenandung kecil di dalam. Itu membuat Johan semakin tidak sabar menunggu Dina selesai mandi.


Setengah jam berlalu, Dina keluar hanya menggunakan kimono berwarna pink.


"Lama sekali, sayang," ucap Johan sambil mencium aroma tubuh Dina yang baru saja selesai mandi.


"Dasar tua Bangka!" batin Dina sinis. "Jika bukan karena uang males banget."


"Sayang, cepatlah kemari! Om sudah tidak sabar."


Dina tersenyum sini, lalu menghampiri Johan yang lebih dulu berbaring di atas kasur.


"Om, boleh Dina tanya sesuatu?"


"Tanya saja."


"Wanita tadi siapa?"


Muka Johan memerah saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Dina. Namun, Dina segera menghentikan Johan ketika Johan akan menjawab pertanyaannya.


"Minum dulu, Om," Dina menyodorkan segelas air putih.


"Aku tidak ingin minum. Aku menginginkanmu, Dina."


"Minum dulu, agar tidak haus. Kan nanti akan banyak mengeluarkan keringat dan juga tenaga."

__ADS_1


Johan tertawa mendengar ucapan Dina dan langsung menegak habis air yang Dina berikan.


"Nah, gitu dong, Om," ucap Dina sambil meletakkan gelas kosong di atas nakas.


__ADS_2