
"awww, sakit!"
"Mikirin apaan, sih, lu, Din? Gue liatin dari tadi lu ngelamun mulu."
"Gue dipecat dari tempat kerja. Mana harus bayar uang kuliah lagi. Dari kampung belum kirim uang lagi," keluh Dina pada Eliza.
"Lu, mau gak kerja sama gue? Kerjanya enak, duitnya gede," tawar Eliza.
Mendengar tawaran dari sahabatnya tersebut, Dina mengercitkan dahi.
"Oii, kagak usah dijelek-jelekin itu muka, udah jelek gitu," ejek Eliza sambil tertawa lepas.
"Mana ada? Muka cantik gini dibilang jelek."
"Naahhh!"
"Astaghfirullah, Eliza bikin kaget aja," ucap Riri yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan Eliza dan Dina.
Eliza hanya tersenyum sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Mau gak, Din?" Eliza kembali menawarkan pekerjaan tersebut.
"Kerjaan apaan, sih? Jelasin biar aku paham."
"Wanita penghibur."
"Astaghfirullah," ucap Riri yang langsung mengelus dadanya.
"APA?" Dina kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut salah satu sahabatnya tersebut.
Eliza pun menjelaskan bagaimana pekerjaannya nanti dan setelah dijelaskan Dina menerima tawaran tersebut karena terpaksa. Sedangkan Riri yang mendengar pembahasan kedua sahabatnya langsung keluar dari kamar.
"Mau ke mana, Ri?" tanya Eliza yang pura-pura tidak tahu sifat Riri.
"Cari angin."
"Ya sudah entar malam ikut gue!" ajak Eliza.
Dina pun hanya mengacungkan jempol.
✨✨✨
Kerlap-kerlip lampu clab menghiasi malam itu. Dina berjalan begitu pelan seperti penuh keraguan dengan keputusannya ini. Namun apa boleh buat semua sudah terlanjur dan Dina tidak mau mengecewakan sahabatnya.
Berbeda dengan Eliza, dia begitu cepat melangkahkan kakinya. Bahkan banyak laki-laki yang menyapa dirinya dengan sebutan yang beragam. Namun semua itu tidak sedikitpun membuat Eliza jengah. Malah dia tersenyum centil menanggapi para pria yang hampir seumuran ayahnya tersebut.
"Ini yang kamu bilang?" tanya seorang pria berbadan tegap.
"Iya."
"Suruh ganti baju!"
"Din, ikut gue!"
Dina tidak paham pembicaraan Eliza dengan pria itu. Dan tiba-tiba Dina di ajak ke suatu ruangan yang dipenuhi wanita cantik tengah berdandan. Serta berpakaian sangat minim.
"El," panggil Dina lalu menahan lengan Eliza.
"Kenapa?"
"Kok, aku diajak ke ruangan ini?" tanya Dina bingung.
Eliza tidak menjawab. Dia terus menarik tangan Dina agar masuk ke dalam ruangan. Lalu memilihkan baju berwarna hitam dan menyuruh Dina segera mengganti pakaiannya.
"Apa iya, aku harus pakai baju ini?" Dina bertengkar dengan batinnya sambil menatap wajahnya di cermin.
__ADS_1
"Din, udah belum? Lama amat!"
Begitu keluar dari ruang ganti Eliza terpukau melihat penampilan Dina yang berubah 100%.
"El, aku kurang nyaman pakai baju ini," keluh Dina.
"Cepat sini! Duduk!"
Dina pun nurut akan perintah Eliza. Dengan lihai Eliza memoleskan make up tipis di wajah cantik Dina. Cantik bukan main, polesan tersebut membuat orang-orang yang melihat Dina terpukau.
"Hai, cantik!" goda salah satu pria yang menjadi pengunjung rutin club itu.
"Duduk di sini! Gue ke sana dulu," ucap Eliza yang langsung begitu saja pergi.
"Tapi ...," Dina tidak melanjutkan ucapannya.
"Tenang. Ada saya di sini," ucap pria berdasi yang terus membelai-belai rambut Dina.
Dina semakin risih dengan perlakuan pria tersebut. Namun ucapan Eliza terus mengiang di telinganya. Bahwa dirinya akan mendapatkan uang banyak dari pria yang sedang duduk di sampingnya sekarang.
Dina mulai memberanikan diri menyambut hangat belaian pria tersebut dengan memberikan segelas minuman.
"Terima kasih. Kamu baru di sini?"
"Iya, Pak."
"Jangan panggil saya Bapak, tapi panggil Om," ucap pria tersebut sambil menegak minuman yang Dina berikan.
Dina kembali menuangkan minuman tersebut hingga berulang- ulang kali, sampai membuat pria itu mabuk berat.
Terlihat dari arah depan dua orang pria berbaju hitam seperti berbadan kekar datang menghampirinya. Ternyata orang tersebut adalah anak buah pria yang Dina temani.
"Terima kasih. Ini bayaranmu," ucap salah satu pria berbaju hitam tersebut sambil memberikan amplop berwarna cokelat.
