Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
Part 4


__ADS_3

Sebuah mobil sport mewah melaju kencang dan terhentilah di halaman rumah Johan. Seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil tersebut. Dengan rambut terurai panjang, tubuh tinggi serta seksi, dan juga berkulit putih ditambah balutan gaun berwarna pink muda senada dengan kulit menambah sempurnalah penampilannya.


"Bapak ada?" tanya wanita tersebut.


Orang-orang yang tengah berjaga seketika berkeringat dingin. Bagaimana tidak? Di dalam Johan sedang bersama Dina.


"Bapak ada?" Wanita itu mengulang pertanyaannya.


"A-a-ada, Non," jawab salah satu penjaga.


Pricillia Agata. Itulah nama wanita tersebut. Anak sulung dari Johan dan Sisilia Agata. Pricill itulah panggilan yang sering digunakan. Wanita cantik kelahiran Jakarta 1995 itu baru saja pulang dari Prancis setelah menyelesaikan study-nya. Anak desain yang sekarang sedang merintis bisnis dalam desain busana.


"Ada apa? Kenapa gugup?" tanya Pricill dengan mengercitkan keningnya.


Pricillia terkenal sangat ramah dan juga baik hati, sehingga para penjaga sangat menyeganinya. Makanya mereka bingung harus menjawab apa, karena takut melukai hati majikannya tersebut.


"Ya sudah. Jika gak mau jawab, Pricill masuk aja."


Semua saling tatap, bahkan ada yang berkali-kali menelan air liurnya.


"Papa, Mama, Pricill pulang!" Panggil pricill yang langsung menghempaskan tubuhnya pada sopa yang ada di ruang tengah. "Lho, katanya ada? Tapi gak ada yang nyambut aku pulang." Pricill yang sedang memainkan benda pipih kesayangannya langsung berhenti dan bergegas menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti di depan kamar Johan. Ada suara asing yang terdengar dari dalam kamar. Suara perempuan yang jelas-jelas bukan suara ibunya.


"Pap, Papa ...." Pricillia mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya Pricillia mencoba mendorong pintu kamar Papanya. "Eh, pintunya gak dikunci." Begitu pintu dibuka, pemandangan abstrak membuat mata Pricill membulat dan menarik napas panjang.


"Tidak ada siapa-siapa. Terus suara itu berasal dari mana?" Pricillia terdiam sejenak. Tiba-tiba lamunannya buyar oleh gemercik air dalam kamar mandi.


"Papa!" Pricill kaget saat membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Ia penasaran dengan suara wanita yang ada dalam kamar mandi.


"Pricill!"


"Siapa kamu?" Pricill langsung menyerang Dina yang tengah asyik bermain air dengan Johan. Sedangkan Johan berusaha melerai mereka. Namun, namanya orang emosi tingkat tinggi, Pricill tidak bisa dilerai. Dina terus mencoba lari dan menghindari Pricill, tetapi tidak bisa. Pricill tidak memberikan celah sedikitpun untuk Dina kabur.


"CUKUP!"


Mendengar teriakan Johan mereka pun berhenti. Namun terlihat jelas ada amarah yang masih bergejolak dalam diri Pricill. Sedangkan Dina bergegas memakai pakaiannya sembari menangis karena berkali-kali mendapat tamparan dari Pricill.


"Jelasin pada Pricill wanita ****** ini siapa dan mama ke mana?" tanya Pricill dengan nada keras. Air mata kekecewaan serta amarah bersatu. Bagai di sambar petir siang bolong. Seperti itulah gambaran perasaan gadis cantik itu.


"Din, kamu segera pulang!" perintah Johan.

__ADS_1


Dina berlari menuruni tangga agar segera keluar dari rumah mewah tersebut. Dengan di antara salah satu anak buah Johan, Dina pun kembali ke kostannya.


✨✨✨


"Aw, aw, aw, sakit!" Teriak Dina yang sedang dikompres setiap luka memar yang ada di wajahnya akibat tamparan Pricill.


"Abis, sih, lho. Diem aja. Coba kalau gue ada diposisi Lo tadi, udah gue bejek itu bocah!"


