
Dina tengah dirundung kegelisahan, antara pergi ke kampus atau tetap berada di kostannya. Rasa trauma akibat kejadian kemarin masih melekat dalam ingatan. Secara belum 24 jam kejadian itu berlalu. Bukan hanya itu, sekujur tubuhnya pun masih terasa sakit.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 wib. Seharusnya Dina sudah berangkat, akan tetapi ia masih saja menatap cermin. Melihat dirinya lekat-lekat.
Teriakan dari kedua sahabatnya tidak mampu membuyarkan lamunannya. Entah apa yang sedang Dina pikirkan, hingga Eliza membanting pintu pun tidak juga membuatnya kaget.
Rara pun menghampirinya. Lalu memeluknya dari belakang dan berkata, "Din, jika kamu masih takut untuk keluar dari kostan, kamu istirahat saja. Nanti aku bilang kalau kamu sakit," lirih Rara tepat di telinga Dina.
"Apa, Ra?" Dina kaget saat dua tangan Rara melingkar di pundaknya.
"Gak apa-apa," Rara tersenyum. "Sekarang mau kuliah gak?"
Dina menatap kedua sahabatnya yang berdiri tetap di hadapannya dengan penuh makna.
"Lu takut sama Johan, Din?"
Dina tidak menjawab hanya menundukkan kepala mendengar pertanyaan Eliza.
"Kalau mau kuliah, ayo! Gak usah mikirin Johan."
"Tapi ...."
"Udah. Itu urusan gue."
✨✨✨
Semua menatap Dina dengan aneh. Bagaimana tidak aneh, hari ini Dina datang ke kampus dengan menggunakan gamis serta menggunakan masker.
Dina yang mendapat tatapan tersebut merasa sangat risih. Namun apa boleh buat, Dina tidak bisa memakai baju seperti biasa karena luka di sekujur tubuhnya.
Jantungnya berdetak lebih kencang, matanya membulat, serta mukanya berubah menjadi pucat dengan keringat dingin di kening.
"Din, kamu kenapa?" tanya Rara yang menyadari perubahan Dina.
"Dina, lu kenapa?" Eliza pun bertanya. Namun, Eliza cepat sadar bahwa ada Johan di sebrang tempat mereka berdiri. "Ayo pergi!"
Sementara di sebrang sana Johan pun merasa hal yang sama dengan Dina. Yaitu, takut. Ancaman Eliza semalam membuat hidupnya tak tenang.
"Selamat pagi, Pak," sapa Eliza yang dengan sengaja menghampiri Johan.
"Pa-pa-pagi, El," balas Johan. Kini wibawa Johan hilang di hadapan Eliza.
"Bagaimana, Pak?" tanya Eliza sambil menaik turunkan alisnya yang indah dengan ukiran pensil alis.
"Pak Johan!" panggil seseorang.
"Iya! Maaf, saya harus pergi."
__ADS_1
Eliza tertawa puas melihat Johan ketakutan ketika berhadapan dengan dirinya.
"Sudah sampai mana skripsimu?"
"Masih jauh, Ra. Pusing aku."
"Lho, Din! Kenapa? Ada apa?"
Rara yang sedang duduk di taman bersama dengan temannya, tiba-tiba di kagetkan oleh Dina yang berlari sambil menangis.
"Aku pamit dulu, ya," ucap Rara pada temannya yang hanya dapat balasan anggukan kepala saja. Rara berusaha mengejar Dina, akan tetapi Dina keburu naik ojek.
Tanpa pikir panjang, Rara mengeluarkan beda pipih dalam tasnya.
'El, Dina pergi dengan buru-buru dan aku cemas karena dia sambil menagis.' Begitulah isi pesan yang Rara kirim kepada Eliza.
Tidak butuh waktu lama, Eliza langsung membalas pesan tersebut.
'Posisi lu di mana?'
'Depan halte.'
10 menit kemudian, Eliza datang dengan gaya santainya, "Coba telpon Dina! Tanya sekarang posisi dia ada di mana?"
"Udah. Tapi gak di angkat."
"Ada, sih. Tapi tidak apa-apa, aku izin saja."
✨✨✨
Dina menangis histeris, masa depannya benar-benar hancur. Ia terus memukul perutnya dengan beruntun.
