
"silakan."
"Makasih, Bay." Dina melempar senyum manis pada Bayu ketika Bayu menyuguhkan secangkir espreso hasil racikannya.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, kenapa cewek secantik kamu suka banget sama espreso? Padahal pahit, lho," tanya Bayu sambil menyeruput kopi miliknya.
"Karena janji manis pun selalu berakhir pahit," balasnya. Dengan tatapan fokus pada kendaraan yang lalu lalang di sebrang jalan sana.
Ada jeda beberapa saat sebelum Dina melanjutkan ucapannya.
"Seperti kopi ini, manis saat di mulut, tapi meninggalkan rasa pahit di lidah."
Bayu mengubah posisinya. Kini ia bersidekap sambil bersandar pada kursi yang terbuat dari kayu. Memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Dina.
"Senja itu indah, ya? Tapi kenapa datangnya selalu sebentar dan berubah menjadi gelap."
Bayu masih belum memberikan tanggapannya. Ia masih terdiam dan terenyuh dengan setiap ucapan yang Dina lontarkan. Bayu bisa merasakan derita yang saat ini Dina rasakan.
Butiran air mata lepas begitu saja seperti tak ada sekat yang menghalanginya. Namun, Dina tidak menyadari semua itu. Tangannya meremas kursi kayu yang ia duduki, mulutnya bergetar seperti rasa sakit yang Dina rasakan sudah sampai di puncaknya.
"Din," panggil Bayu dengan mengangkat dagunya.
"Bayu!" Dina kaget mendapati Bayu sudah berlutut dihadapannya.
.
.
.
.
.
"Teriaklah, Din. Lepaskan semua beban yang ada dalam rongga dadamu."
Dina memberikan tatapan penuh tanya pada Bayu.
"Ayo! malah menatap aku."
Dina menuruti ucapan Bayu. Ia menghadap laut lepas, lalu mengeluarkan semua beban dan juga duka yang ada dalam dirinya.
"Menangislah, Din. Aku rela dadaku basah oleh air matamu."
Dina terus meraung-raung, terlihat jelas bebannya begitu berat. Perlahan-lahan isak tangisnya mulai samar terdengar, hanya segukan yang lepas begitu saja tanpa dapat dikontrol.
Embusan angin malam yang diiringi deburan ombak seperti belain lembut yang menina bobokan Dina. Ia terlelap nyenyak di dalam pelukan Bayu. Malam ini mereka bermalam di tepi pantai, bersinar kan rembulan yang menggantung tepat di atas laut Ancol.
.
.
.
.
.
.
"Semalam lu tidur di mana, Din?"
__ADS_1
"Pantai."
"Sama siapa?"
"Bayu."
Dina berubah drastis semenjak mendapat kabar duka dari kampungnya. Ayah dan Ibunya meninggal dunia akibat serangan jantung. Kini dirinya hidup sebatang kara, tak ada keluarga yang bisa ia datangi. Maklum, Ibunya hanya anak tunggal, begitu juga Ayahnya.
"Minggu depan kita wisuda, Din."
"Aku gak mau ikut wisuda, Ra. Percuma mendapat gelar kalau orang yang akan aku bahagiakan sudah tiada." Tanggis Dina pecah seketika.
"Din, kamu masih ingatkan? Janji yang pernah kita ucapkan saat pertama kali kita bertemu, dan janji itu kita ucapkan di tempat yang sama. Di tempat di mana saat ini kita berada. Kita sudah berjanji, jika salah satu mendapati kepiluan, maka yang lain akan menjadi lentera. Jadi sekarang aku dan Eliza akan menjadi lenteramu."
Mereka tidak sadar jika orang-orang tengah memperhatikan mereka. Bahkan ada yang kagum juga iri melihat persahabatan yang terjalin di antara mereka bertiga.
.
.
.
.
.
Tidak seperti biasanya, hari ini pengunjung cafe bisa dihitung dengan jari. Biasanya banyak mahasiswa yang mampir untuk sekedar mengadakan diskusi, bahkan ada juga pasangan muda mudi yang memadu kasih di tempat ini. Tak jarang tingkah mereka membuat hati Bayu iri. Maklum, sampai saat ini Bayu masih saja menyendiri. Walaupun kini ada Dina di hidupnya, akan tetapi hubungan yang terjalin di antara mereka tak lebih dari teman dekat.
