
Lukas masuk ke dalam rumahnya setelah mamanya mengundangnya malam ini,setelah kepergian Safira dari apertemennya dia merasa hidupnya sangat kesepian dan tidak ada sama sekali gairah hidupnya.Bahkan dia selalu menolak untuk datang ke rumah ibunya walau wanita itu sudah memintanya berulang kali.Dan saat ini dia mau hadir di rumah orang tuanya itu karena ibunya yang sudah mengancamnya.
"Akhirnya anak kesayangan mama datang juga setelah aku marah kepadanya." Ucap mamanya dengan senyum yang mengambang di bibirnya saat Lukas sudah memasuki rumah mewah milik keluarganya.
" Ada apa mama menyuruhku kemari katakana saja aku ada urusan hari ini." Jawab Lukas dengan wajah datar tanpa ada senyum sedikit pun di wajahnya.Jeje juga yang sudah hadir di sana hannya bisa tersenyum kecil menyambut kedatangan Lukas.
" kenapa sih wajahnya tegang begitu,sampai kapan kamu seperti ini,apa kamu tidak ingin menikah,mama sudah menerima keputusan mu untuk menunggu waktu tepat kenapa kamu belum kabar kapan kamu melamar Jeje?" Ucap ibunya mulai emosi kedua Abang dan kaka iparnya ada juga di ruangan itu Dewi sengaja mengundangnya.
Lukas menatap mamanya dengan sorot mata yang tajam setelah itu dia menatap Jeje bergantian.
"Ma...Tidak kah Jeje bilang kepada mama kalau aku tidak akan menikahinya sampai kapan pun kenapa mama....
"Brang....Lukas apa kamu tidak bisa lagi di atur oleh mama!! apa kamu masih berharap kepada pelacur murah yang sudah menggoda mu!!!" Dewi memotong ucapan Lukas hingga melempar pas bunga yang ada di atas meja dan akhirnya keributan tidak bisa lagi di hindari dari keduanya.
"Sudah...Sudah ma..Bukan kah kita mengudang Lukas malam ini hannya untuk makan malam dan kumpul seperti biasanya yang kita lakukan sebelumnya." Ucap abangnya yang pertama menghentikan suasana yang sudah mulai memanas.
Lukas tidak bisa terima saat mamanya menghina Safira yang sudah pergi entah kemana,dia sangat merindukan Safira dan selama ini dia bertahan dalam kerinduan yang sangat mendalam.
"Aku minta maaf,aku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian." Ucap Lukas dia bergegas pergi meninggalkan mereka dan ibunya semakin emosi melihat putra paling bungsunya itu.
" Berhenti disana atau mama benar-benar marah dan tidak mau mengakui mu lagi sebagai anak!!" Ancam Dewi saat itu juga Lukas membalikkan badannya dan menatap mamanya dengan tatapan yang penuh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak peduli lagi dengan semua ancaman mu ma...Aku minta maaf,dan kalau aku tidak mau datang lagi ke rumah ini itu semua karena mama yang begitu egois."Jawab Lukas lalu buru-buru keluar dari rumah itu.
Dia benar-benar marah dan tidak bisa menahan emosinya saat ini dadanya naik turun dan wajahnya memerah.Dia masuk ke dalam mobilnya lalu menutupnya disana dia menghela napas panjang untuk semua amarah yang sudah dia tahan sejak tadi.
Setelah merasa tenang,Lukas mulai menghidupkan mobilnya lalu meninggalkan rumah mewah milik orang tuanya.Hatinya benar-benar kosong untuk saat ini tidak ada yang bisa memahami dan tidak ada tempat baginya untuk menceritakan semua kisah hidupnya.
"Safira....Kamu dimana aku merindukan mu,apa kamu masih mengingat ku,sama seperti aku yang selalu merindukan dirimu,kenapa perasaan ini semakin hari rasanya semakin dalam saja?" Ucapnya dalam hati.
Lukas menghentikan mobilnya di sebuah klub malam,lalu dia masuk ke sana dan memesan minuman hannya ini yang bisa dia lakukan untuk melupakan semua masalahnya untuk sesaat.
Sejak kepergian Safira dari hidupnya,mabuk adalah cara baginya untuk menumpahkan perasaan yang ada di hatinya.
****
Sementara itu di suatu tempat Arya baru saja balik dari rumah sakit,nasibnya hampir sama dengan Lukas,dia sudah mencari Safira kemana-mana tapi dia tidak pernah menemukannya membuatnya begitu sedih.
Saat mobilnya sampai di sebuah lampu merah,Arya cukup kaget melihat seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan sepertinya dia ingin menyebrangi jalan tapi dia sibuk dengan ponselnya hingga dia tidak menyebrang.
"Safira...Bukankah itu Safira,kenapa pakaiannya seperti itu dan kenapa dia ada di jalanan malam seperti ini." Ucapnya dalam hati.Arya membuka kaca mobilnya untuk memastikan kalau wanita itu benar-benar Safira dan benar dia tidak salah melihat.
"Aahh bagaimana caranya aku keluar,semoga aku tidak kehilangan jejaknya." Ucap Arya dan saat itu Lampu merah berubah hijau Arya buru-buru melewati tempat itu dan menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu dia keluar dari mobilnya dan mengejar Safira yang hampir meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
" Safira...." Arya menarik tangan Safira lalu membawanya pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam mobilnya,Safira sangat kaget melihat Arya yang sudah menarik dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
" Safira apa yang terjadi? kenapa kamu memakai pakaian seperti ini,dah apa yang kamu lakukan di tengah jalan malam-malam begini." Safira menghempaskan tangan Arya yang menyentuh tangannya.
" Buka pintunya mas,aku harus keluar karena pelanggan ku sudah menungguku di hotel yang ada di depan itu." Jawab Safira tanpa sungkan lagi.
" Jadi sekarang kamu?" Arya menghentikan ucapannya dan menatap lekat ke wajah Safira yang memang sangat cantik, dia benar-benar berubah.
"Benar...Sekarang aku bekerja sebagai pelacur,hmm itu adalah pekerjaan yang paling cepat menghasilkan uang,dan aku sangat menciantai uang,aku bisa memuaskan kamu malam ini asal kamu mau membayar lebih,kalau tidak lebih baik buka pintunya karena aku akan pergi menemui tamu yang sudah menungguku." Ucapnya dengan tenang.
Arya terdiam mendengar ucapan Safira, dia tidak menyangka wanita yang polos dan sederhana itu bisa berubah begitu cepat.
"Bagaimana sayang apa kamu mau....Tidak ada waktu bagiku untuk menemanimu duduk seperti ini mas,aku butuh uang dan sangat mencintai uang....Aku bukan Safira yang dulu polos dan sederhana,karena berbuat baik pun bagiku di dunia ini satu pun tidak ada orang yang pernah menghargai ku jadi lebih baik aku menjadi wanita seperti ini setidaknya aku punya uang banyak...." Ucapnya dengan sorot mata kebencian dan menatap lurus ke depan.
Arya tidak bisa berkata-kata atas ucapan Safira,dia sadar Safira juga seorang manusia yang punya batas kesabaran juga.
"Mas buka pintunya,om Tomi sudah menungguku di hotel." Ucapnya,hingga membuat Arya kaget saat Safira menyentuh pahanya dengan lembut.
"Safira aku membayar mu malam ini,berapa yang harus aku bayar kepada mu?" Ucap Arya yang tidak ingin lagi kehilangan Safira untuk kedua kalinya.
πππ bersambung πΊπΊπΊ
__ADS_1