Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
Part 2


__ADS_3

"Terima kasih, Din. Malam ini kau benar-benar bisa memuaskanku. Tidak sia-sia aku bayar mahal," ucap Johan sambil merapihkan pakaiannya.


Sedangkan Dina tengah menangis dengan tubuh ditutupi selimut. Kini hal yang akan ia banggakan untuk suaminya kelak telah direnggut oleh laki-laki yang baru saja ia kenal.


"Tidak usah menangis. Sakit? Itu hal biasa, karena kau baru pertama kali melakukannya. Om sangat beruntung menjadi orang yang pertama mendapatkannya," ucap Johan dengan posisi duduk di samping Dina.


Dina masih diam seribu bahasa. Air matanya terus mengalir membasahi pipi mulusnya.


"Tidurlah. Kita akan bermalam di sini."


Dina langsung membalikkan badan dan dari belakang, tangan kekar Johan melingkar di perutnya.


✨✨✨


Pelan-pelan Dina membuka matanya. Ternyata sang fajar telah bersinar. Pagi ini seperti bencana besar untuk hidupnya. Muka pucat serta mata yang sembab membuat penampilannya tidak sebaik pagi kemarin.


"Din, Om mau lagi," lirih Johan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tapi, Om. Dina harus kuliah," tolak Dina halus.


Johan tidak menghiraukan ucapannya. Ia langsung melancarkan aksinya walaupun Dina terus meringis kesakitan. Hanya lima menit, tetapi membuat Dina trauma. Pagi ini Johan bermain lebih kasar di bandingkan saat kemarin malam.


"Kita mandi bareng," ajak Johan yang langsung membopong tubuh Dina.


Dina hanya diam tanpa membalas ajakan Johan. Sepertinya ia sudah pasrah karena masa depannya sudah benar-benar hancur.


"Cepatlah! Om akan mengantarmu ke kampus."


Dina merasa tidak nyaman saat duduk di jok mobil. Ia merasakan rasa perih yang cukup hebat. Mungkin akibat kejadian malam serta pagi tadi.


"Lho, Om. Kenapa ke sini? Satu jam lagi ada jam kuliah," tanya Dina yang merasa heran karena mobil Johan berhenti di depan sebuah mall.


"Turunlah."


Dina pun menuruti perintah Johan. Lalu mengikuti langkah Johan yang lumayan cepat.


"Pilihlah!"


"Maksud, Om?" tanya Dina bingung.


"Ambil baju mana yang kau sukai. Tidak mungkin ke kampus menggunakan baju itu."

__ADS_1


"Tapi ...."


"Ambil saja! Om yang akan bayar."


Dina mengambil satu stel baju dan segera masuk ke dalam ruang ganti. Sedangkan Johan langsung menuju kasir.


✨✨✨


"Din, kamu dari mana saja? Kenapa semalam tidak pulang? Kamu tidur di mana?"


Pertanyaan beruntun keluar dari mulut  Rara.


Belum juga Dina menjawab pertanyaan Rara, Eliza langsung menarik tangannya.


"Mau ke mana, sih?"


"Lu, semalam tidur di mana?" tanya Eliza.


Dina menjawab pertanyaan Eliza dengan sangat pelan.


"Apa? Tidur di hotel sama Om Johan?"


"Jangan keras-keras ngomongnya!" ucap Dina yang langsung membekap mulut Eliza.


"Udah, ah. Aku mau masuk."


"Selamat siang anak-anak. Baik, untuk pelajaran hari ini dirasa cukup dan jangan lupa tugasnya. Sampai jumpa minggu depan!"


Seperti biasa, sebelum pulang Rara, Eliza, dan Dina selalu nongkrong di kantin. Hanya untuk sekedar makan bakso sebagai pengganti makan siang. Maklum saja sebagai mahasiswa dan juga anak rantau mereka harus ekstra ngirit, agar bisa membagi uang yang orang tua mereka kirim dari kampung.


"Hari ini aku yang bayarin kalian," ucap Dina semangat.


"Uang dari mana? Bukannya orang tua kamu belum transfer, ya?" tanya Rara heran.


