
"Mau ke mana, Din?" tanya Rara yang baru saja membuka matanya.
"Pergi." Jawaban singkat yang membuat kedua sahabatnya saling tatap. Dina tidak memperdulikan itu. Ia terus membereskan barang-barang yang akan dibawanya.
"Din, lu mau ke mana sih?" Kini Eliza yang bertanya.
"Johan menelpon dan mengajakku bertemu," jelas Dina, sambil mengenakan sepatunya.
.
.
.
.
.
Embusan angin laut serta terik matahari yang begitu menyengat tidak menyulutkan niatnya untuk meninggalkan tempat di mana dirinya dan Johan membuat janji.
"Sudah lama?" tanya seseorang dengan suara yang tidak asing di telinga Dina.
"Kenapa telat?" Dina balik bertanya.
Johan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dina. Ia malah langsung memeluk tubuh Dina dari belakang. Namun sayang, baru saja tangan Johan melingkar pada perut Dina, Dina langsung menghindar.
"Katakan, Om! Ada apa mengajak saya bertemu di sini?"
"Aku merindukanmu, Dina."
"Apa? Rindu?" Dina langsung membalikkan badan, menatap Johan dengan tatapan tajam. "Dengar, ya, Om. Dina sudah jijik dengan Om. Dina muak dengan rayu manis Om. Om tidak malu? Dengan apa yang telah diperbuat kepada orang tua Dina? Hingga orang tua Dina meninggal dunia!"
Johan terus melangkah mencoba mendekati Dina. Meski berulang kali Dina berteriak agar Johan menghentikan langkahnya. Namun, Johan tidak menghiraukan teriakan Dina. Dan ia pun berpikir, meski Dina berteriak tidak akan ada yang mendengarnya. Entah kenapa hari ini pantai begitu sepi pengunjung. Hanya satu atau dua orang yang datang, itupun tidak lama.
Dina terus mundur, dan terhentilah karena punggungnya telah menyentuh pagar pembatas.
"Om, lepaskan! Lepas!" Dina terus meronta, memohon agar peluknya Jonan lepaskan. Namun, semakin Dina meronta, semakin erat pelukannya.
"Menangislah, sayang, menangis! Luapkan kekesalanmu padaku. Terus pukul dadaku hingga amarahmu sedikit mereda."
Dina terus memukul dada Johan sambil melontarkan beberapa kalimat seakan mencaci dirinya dan juga Johan. Hingga akhirnya Dina menyerah dan membalas pelukan Johan. Tidak ada yang curiga dengan perlakuan Johan pada Dina. Setiap orang yang melintas mengira jika mereka adalah anak dan ayah.
"Sekarang kau mau ke mana, Dina?"
Dina menggelengkan kepala.
"Pulang?"
Masih jawaban yang sama, sebuah gelengan kepala.
"Baiklah saya paham." Johan langsung menggandeng tangan Dina yang setengah tidak sadar apa yang tengah terjadi saat ini.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Dina melangkahkan tungkainya dengan tatapan kosong serta pikiran entah melayang ke mana.
"Kita nikmati hari ini berdua saja, Sayang." Johan terkekeh menatap Dina yang sedari tadi diam seribu bahasa.
Seperti wayang yang sedang dimainkan oleh dalang, seperti itulah Dina sekarang. Entah apa yang sudah diperbuat oleh Johan hingga Dina seperti itu.
Belaian demi belain Johan berikan, bahkan satu persatu busana yang ia kenakan telah berjatuhan di atas lantai. Namun, saat Johan akan melancarkan aksinya, satu ketukan pintu menghentikannya.
"Sebentar!" Johan menutupi tubuh Dina dengan selimut.
Bug!
Satu pukulan mendarat tepat di pipi kiri Johan.
"Eh, apa-apa ini? Siapa kalian?"
"Ah, banyak bacot!"
Bug! Pukulan kedua mendarat di perut. Johan tersungkur sambil memegangi perutnya. Taulah bagaimana pukulan orang yang kelewat emosi?
"Kamu apakan Dina?" Emosi Bayu semakin memuncak setelah mendapati kondisi Dina yang sudah tidak mengenakan pakaian. Namun, selamatlah Johan dari pukulan berutal yang akan Bara berikan.
"Cukup! Hentikan semua ini!" Dina berteriak yang seketika menghentikan Bara dan membuat Bayu tersentak kaget.
"Dina, kamu sudah sadar?" tanya Bayu yang langsung memeluknya.
