
Sang surya telah berada di ufuk barat. Senja pun sedikit demi sedikit pamit meninggalkan keindahannya. Bayu, si barista yang tengah menikmati secangkir kopi racikannya, tiba-tiba kembali mengingat kejadian kemarin sore. Ya, kejadian yang terjadi di tempat di mana sekarang ia berada. Pertemuan kedua bola mata dengan wanita yang membuat hatinya berdebar tak menentu.
"Perasaan apa ini? Tidak, tidak boleh rasa ini tumbuh. Dia sudah bersuami," gumamnya dalam hati.
"Lo kenapa, Bay? Gelisah amat," tanya seseorang yang baru saja duduk di hadapannya.
Bayu membuang napas kasar, lalu meneguk kopi dengan sedikit bersuara.
"Aaahhh, entahlah," ucapnya singkat sambil meletakkan cangkir kopi. Tatapannya kini beralih ke arah langit.
"Senja itu indah, ya? Tapi sayang, datangnya hanya sekejap mata."
"Lo jatuh cinta, Bay? Gilaaa ... ini hal langka, Bay," ucap Bara sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut.
✨✨✨
Eliza hanya mampu mengigit bibirnya, saat melihat Dina terbaring tak sadarkan diri. Sedangkan Rara terus membacakan ayat-ayat al-qur'an untuk kesembuhan sahabatnya tersebut.
"DINA!" Panggil seseorang yang baru saja sampai.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, Nak?"
"Bu, Pak. Maafkan kami. Kami tidak bisa jadi sahabat yang baik." Eliza bersimpuh di kaki Abdullah dan juga Wati.
"Ada apa sebenarnya ini?" Abdullah bertanya dengan suara yang cukup tegas.
Mulut Eliza dan juga Rara terasa kelu. Mukanya pucat, serta tubuhnya bergetar hebat. Bingung harus mulai dari mana mereka bercerita.
Hingga dokter pun datang, dan mereka selamat dari pertanyaan yang dilontarkan Abdullah. Namun diluar dugaan, dokterlah yang menceritakan kondisi Dina sekarang. Dan itu membuat Wati serta Abdullah kaget luar biasa. Anak yang selama ini mereka banggakan ternyata memberikan kotoran di muka mereka.
"Siapa yang menghamili Dina?" tanya Abdullah kepada Eliza dan juga Rara dengan mata membulat. "Siapa?"
"Permisi!"
"Ooh, jadi kamu yang menghamili anak saya?" Abdullah langsung menyerang Bayu yang baru saja datang bersama Bara.
"Tenang, tenang, Pak! Ini rumah sakit! Daripada ribut di sini, lebih baik kalian keluar dan selesaikan di luar, supaya tidak menggangu ketenangan pasien lain. Silakan keluar!" Dokter pun langsung mengusir Abdullah dan yang lainnya.
"Pak, maafkan Eliza. Ini salah Eliza. Dina hamil bukan oleh dia, tetapi oleh seseorang." Eliza langsung bersimpuh di kaki Abdullah setelah beberapa saat melihat Bayu terus-terusan di pukul Abdullah.
"Aw, sakit," ucap Bayu memegang wajahnya.
__ADS_1
"Lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk membicarakan ini. Gak enak di sini, diliatin banyak orang," saran Bara.
✨✨✨
"Kenapa Dina mesti hamil, sih! Jika berita ini sampai terdengar pihak kampus dan tau siapa yang menghamili Dina, bukan hanya nama baik Dina yang hancur, tapi aku juga."
"Oh, jadi si wanita ****** itu hamil? Anak Papa?" tanya Pricill yang sedari tadi memperhatikan serta mendengar celotehan Johan.
"Eng-enggak, sayang. Bu-bukan gitu," sangkal Johan.
"Cukup! Cukup, Pap, cukup! Papa mengorbankan keharmonisan keluarga kita hanya untuk kenikmatan sesaat? Benar-bener, berarti yang gangguan jiwa itu Papa bukan Mama. Pricill kecewa sama Papa!" Setelah mengungkapkan isi hati serta kekesalannya, Pricill keluar dari ruang kerja Johan dengan membanting pintu ruangan tersebut.
Setelah kepergian Pricill dari ruangannya, Johan langsung menelpon anak buahnya, dan memerintahkan untuk membungkam Dina.
"Siapa yang akan dibungkam, Om?"
Johan seketika membalikkan badan melihat sumber suara tersebut, dan kaget bak disambar petir, ternyata yang berbicara adalah Eliza.
