Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
Part 3


__ADS_3

Darah yang mengalir dalam tubuh Dina untuk malam ini terasa mendidih. Seluruh tubuhnya bergetar. Berkali-kali ia menggeliatkan tubuh, seperti ada sesuatu yang membuatnya gelisah.


Iya, permainan Johan malam ini membuat Dina benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sensasi yang baru pertama kali ia rasakan, padahal melakukan hal ini bukan kali pertama ataupun kedua. Entah setan apa yang menghinggapi Dina, sampai-sampai ia begitu liarnya. Hasrat Dina semakin memuncak, hingga membuat Johan semakin buas. Johan tertawa puas melihat Dina yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Teruslah sayang! Terus! Jangan berhenti! Om sebentar lagi!" Berkali-kali Johan berteriak dan teriakan itu membuat Dina semakin menjadi.


Tidak lama kemudian, Dina dan Johan terkulai lemas tak berdaya dengan keringat masih membasahi tubuh mereka. Permainan terlama yang mereka lakukan.


✨✨✨


"Din, kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Rara dengan air mata berlinang.


"Sudah terlambat. Masa depan aku udah rusak," balas Dina.


"Din, maafin gue, ya. Gue bener-bener gak tau akhirnya bakal gini," sesal Eliza.


"Udahlah! ini salah aku sendiri, gak bisa jaga diri."


Semenjak hari itu Dina menjadi lebih agresif saat bertemu Johan. Bahkan sekarang ia sudah berani patok harga. Bukan hanya itu, baginya melakukan hal tersebut sudah menjadi candu dan yang ia layani bukan hanya Johan saja, akan tetapi ada dua orang lainnya. Namun, yang lain tidak sesering Johan.


'Din, uang sudah Bapak transfer, ya. Tolong belajar hemat. Usaha Bapak bangkrut, Nak.' Begitulah isi pesan dari orang tua Dina di kampung.


Dina kaget mendengar kabar tersebut. Bukan kaget karena di suruh menghemat, tetapi kabar jika usaha orang tuanya bangkrut. Karena baginya uang 3 juta bisa ia dapatkan hanya butuh waktu semalam.


✨✨✨


"As-salamu'alaukum."


"Wa'salamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dina! Ya Allah, Ibu sama Bapak kangen banget. Apa kabar, Nak? Kenapa kamu pulang? Ini kan bukan jadwal libur?" Pertanyaan beruntun menghujani Dina.


"Ibu, Dina belum disuruh masuk, lho," ucap Dina sambil menatap wajah ibunya.


"Astaghfirullah, maaf. Ibu sampai lupa. Ayo masuk. Bapak, Dina pulang!"


Dari arah dapur Pak Abdullah berjalan sedikit cepat dan langsung memeluk anak satu-satunya itu.


"Apa kabar, Nak? Kamu kemari sama siapa?"


"Sendiri, Pak," jawab Dina yang langsung meneguk air yang ibunya berikan.


Dina terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dina pulang karena khawatir dengan keadaan Bapak dan Ibu. Takut terjadi apa-apa. Gimana peternakannya?"

__ADS_1


"Ayam-ayam kita mati mendadak dan kita mengalami kerugian besar, hingga bapak terpaksa menutupnya."


"Lalu sekarang Bapak mau buka usaha apa?"


"Tidak tau. Bapak belum kepikiran." Abdullah memijat-mijat keningnya.


"Din, kamu ke sini pakai motor siapa?"


Dina kaget mendengar pertanyaan dari ibunya. Hingga akhirnya Dina berbohong kalau itu motor temannya yang ia pinjam dengan alasan agar cepat sampai.


"Ya sudah, Dina mau istirahat capek," pamit Dina pada orang tuanya.


Berulang-ulang kali ponsel Dina berdering, akan tetapi tidak satu kali pun Dina mengangkatnya. Ya, itu telpon dari Johan. Dina takut orang tuanya tahu kelakuannya di Jakarta sekarang.


'Jangan telpon Dina, Om! Dina sedang di kampung.' Begitulah isi pesan yang ia kirimkan pada Johan. Setelah itu Dina langsung mematikan ponsel.


Memang saat Dina pulang kampung, Dina tidak memberi kabar pada Johan karena dadakan. Dina hanya memberi tahu Rara dan Eliza saja.