"Kalau emang suka, langsung tembak. Jangan cuma ada dalam khayalan doang," ejek Bara yang sedari tadi ada di sampingnya sambil sibuk memainkan games online yang terdapat di dalam ponsel kesayangannya.
"Nyaut aja, lo," balas Bayu sambil meraih ponsel Bara.
"Lah, lah, lah. Tuh, kan jadi kalah."
"Siap."
Dengan cepat Bayu segera meracik kopi espreso pesanan salah satu pengunjung yang baru saja datang. Angannya melayang teringat kejadian kemarin malam. Semua kejadian yang terjadi semalam kembali berputar acak di benaknya.
"Malah melamun ini anak. Bay, woiii!"
"Ish, ngagetin aja, Lo."
"Buruan, keburu pengunjung kabur."
Seperti biasa, Bayu bukan hanya seorang barista di cafe ini. Ia juga seorang vokalis band yang sering mengisi acara setiap malamnya. Dan malam ini menjadi malam yang sangat spesial karena ia tampil disaksikan oleh orang yang ia cintai, yaitu Dian.
Alunan suara yang begitu merdu, berpadu dengan melodi yang mengalun indah disetiap nadanya. Matanya berbinar, jiwanya ikut hanyut, dan perasaannya saat ini seperti terwakilkan oleh lagu yang Bayu nyanyikan.
Suara tepuk tangan riuh memenuhi ruangan cafe yang cukup luas ini saat nama Dina dipanggil oleh sang vokalis, untuk naik ke atas panggung kecil tempat sang vokalis berdiri.
Pipi Dina berubah menjadi merah saat kata naik terlontar dari semua pengunjung cafe malam itu. Dengan malu-malu, Dina melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga untuk sampai di atas panggung. Mereka bernyanyi bersama bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Bay, kenapa kamu mau berteman denganku?"
"Hah, apa?"
"Kenapa kamu mau berteman denganku?"
"Apa? Enggak kedengaran!"
"Bayu, bawa motornya pelan-pelan!"
"Kenapa?"
"Aku takut!"
"Kamu takut? Kalau takut pegangan aja!"
"Kamu sengaja, ya?"
Bayu tertawa mendengar pertanyaan Dina. Tawa yang bercampur dengan angin kencang hingga meredam suara mereka.
.
.
.
.
.
.
Peluh yang membasahi tubuhnya hari ini terbayarkan dengan kehadiran Dina disela-sela rasa lelahnya. Dina benar-benar mewarnai hidup Bayu.
Dilemparnya tas ke atas kasur lalu bergegaslah Bayu memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau keringat dan juga matahari.
"Bintang itu selalu tepat dan tau kapan ia harus datang," ucapnya sambil terlentang di atas kasus dengan tatapan fokus pada langit-langit kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, tetapi mata Bayu masih enggan terpejam. Ingatannya terus tertuju pada Dina.
.
.
.
.
.
Pagi yang sangat dingin. Dina, Rara, dan Eliza masih bergelut dengan selimutnya. Weekend adalah waktu yang paling dinanti oleh ketiga sahabat tersebut. Tidak seperti remaja pada umumnya, mereka memilih menghabiskan waktu di kostannya dengan bermalas-malasan.
Dering telepon mengusik tidur nyenyaknya. Dina sontak kaget melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Nama yang sudah merusak hidupnya, kini mengusiknya kembali.
Johan. Ya, itu Johan yang menghubunginya. Entah ada perlu apa dia kembali menghubunginya. Tangan Dina mengepal erat, rahangnya mengeras menahan emosi yang membeludak saat kejadian itu melintas tepat di hadapannya saat ini. Menari-nari seakan mengejek dirinya di waktu lalu.
"Ada apa?" tanyanya pada seseorang di sebrang sana.
Entah apa yang Johan bicarakan pada Dina melalui telepon tersebut. Namun, Dina tertawa terbahak-bahak, lalu terdengar penolakan secara tegas.
✨✨✨
__ADS_1
Halo para reader tersayang 🤗 apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Makasih sudah pantengin terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejak biar aku semangat terus lanjutin ceritanya. ♥️