"Sejak kapan kamu ada di sini, El? Dan kenapa bisa masuk?" tanya Johan panik.
"Bukan Eliza jika tidak bisa mengendalikan dirimu, Pak Johan," ucap Eliza sambil berputar mengelilingi Johan.
"Hanya satu! Nikahi Dina!"
Johan langsung membulatkan mata mendengar permintaan Eliza.
"Baik. Gue sudah menebak kalau Bapak Johan Wiguna tidak akan mau melakukan ini. Maka dari itu jangan coba-coba melukai Dina atau video itu akan menyebar."
✨✨✨
"Ra, aku di mana?"
"Dina? Alhamdulillah kamu siuman. Bapak ... Ibu .... Dina sadar!"
Abdullah, Wati, Bayu, serta Bara yang baru saja selesai menunaikan salat Ashar langsung memasuki ruangan.
Mata Bayu berbinar melihat Dina sudah siuman. Padahal Bayu sudah tahu siapa dan apa pekerjaan Dina sebenarnya, tetapi getaran dalam hatinya terus bergejolak.
Wati terus memeluk putri satu-satunya tersebut dengan isak tangis. Begitu juga dengan Abdullah.
"Eliza gak ada di sini, ya? Dan Mama juga Bapak kenapa ada di sini?"
__ADS_1
"Kami sudah tau semuanya, Nak. Kenapa kamu tega melempar kotoran ke muka kami?" tanya Abdullah di sela-sela isak tangisnya.
"Maafin Dina, Pak, Mah. Dina terlena kenikmatan dunia." Tangis Dina pecah seketika. Bukan hanya Dina dan orang tuanya yang menangis, Rara bahkan Bayu pun meneteskan air mata.
"Aaahhh, perut Dina sakit. Aawww! Sakit!"
Semua yang ada di ruangan kaget mendengar teriakan Dina, apalagi mereka tahu jika Dina tengah hamil muda.
Tubuh Bayu seperti ada yang menggerakkan. Tanpa di suruh, ia langsung pergi memanggil dokter dengan perasaan getir melihat Dina terus meringis setengah berteriak.
"Bagaimana keadaan Dina? Apa sudah siuman?" tanya Eliza.
"Ke mana saja kamu, El? Dina, Dina?"
"Dina kenapa, Ra?" Bukannya menjawab pertanyaan Eliza, Rara malah memeluk erat tubuh Eliza. Ia tidak kuat melihat kondisi Dina saat ini.
"Ra, Dina kenapa?" Eliza mengulang pertanyaannya dengan mengguncangkan tubuh Rara.
"Dina keguguran dan sekarang Dina kembali kritis."
"Lho, kok bisa?"
"Dina mengalami pendarahan hebat."
"Astaga, Dina!"
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 wib. Dan tidak terasa juga Bayu sudah berada di rumah sakit lebih dari 5 jam. Bukan tidak ingin dirinya terus menemani Dina, akan tetapi ia juga harus bekerja serta tidak enak oleh Bara yang sedari tadi menemaninya.
✨✨✨
Satu minggu telah berlalu, kini kondisi Dina sudah cukup membaik. Setiap pagi Bayu dengan setia datang membawakan sarapan untuk Dina. Itu membuat kedekatan mereka semakin hari semakin dekat.
Akhirnya hari kedelapan Dina diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik, hanya saja masih butuh dukungan untuk kondisi mental. Rasanya Wati dan juga Abdullah ingin membawa Dina pulang ke kampungnya yaitu Garut, Jawa barat. Namun, mereka tidak bisa melakukan itu, karena Dina masih harus melanjutkan kuliahnya yang tinggal 3 bulan lagi.
Abdullah pun mewanti-wanti supaya Dina tidak kembali ke dalam lingkaran setan tersebut. Namun pasalnya, banyak yang tidak bisa lepas dari pekerjaan tersebut, dan itu membuat Abdullah cemas.
Eliza dan Rara tersenyum bahagia melihat sahabatnya sudah kembali ke kostan dan berkumpul dengan mereka lagi. Namun Wati cemas melihat persahabatan putrinya dengan Eliza. Karena dialah yang mengenalkan pekerjaan tersebut pada Dina.
✨✨✨
Apakah Dina akan tobat atau kembali menjadi kupu-kupu malam? Penasaran kan? Ikuti terus kelanjutan ceritanya! Dan jangan lupa kasih ♥️ Terim kasih yang sudah membaca ceritaku. 🤗
__ADS_1