"Ah, sial! Setelah dapat motor kau pergi tinggalkanku! Akan aku cari ke mana pun kau pergi, Dina!" Johan sangat marah saat mengetahui Dina pulang ke kampungnya, dan berpikir jika Dina kabur dari perjanjian dengan dirinya.


'Cari Dina sampai ketemu!' Johan langsung menutup telepon dengan sedikit bantingan. Ya, Johan menelpon salah satu anak buahnya.


✨✨✨


Pagi sebelum Dina kembali ke Jakarta, Dina mencoba berkeliling kampung untuk sekedar mengenang masa kecilnya. Suara seruling bambu yang begitu merdu terdengar dari arah saung yang berada di pinggir sawah.


"Kang," panggil Dina kepada salah seorang pemuda yang sedang duduk bersandar pada saung yang terbuat dari bambu.


"Dina! Makin cantik aja kamu," puji kang Dadan. "kapan pulang ke sini?"


"Si Akang bisa aja. Udah dua hari, Kang. Ini juga mau balik ke Jakarta."


"Masih kuliah?"


"Masih, Kang."


"Syukurlah. Gimana kabarnya?"


"Kabar baik. Gimana kabar Akang?"


"Alhamdulillah. Sama Akang juga baik. Yang gak baik mah jodoh," celetuk Dadan.


"Bisa aja. Gak kerasa, ya, Kang. Dulu kita suka banget bermain di sini. Dan gak kerasa juga sudah 4 tahun Dina ninggalin kampung ini. Pulang paling lama hanya satu minggu," ucap Dina yang terus mengamati keadaan sekitar.

__ADS_1


Hamparan padi siap untuk di panen membuat Dina terkenang semua masa kecilnya dulu. Ya, dulu Dina dan Dadan sering ikut menuai padi. Bahkan tak jarang mereka dimarahi pemilik sawah. Mereka pun tertawa lepas saat mengingat kelakuan nakalnya dulu.


"Kang, Dina pamit, ya. Dina harus balik Jakarta."


Lekas membereskan pakaian Dina langsung pamit kepada Abdullah dan juga Wati.


✨✨✨


Setelah menerobos jalan yang super macet juga terik matahari yang cukup menyengat, Dina akhirnya tiba di kostannya.


Baru juga menaruh tasnya, tiba-tiba ada dua orang berbadan kekar datang menjemputnya. Peluh yang masih mengucur tidak Dina hiraukan. Ia langsung bergegas ikut bersama mereka.


"Dina udah kembali. Tapi sekarang dia kemana?" tanya Rara.


"Paling cari makan," balas Eliza. "Tuh, motornya ada."


✨✨✨


"Om!" panggil Dina pada laki-laki yang sedang duduk santai di balkon kamar.


"Dina, akhirnya kau kembali. Om sangat merindukanmu, sayang. Om kira kau kabur," ucap Johan yang langsung menghampiri Dina.


"Tidaklah, Om. Dina tidak akan kabur."


"Malam ini kau harus tidur di sini!"


'Sekarang aku jadi boneka Johan. Laki-laki hidung belang yang tak pantas jadi dosen,' batin Dina.


Iya, Johan adalah salah satu dosen di kampus Dina. Dan Dina baru tahu itu saat dirinya tengah sakit. Itupun berkat Rara yang memberi tahukannya. Dari situ Dina membuat perjanjian tidak akan meninggalkan Johan asal dia tidak menyebarkan pekerjaannya sekarang.


Dosen baru yang terkenal dengan keramahannya, tetapi sayang sangat bertolak belakang dengan akhlaknya. Namun bagi Dina itu tak jadi masalah, asalkan yang terus mengalir padanya.


"Kemarilah, Sayang!" ajak Johan yang langsung menuntun Dian ke dalam kamar.


"Dina mandi dulu, Om. Badan Dina bau keringat bercampur bau matahari."


"Om juga mau mandi. Kita mandi bareng," ucap Johan dengan menaik turunkan alisnya.


Dina terkekeh geli mendengar ucapan Johan, padahal ini bukan kali pertama keindahan tubuhnya dinikmati Johan.


✨✨✨


Terima kasih 😘

__ADS_1


Jangan lupa vote ♥️


__ADS_2