Rara yang sedang fokus bergelut dengan laptop dan juga tugasnya, langsung berbalik badan, "Din, kenapa kamu tidak berhenti saja jadi pemuas nafsu Pak Johan?"


Dina terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Bagaimana jika orang tuamu tau semua ini? Apa yang akan terjadi pada mereka? Bagaimana nasib kuliah dan juga masa depanmu?"


Suasana menjadi hening. Mungkin Dina sedang merenung mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Rara. Ya, setiap ucapan Rara memang benar. Resiko yang sangat besar sedang ia pertaruhkan. Air mata tak terasa menetes dari pelupuk mata Dina. Entah air mata penyesalan atau air mata ketakutan jika setiap ucapan Rara terjadi.


"Udah-udah, ngapain jadi mikirin itu. Sekarang saran gue, Lo, jangan mau diajak ke rumah si Johan lagi. Lagian ngapain dia ngajak ke rumahnya? Cari mati aja," kutuk Eliza.


"Istri dia lagi pergi ke luar negeri dan dia gak bilang anaknya bakal pulang hari ini," jelas Dina.


"Eh, gimana orang tua Lo di kampung?"


✨✨✨


"Tenang! Papa seperti juga karena mamamu. Dia sudah tidak bisa memuaskan Papa lagi."


"Tapi bukan seperti ini caranya, Pap. Pricill benar-benar kecewa." Tangisan gadis cantik itu pecah dipelukan Johan.


Semenjak melahirkan anak kedua mereka, Sisilia sudah tidak bergairah dalam melakukan hubungan. Bahkan sering sekali Sisilia menolak jika diajak berhubungan badan dan itu membuat Johan marah besar. Hingga akhirnya Johan sering datang ke club malam untuk menghilangkan rasa penatnya.


Dulu keluarga Johan terkenal dengan keharmonisannya. Keluarga yang rukun bahkan tidak pernah terdengar ada cekcok apapun. Dan Pricillia tidak tahu keadaan keluarganya saat ini karena sibuk dengan study-nya di Prancis.


"Sekarang mama ada di mana?"


"Dia pergi ke villa yang ada di puncak."


Mendengar jawaban Johan, Pricill langsung meraih kunci mobil dan bergegas pergi menyusul ibunya.


"Pricill! ini sudah malam!"

__ADS_1


Teriakan Johan tidak ia hiraukan. Pricill langsung menginjak gas.


"Ah, sial! Sial!" ucap Pricill sambil memukul stir mobil.


✨✨✨


"Dina!"


Langkah Dina terhenti oleh panggilan seseorang yang berasal dari belakang.


"Apa?"


"Din, saya mau berbicara sebentar."


"Om, eh, Pak. Dengar, ya. Aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu. Cukup memar di wajahku, jangan kau tambah lagi. Masalah perjanjian itu? Terserah! Dina tidak takut. Kerena yang tercemar bukan hanya nama Dina saja, tapi Bapak juga. Dan ingat satu lagi jangan pernah temuin Dina lagi! Terima kasih," jelas Dina panjang lebar.


"Tapi jika kamu menjauh dari aku, siapa yang mau denganmu? Kau sudah tidak suci lagi!"


Dina yang sudah membelakangi Johan langsung berbalik badan.


Plaakk


Satu tamparan mendarat di pipi Johan. Dan orang-orang yang kebetulan lewat sana, langsung mencibir kelakuan Dina yang kurang ajar terhadap salah satu dosen yang terkenal ramah tersebut.


Tanpa tahu penyebab utama Dina melakukan hal tersebut.


"El, lihat Dina sedang bersama pak Johan," ucap Rara yang menuju ke arah Dina dan Johan.


"Oh, iya, Ra. Ayo kita samperin."


Eliza dan Rara langsung membawa Dina menjauh dari Johan. Mereka takut Johan berbuat sadis. Apalagi Eliza yang sudah tahu tentang Johan.


"Minum, Din." Rara memberikan sebotol air mineral agar Dina sedikit tenang.


✨✨✨


Terima kasih yang sudah membaca. Tunggu kelanjutannya, ya.


Jangan lupa vote ♥️

__ADS_1


__ADS_2