"Duh, kamu, ya , El," ucap Dina yang kaget akan kedatangan Eliza yang tiba-tiba merangkul pundaknya.
"Gimana? Kerjanya enak, 'kan? Enggak cape?" tanya Eliza sambil menaik turunkan alisnya.
Dina mengangguk lalu tersenyum lebar. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.15 dini hari, Dina dan Eliza harus bergegas pulang.
✨✨✨
"Kenapa kamu, Ra, geleng-geleng kepala?" tanya Dina.
"Jam segini baru pulang, kalian dari mana?" tanya Rara dengan tatapan bergilir.
Mereka bukannya menjawab, malah tertawa terbahak bahak. Karena jengah melihat tingkah mereka yang tidak jelas, akhirnya Rara beranjak dari tempat duduknya dan berbaring di atas kasur dengan menutupi seluruh tubuhnya.
"Din, kalau lu pengen duit yang lebih besar lagi, maksudnya jumlahnya lebih gede, besok kamu harus lebih baik lagi melayani Om Johan."
"Maksudnya?"
"Besok aja jelasinnya, gue ngantuk."
✨✨✨
"Kurang satu personil, nih!" ejek sekumpulan orang-orang yang sedang nongkrong depan kampus.
"Noh, di belakang!" tunjuk Eliza.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Rara lebih memilih berangkat sendiri. Ia tidak mau terbawa arus yang tidak jelas.
"Dina Aprilia! Dina Aprilia!" panggil Pak Rizal. Dosen yang terkenal super galak.
"Din, woy, Din! Bangun! Dina!" panggil Eliza yang kebetulan duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Apaan, sih? Aku ngantuk."
"DINA!"
"Eh, iya, Pak," sahut Dina yang baru saja bangun dan sadar bahwa dirinya sedang berada di dalam kelas.
"Keluar!"
Dina pun membuang muka lalu membereskan buku serta peralatan tulis lainnya. Tanpa basa-basi, Dina langsung keluar meninggalkan kelas. Dalam pikirannya percuma berdebat dengan dosen itu, yang sudah jelas-jelas tidak akan mendengar ocehannya.
"Gara-gara semalam pulang terlalu larut, alhasil ketiduran dalam kelas."
"Makanya, Din. Kalau kerja nyari yang biasanya aja. Yang pulangnya seperti biasa," nasihat Rara.
"Makasih," ucap Dina yang langsung meneguk air mineral pemberian Rara. "Zaman sekarang nyari kerja itu susah, Ra. Apalagi kerjaan yang duitnya gede."
"Jangan lihat nominalnya, tapi keberkahannya."
"Wooiii!"
"Eliza! Ngagetin aja," ucap Dina.
Eliza cengengesan melihat kedua sahabatnya membulatkan mata. Bukan hanya kedatangannya yang membuat Diana dan Rara kaget, tetapi dia juga tiba-tiba menarik tangan mereka.
"Bang, pesan bakso tiga porsi!" teriak Eliza sambil melambaikan tangan. Mamang bakso hanya mengacungkan jempol.
"Ingat, Din. Malam ini lu harus memberikan pelayanan yang lebih berkesan dari kemarin. Agar duitnya lebih gede."
"Gimana caranya?"
"Entar malam gue kasih tau."
"Silakan."
"Makasih, Bang."
✨✨✨
Seperti malam kemarin, Dina dan Eliza kembali menjejakkan kaki di club. Tidak di sangka Om Johan sudah duduk manis menanti kedatangan Dina. Padahal malam ini mereka datang lebih awal. Tanpa berpikir lama, Dina pun bergegas mengganti pakaian.
"Hai, Om," sapa Dina.
Johan tidak menjawab sapaan Dina. Dia malah melihat Dina dari atas sampai bawah. Berkali-kali terlihat Johan menelan air liurnya.
"Kenapa, Om?" tanya Dina yang langsung duduk di samping Johan.
"Malam ini kau cantik sekali, Din."
"Terima kasih," ucap Dina sambil menyodorkan segelas minuman yang baru saja ia tuang ke dalam gelas.
"Malam ini aku tidak ingin minum sendirian. Malam ini aku ingin minum bersamamu dan bukan di sini," ucap Johan yang terus memainkan jarinya pada lengan Dina.
Tubuh Dina bergetar, jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyelimuti dirinya. Kali ini Dina paham apa yang diinginkan Johan. Akan tetapi dirinya bingung harus berbuat apa agar apa yang ada dalamnya tidak terjadi.
"Mari, sayang. Ikut Om!" tegas Johan yang langsung menggandeng tangan Dina.
Dina langsung melirik ke arah kiri. Tidak lain ia berusaha minta tolong pada sahabat agar dirinya tidak dibawa Johan, akan tetapi sayangnya Eliza malah menganggukan kepala tanda menyuruh Dina harus ikut Johan.
"Om, kok, ke sini?"
"Kita minum di dalam. Agar tidak ada yang menggangu," ucap Johan yang langsung menuntun tangan Dina.
"Om!"
Johan tidak menghiraukan panggilan Dina. Ia malah menutup pintu ruangan tersebut.
__ADS_1