
Dengan perasaan hancur, Dina bergegas meninggalkan ruangan wisuda. Deraian air mata menemani langkahnya.
"Percuma aku meninggalkan semua ini, jika orang-orang yang aku sayangi telah tiada."
"Bintang tak akan pergi, ia hanya akan datang di waktu yang tepat."
"Suara itu?"
Ucapannya terjeda untuk beberapa saat.
"Bayu! Iya, itu suara Bayu. Bayu kamu di mana?" Dina berteriak histeris.
Jari-jari kekar merapikan setiap helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Aku ada di sini, Din."
Dina langsung memeluk tubuh Bayu, dan menikmati wangi maskulin dari tubuhnya. Aroma yang membuat dirinya merasa tenang.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 wib. Namun, kedainya masih sangat ramai. Deden merasa gelisah karena tidak bisa hadir dalam acara wisuda sahabat kecilnya.
Sebuah motor sport berwarna biru baru saja berhenti tepat di depan kedainya. Deden melihat itu langsung mengembuskan napas kasar. Bukan karena lelah melayani para pembeli, akan tetapi hatinya ingin segera datang menemui Dina. Terlihat dua orang turun dari motor tersebut. Ya, sepasang kekasih. Pikirannya saat itu.
"Duduklah. Aku pesan makanan dulu. Kamu mau makan apa?"
"Terserah," jawab Dina, dengan jari lentiknya sibuk menyeka air mata.
"Sudah, jangan menangis lagi. Cantiknya jadi hilang," goda Bayu, dan berhasil membuat Dina tertunduk malu.
"Silakan, Akang ... lho, Neng Dina!" Deden kaget melihat wanita yang bersama laki-laki tersebut adalah Dina.
"Kang Deden." Dina langsung berdiri, dan terlihat keceriaan terpancar dari wajahnya.
"Aduh, Neng. Punten, Akang gak bisa datang ke acara wisudanya Neng Dina. Akang teh sibuk pisan."
"Gak apa-apa, Kang. Dina paham. Oh, iya. Kenalin ini Bayu, teman dekat Dina. Dan ini Kang Deden, sahabat Dina."
Mereka pun bersalaman.
"Kalau begitu Akang ke sana dulu, ya. Sok silakan di makan makanannya."
"Gak usah, Kang. Duduk di sini saja," cegah Dina, yang langsung mencekal lengan Deden.
"Lho, ini makanan untuk Neng Dina? Ya Allah Gusti, Neng Dina 'kan gak boleh makan udang, nanti alerginya kambuh. Tunggu, Akang ambil makanan baru."
'Kang Deden tidak pernah berubah dari dulu. Dia selalu perhatikan sama aku. Semoga saja jodohku nanti seperti dia,' Dina berbicara dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Segila inikah cinta? Sampai membuat diriku merasakan cemburu hebat." Ucapannya terjeda beberapa saat. Matanya terus mengamati bintang. "Dina pesonamu telah membuat hatiku meleleh," ucap Bayu, yang tengah berada di atas ayunan rotan.
Di tempat lain, Dina, Rara, dan Eliza sedang merapikan pakaiannya. Karena besok pagi mereka akan meninggalkan kostan yang sudah hampir 4 tahun mereka tempati. Canda tawa, suka duka, telah terukir di tempat ini, telah mereka lalui bersama, bahkan perselisihan yang sering terjadi, membuat persahabatan mereka kian hari kian erat. Walau berat rasanya, akan tetapi mereka harus berpisah. Rara harus kembali ke Yogyakarta, Eliza harus pulang ke Padang, dan Dina akan pulang ke Garut, Jawa barat.
"As-salamu'alaukum, Umi."
"...."
"Insya Allah, Umi. Rara berangkat dari sini setelah salat Subuh. Doakan Rara agar selamat sampai tujuan. Umi udah sampai?"
"Halo, Ma."
"...."
"Gak bisa gitulah. Sore aku baru terbang. Mama sampai jam berapa?"
Dina terdiam sambil mendengarkan kedua sahabatnya sedang menelpon kepada kedua orang tuanya. Hatinya begitu perih, air mata yang baru saja kering, kini kembali membasahi pipinya.
"Dina, kamu kenapa?" tanya Rara yang baru saja selesai berbicara dengan orang tuanya melalui telepon seluler.