"Lepaskan, Bay. Kamu tidak pantas melakukan ini."
"Kenapa?" Bayu bertanya heran.
"Aku bukan wanita baik-baik, dan asal kamu tau, sedari tadi aku sadar. Sadar apa yang akan Johan perbuat."
Ucapan yang membuat dada Bayu terasa sesak juga perih. Bagai badai di antara terik matahari, seperti itulah penjelasan yang Dina lontarkan. Jadi perjuangannya menyelamatkan Dina itu hanyalah buang-buang waktu. Dan ternyata kondisi Dina bukanlah sebuah pemaksaan. Melainkan sebuah kepasrahan.
Johan tertawa puas melihat raut muka Bayu yang berubah menjadi kusut tak karuan, juga bahagia mendengar ucapan Dina, yang membela dirinya.
Bayu dan juga Bara pergi meninggalkan kamar hotel yang telah membuat angannya kacau. Bara berusaha menenangkan sahabatnya tersebut, akan tetapi yang namanya orang sedang jatuh cinta, lalu mendapati kejadian seperti tadi, sangat sulit menerima kenyataan tersebut.
Selepas Bayu dan juga Bara pergi, Dina berteriak histeris. Merasa jijik dengan kata-kata yang barusan ia lontarkan pada teman dekatnya tersebut. Penyesalan kini memenuhi seluruh rongga dadanya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Aroma espreso yang melintas di hidung Dina, membuatnya rindu akan seseorang yang selalu menemaninya saat dirinya terpuruk. Namun, sudah tiga hari semenjak kejadian di hotel, ia tidak mendapatkan kabar keberadaan Bayu saat ini. Bahkan saat dirinya mencoba mendatangi cafe tempatnya bekerja, Bayu tidak ada di tempat.
Kini bintang itu telah pergi dan entah akan kembali atau justru pergi selamanya? Kehilangan kini semakin nyata. Bahkan rembulan pun enggan menyinari pesisir pantai malam ini. Seperti kecewa pada dirinya.
"Neng Dina sendiri saja?"
"Suara itu?" Dina langsung berbalik badan melihat sumber suara, dan betapa kagetnya ia dapati sahabat masa kecilnya saat ini ada tepat di hadapannya. Namun, berulang kali Dina menepuk pipinya, meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi.
"Kenapa, Neng?"
"Ini serius Kang Deden?"
"Iya, Neng. Ini Akang."
"Kang Deden kenapa bisa ada di sini?"
"Akang kan sekarang tinggal di Jakarta dan barusan Akang tidak sengaja lihat cewek cantik sedang berdiri sendirian di pinggir pantai. Tadinya Akang mau godain, eh, taunya Neng Dina."
"Akang mulai genit, ya, sekarang." Dina mencubit pinggang Deden berulang kali dan membuat Deden belari. Kebahagiaan terpancar di wajah Dina. Tawa pun tercipta di sela-sela mereka berlari.
"Gini, ya, Neng. Suasana malam di Jakarta, rame. Gak seperti di kampung, jam segini udah sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar."
"Makanya, Kang. Jangan diem terus di kampung. Eh, ngomong-ngomong, Akang ngapain di Jakarta?"
"Akang dapat pekerjaan di sini, dan Akang juga disuruh jagain Neng Dina sama Abah dan juga Emak. Dan kebetulan Akang ketemu Neng Dina di sini."
.
.
.
.
.
Hari yang ditunggu Dina, Rara, dan juga Eliza pun tiba. Dengan balutan kebaya pink senada dengan tas, Dina, Rara, dan Eliza memasuki gedung tempat wisuda berlangsung. Polesan make up tipis yang mereka kenakan membuat para pria terpesona.
Acara berlangsung dengan khidmat, dan juga penuh air mata haru. Perjuang mereka di sini sudah berakhir, dan akan dilanjutkan dengan perjuangan baru yang lebih menantang.
Kedua orang tua Eliza datang menghadiri acara wisuda tersebut, begitu juga dengan orang tua Rara. Bahkan adik serta kakak Rara hadir melihat Rara mendapatkan gelar sarjana. Sedangkan Dina, hanya termenung sendiri dengan air mata berlinang, dan isak tangis yang kini samar-samar terdengar. Bertapa malang nasibnya saat ini.
__ADS_1
✨✨✨
Terima kasih para readerku 😘 Jangan lupa vote-nya ♥️