Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
Part 5


__ADS_3

Tolooong! Tolooong! Tolooong!


Sayup-sayup terdengar suara orang minta tolong. Dan semakin kesini semakin jelas. Ya, itu suara perempuan cantik yang tengah berlari ketakutan. Seperti sedang dikejar anjing atau yang lainnya.


Selang beberapa menit, tiga orang berbadan besar serta kekar datang dari arah yang sama.


"Larilah! Lari! Jangan berhenti! Teruslah lari! Sampai manapun kau berlari, kami akan tetap mengejarmu!" teriakan dari salah satu pria berbadan besar tersebut.


Suara yang cukup menggema. Perempuan tersebut terus berlari hingga akhirnya tersungkur dan tertangkaplah dia.


"Ampun!"


"Ampun?" Ketiga pria itu tertawa.


"Kenapa berhenti, hah?" tanya salah satu dari mereka sambil memegang dagu perempuan tersebut.


Tidak lama kemudian dia melepaskan ikatan pinggang yang melingkar di pinggangnya. Lalu dia mengayunkan ikat pinggang tersebut dan mendaratlah di tubuh perempuan cantik itu.


"Aawww! Sakit!"


Semakin wanita itu berteriak semakin beruntun cambukan yang dia dapatkan. Dan sialnya, jalanan yang biasa sangat ramai, kali ini benar-benar sepi. Jangankan pejalan kaki, kendaraan pun tidak ada yang lewat. Sangat malang nasib perempuan itu.


"******! Ayo kita pergi! Sebelum ada yang lihat."


"Tapi, Bos. Bagaimana dengan dia?"


"Biarkan saja. Ayo cepat pergi!"


Ketika dirasa keadaan cukup aman, Bayu yang sedari tadi melihat kejadian demi kejadian yang terjadi pun langsung menghampiri perempuan yang mereka biarkan tergeletak begitu saja setelah puas mereka siksa. Ya, perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Dina.


"Waduh, mati apa masih idup ini cewek? Kasihan amat. Lukanya ***** ... sadis bener itu orang. Cewek cantik kek gini malah mereka siksa," gerutu Bayu.


Bukan tidak ingin Bayu menolong Dina, akan tetapi nyalinya lebih dulu ciut saat mendengar suara ketiga orang tadi. Baru saja Bayu akan memeriksa keadaan Dina, Dina keburu mengubah posisinya menjadi duduk.


"Ka-kamu siapa?" tanya Dina seperti ketakutan.


"Saya Bayu. Jangan takut saya bukan orang jahat. Saya pegawai cafe yang ada di seberang jalan sana," jelas Bayu sambil menunjuk ke arah tempatnya bekerja.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Jangan banyak tanya. Lebih baik sekarang kamu ikut saya. Lukamu cukup serius dan harus segera diobati."


Dina hanya terdiam. Tidak ada respon yang ia berikan. Dina hanya menatap uluran tangan yang diberikan Bayu.


Tanpa ba-bi-bu, Bayu langsung mengedong tubuh mungil Dina.

__ADS_1


"Maaf, saya lancang," ucap Bayu meminta maaf pada Dina.


Dina masih saja terdiam. Entah masih syok atau apa.


'Masya Allah, cantik banget ciptaan-Mu,' batin Bayu saat kedua bola matanya berpapasan dengan kedua bola mata Dina.


"Ekhem!"


"Eh, sudah sampai ternyata," ucap Bayu yang baru saja lamunannya buyar oleh suara Dina. "Duduklah. Saya akan ambilkan minum dan juga obat untuk lukamu."


"Terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu," ucap Dina yang menghentikan langkah Bayu.


Bayu pun kembali membalikkan badannya, "Tidak masalah."


"Awww, sakit!" keluh Dina saat Bayu menempelkan handuk dingin di pipinya.


"Maaf-maaf."


Kedua bola mata mereka pun kembali bertemu.


"Kalau boleh tau yang tadi melakukan semua ini, itu siapa?" tanya Bayu dengan ragu-ragu.


Dina menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya. Setelah itu barulah ia bercerita siapa ketiga orang tersebut. Bayu mengercitkan keningnya, tidak paham dengan apa yang Dina ceritakan.