"Kenapa aku tidak seberuntung kalian?" tanya Dina, disela-sela isak tangisnya.
"Tapi, kamu-lah yang paling kuat diantara kita. Dan kamu, adalah hamba Allah yang istimewa. Makanya Allah memberikan ujian seperti ini, karena Dia tau kamu mampu."
Mereka pun saling berpelukan, dan ikut menangis, seolah merasakan duka yang Dina rasakan.
"Cieee, Eliza bijak."
"Apaan, sih, Lo, Ra."
Tawa pun tercipta.
Sebelum mereka memejamkan mata, mereka pun saling bertukar kado, dan sepakat akan membuka kado tersebut setelah mereka sampai ke kampung halaman masing-masing.
.
.
.
.
.
"Terima kasih sudah mau menempati kamar kost punya Ibu. Ibu bahagia bisa mengenal kalian, dan sebagai hadiah dari Ibu, maka untuk uang kost bulan ini, Ibu kembalikan. Semoga kalian menjadi orang-orang sukses dan ilmu yang kalian miliki bisa bermanfaat untuk orang lain."
"Seriusan, Bu?" tanya mereka serempak.
Ibu kost pun mengangguk. Mereka bersorak gembira.
"Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan."
"Aamiin. Makasih, Bu. Kalau begitu Rara pamit dulu, ya. Takut ketinggalan kereta."
__ADS_1
.
.
.
.
.
Lambaian tangan kedua sahabatnya membuat Rara menitikkan air mata. Begitu berat rasanya ia harus pergi meninggalkan mereka. Gerbong kereta pun sudah melaju, tetapi senyuman yang terukir di wajah Dina, dan Eliza masih ada di hadapannya.
Matahari sudah mengambang tepat di atas kepala. Sinarnya pun cukup menyengat. Dina tengah mengukir sebuah nama di atas pasir yang terus-menerus tersapu oleh ombak kecil.
"Biarlah namamu terhapus dari pasir ini, asal abadi di dalam buku hijau."
"Din, pulang, yuk. Panas tau. Lo kenapa sih betah amat di sini?"
"Karena hari ini, aku terakhir ada di sini. Besok dan seterusnya, aku belum tentu bisa berkunjung ke pantai ini lagi."
"Lebay, Lo. Pulang, yuk! Gue harus siap-siap buat penerbangan nanti sore."
"Pantai ini cukup beruntung. Sebelum ditinggalkan, ia ditorehkan sebuah nama sebagai kenangan. Tidak sepertiku."
Langkah Dina langsung terhenti. Ia memfokuskan tatapannya ke sebelah kiri. Dan terlihat seorang pria tampan dengan kaos berwarna putih, celana selutut, dan kaca mata hitam, tengah berdiri menatap laut lepas.
"Bayu!"
"Dinaaa! Kulit gue terbakar lama-lama. Ayok pulang!"
Belum sempat Dina berpamitan pada Bayu, tangannya keburu ditarik Eliza.
.
.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 15.30. Dina dan Eliza sedang duduk menanti jadwal keberangkatan Eliza. Pengumuman pun terdengar, jika 20 menit lagi pesawat yang ditumpangi Eliza akan segera berangkat. Eliza pun pamit pada Dina, dan bergegas menuju pesawat.
Di atas tangga pesawat, Eliza melambaikan tangan. Menandakan sampai jumpa di lain waktu. Kini, tinggal Dina-lah yang belum pulang ke kampung halamannya. Ia merasa sedih karena tidak akan ada yang mengantarnya sampai ke terminal. Seperti kedua sahabatnya yang telah terlebih dahulu berangkat.
"Aku mengantar kedua sahabatku sampai stasiun dan juga bandara, tapi ... ah, sudahlah."
Di dalam taksi, Dina terus memandangi gedung-gedung tinggi yang mungkin saja setelah pulang ke kampung akan jarang ia lihat.
Setibanya di terminal, Dina membuang napas kasar. Ada rasa ragu dalam rongga dadanya.
"Yakin akan pulang hari ini?"
✨✨✨
Apa kabar reader setiaku?
Terima kasih karena sudah bersedia membaca ceritaku. Dan jangan lupa tinggalkan jejak ♥️
__ADS_1