"Udahlah gak usah banyak tanya. Yang penting sekarang kita makan bakso gratis," Eliza menghentikan pertanyaan Rara. Karena melihat mimik wajah Dina yang memerah.


✨✨✨


Sesampainya di kostan Dina langsung menghempaskan tubuh ke atas kasur. Badannya serasa sakit semua. Sepertinya malam ini Dina tidak akan pergi ke club malam. Namun saat beda pipih miliknya yang baru saja ia simpan di atas nakas bergetar, mau tidak mau dirinya harus datang.


"Si Rara kenapa?" tanya Eliza yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Emang kenapa?" Dina balik bertanya.


"Dia nangis," ucap Eliza.


"Tadi dia baik-baik aja. Malahan tadi telponan sama keluarganya di kampung," jelas Dina.


Entah mendapat kabar apa atau akibat rindu yang sudah tidak terbendung lagi,  Rara terus saja menangis di sudut kamar kost. Dina dan Eliza mencoba menenangkan, akan tetapi Rara masih saja menangis. Mencoba bertanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Sampai akhirnya Rara pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, memang di antara mereka bertiga, Rara lah yang paling religius. Bahkan pakaiannya pun sangat tertutup. Berbeda dengan Eliza yang super seksi. Namun tidak jika pergi ke kampus. Sedangkan Dina biasa saja. Meski seperti itu, mereka selalu kompak dan selalu ada di setiap keadaan. Menjadi keluarga baru di kota orang.


Jarum jam begitu cepat berputar. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 Wib. Eliza sudah bersiap untuk pergi bekerja. Sedangkan Dina masih menikmati mimpi indahnya.


"Din, Din, Dina!" teriak Eliza membangunkan Dina dari tidur nyenyaknya.


"Apaan, sih, El? Aku masih ngantuk," lirih Dina.


"Cepet bangun!"


"Din, bangun," ucap Rara halus. "Eh, tunggu, deh. Badan Dina panas, dia demam!"


"Din, lu, sakit? Ya ampun, ada-ada aja. Ya udah gue ke depan dulu beli obat! Ra, jagain Dina, ya!"


Di saat seperti ini, mereka harus merangkap menjadi dokter dan perawat dadakan. Saling merawat dan saling menjaga. Dengan telaten Rara terus menempelkan handuk hangat di dahi Dina.


"El, kenapa kamu tega-teganya jual sahabat sendiri?" tanya Rara dengan cukup emosi.


"Apa, sih? Gue gak paham maksud, lu. Daripada marah gak jelas, lebih baik ambilin piring sama air minum buat Dina!"


Rara mencoba menahan amarahnya. Ia langsung ke dapur mengambil piring dan air, supaya  Dina segera minum obat.


Budi Rara yang tadi baik-baik saja kini berubah. Rara terus menatap Eliza dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Lu, kenapa, sih, Ra? Kek jijik sama gue," tanya Eliza yang sudah sadar dengan sikap Rara.


Rara diam seribu bahasa. Ia sedang mencoba merangkai kata agar tidak ada yang tersakiti. Dan mencoba menenangkan diri agar ucapannya tidak dibarengi emosi.


"El, sebenarnya Dina kerja apa, sih?" tanya Rara dengan nada yang cukup halus. Ya, emosi yang sempat memuncak kini sudah lumayan reda.


"Maksud, Lo?" tanya Eliza bingung.


Rara mengambil ponsel Dina dan menunjukkan isi pesan dari Johan. Setelah melihat isi pesan tersebut Eliza paham kenapa sikap Rara seperti itu.


"Gue gak tau, Ra. Sumpah! Gue juga gak nyuruh Dina sampai sejauh itu! Gue bener-bener gak tau," Eliza menangis mengetahui jika masa depan sahabat sudah direnggut oleh pria tua itu.

__ADS_1


Rara kembali terdiam dan berpikir bagaimana nasib Dina kelak.


"Gue harus berangkat kerja. Gue titip Dina, ya, Ra," ucap Eliza yang langsung pergi.


__ADS_2