"Tunggu! Biar aku yang mengantarmu," cegah Bayu saat Dina mulai melangkah.


✨✨✨


"Dina, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Rara dan Eliza secara bersamaan.


"Mohon maaf, Mbak. Lebih baik ngobrolnya di dalam dan Mbaknya diajak masuk. Kasihan mungkin badannya pada sakit," usul Bayu yang sedari tadi memegangi tubuh Dina.


"Oh, iya lupa. Ayo masuk. Sekalian Mas-nya," ajak Rara.


Di dalam Dina pun menceritakan kejadian demi kejadian yang ia alami tadi. Tidak lama kemudian Eliza meraih tas yang tersimpan di atas kasur lalu pamit pergi.


✨✨✨


Eliza terus memperhatikan seorang pria yang sedang duduk sendirian dengan beberapa minuman keras di hadapannya. Saat pria tersebut sudah terlihat sangat mabuk, Eliza pun segera menghampirinya.


"Kita mulai permainannya, sayang," lirih Eliza di telinga pria tersebut. Ya, pria itu adalah Johan dan Johan sedang stres karena Dina sudah tidak mau lagi melayaninya.


"Minumlah, sayang," Eliza memberikan segelas air putih.


"Dina," ucap Johan dengan suara yang kurang jelas. Eliza tertawa mendengar nama Dina.

__ADS_1


Eliza pun memanfaatkan keadaan tersebut. Tidak masalah jika dirinya dianggap Dina.


Satu persatu Eliza melucuti kancing baju Johan dan terlihatlah dada bidang Johan yang dipenuhi bulu. Sudah lama Eliza tidak menikmati tubuh Johan. Ya, dulu Eliza lah yang menjadi simpanan Johan. Namun ada suatu kejadian yang membuat Johan enggan lagi berhubungan badan dengan Eliza.


"Malam ini, Lo milik gue, Johan. Kita nikmati malam ini berdua."


Obat perangsang yang Eliza campurkan ke dalam air minum Johan sepertinya sudah mulai beraksi. Eliza tersenyum sini melihat Johan gelisah dan juga kegerahan. Secara tidak sadar Johan melucuti pakaiannya satu persatu. Setelah habis tak tersisa, Johan langsung menarik tubuh Eliza yang tengah terduduk di lantai. Johan pun melakukan hal yang sama pada pakaian Eliza. Sebuah permainan yang cukup panas pun terjadi. Bau alkohol kini bercampur dengan bau keringat.


"Akhirnya Lo masuk perangkap juga, Johan. Kita lihat, Lo atau gue yang akan menjadi pemenang malam ini," sinis Eliza.


Setelah setengah jam berlalu, mereka berdua pun terkulai lemas tak berdaya.


✨✨✨


Sang fajar telah menapakkan sinarnya. Sandiwara pun akan segera di mulai. Eliza sudah siap memainkan perannya. Ia terduduk di samping Johan sambil memeluk lututnya dengan tubuh hanya ditutupi selimut tipis yang ada di ruangan tersebut. Air mata buaya sudah membasahi pipinya.


Johan mengucek matanya lalu mengeliatkan tubuhnya, "Dina, kenapa kau menangis? Kemarilah sayang."


Eliza semakin mengeraskan tangisannya.


"Kau? Kenapa ada di sini? Dina mana?" Johan kaget setelah menyadari ternyata yang berada di sampingnya adalah Eliza bukan Dina.


"Dina? Dina siapa?" tanya Eliza sambil tersenyum licik.


"Jangan-jangan yang semalam?"


"Iya, semalam Om memaksaku untuk memuaskan nafsu bejad Om," jelas Eliza sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.


"Tidak! Tidak mungkin!"


"Jika Om tidak percaya, El punya buktinya." Eliza meraih ponsel miliknya lalu menunjukan video akan kejadian tadi malam.


Johan kaget melihat video tersebut yang memperlihatkan dirinyalah yang memaksa Eliza.


"Hapus video itu!"


"Oh, tidak bisa," ucap Eliza sambil tersenyum licik.


"Lalu maumu apa?"


✨✨✨


Penasaran kan? Apa yang diinginkan Eliza. Pantengin terus, ya.


Terima kasih yang sudah membaca dan jangan lupa vote-nya. ♥️

__ADS_1


__ADS_2