"Aaahhh, sial! Kenapa jadi begini? Bagaimana kalau orang tuaku tau soal ini."
Pikirannya gelap, hanya mati, mati, dan mati yang ada dalam benaknya.
"Astaghfirullah, DINA!" Rara berteriak histeris saat melihat Dina sudah terbaring tak sadarkan diri dengan darah segar mengucur dari tangannya.
"Din, lu apa-apa, sih? Kenapa lu lakuin ini? Dasar bodoh!" Eliza memaki Dina sambil menangis dan memeluk tubuhnya.
Dengan panik, Rara meminta bantuan para tetangga untuk membawa Dina ke rumah sakit. Entah kebetulan atau memang keberuntungan, Bayu, laki-laki yang kemarin menolong Dina datang berkunjung.
Bayu kaget dengan keramaian yang terjadi di depan kamar kost Dina. Dengan tergesa-gesa, dia menerobos kerumunan warga.
"MBAK! Kenapa ini?" tanya Bayu dengan menatap wajah Dina yang sudah pucat.
"Gak tau, kita datang Dina sudah seperti ini."
__ADS_1
"Kenapa tidak segera di bawa ke rumah sakit?" tanya Bayu yang sedikit panik. 'Lho, kenapa ikut panik. Cewek ini bukan siapa-siapa, dan baru aku kenal kemarin,' batin Bayu.
"Kita sedang menunggu mobil," jawab Rara.
"Mobil? Sudah ada?" tanya Bayu.
"Belum."
"Pak RT bagaimana? ada mobilnya?" tanya salah satu warga yang sedang duduk tepat di samping Dina pada RT yang baru saja sampai.
"Mobil saya sedang dipakai anak saya."
"Kenapa harus pakai mobil? Kalau gini, si Mbak bisa-bisa tidak tertolong," ucap Bayu. "Ayo bantu saya menaikkan si Mbak-nya ke motor saya dan saya butuh satu orang yang duduk di belakang si Mbak-nya."
Tanpa ada kata tapi mereka pun segera mengiyakan usul yang diberikan laki-laki tampan tersebut.
✨✨✨
"Bagaimana, Dok?" tanya Eliza yang baru saja keluar dari ruangan.
"Kondisinya kritis serta kandungannya lemah," jelas Dokter.
"Kandungan?" ucap Eliza dan Rara bersamaan.
"Iya. Kalian berdoa saja semoga janinnya bisa diselamatkan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dok."
Badan Eliza dan Rara seketika lemas tak berdaya. Mereka bingung harus bagaimana mengatakan semua ini kepada orang tua Dina di kampung. Apalagi mereka tahu jika ibunya Dina memiliki riwayat serangan jantung, dan mereka pun tidak tahu pekerjaan Dina saat ini. Namun, saat ini Dina butuh mereka.
Bayu yang sedari tadi memperhatikan Eliza serta Rara hanya mengercitkan kening, bingung dengan tingkah mereka. Bayu tidak paham kenapa mereka enggan memberi kabar tentang kondisi Dina pada orang tuanya. Serta bingung campur kaget kalau kenyataannya Dina sudah memiliki suami.
"Mas, gue mohon, lo jangan kasih tau siapa pun kalau Dina hamil dan melakukan percobaan bunuh diri. Please!" Baru pertama kalinya Eliza memohon kepada orang yang baru saja ia kenal. Dan semua ini ia lakukan demi sahabatnya, Dina.
Bayu makin bingung dengan ucapan Eliza yang harus menyembunyikan prihal kehamilan Dina. Namun, baru saja mulutnya terbuka untuk bertanya, tiba-tiba dering ponsel mengentikan ucapannya yang belum keluar satu kata pun.
"Duh, Mbak. Maaf banget saya tidak bisa menunggu Mbak Dina sampai siuman. Ada sesuatu yang harus saya urus. Titip salam saja untuk Mbak Dina dan semoga segera siuman."
"Aamiin, terima kasih doanya. Iya tidak apa-apa, terima kasih sudah bersedia membantu kami dan mohon maaf telah merepotkan Mas-nya," ucap Rara.
"Iya sama-sama. Tidak, kok. Saya tidak merasa direpotkan. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Iya silakan."
✨✨✨
Gimana nih, gaes? Penasaran gak kelanjutannya?
__ADS_1
Kalau penasaran kasih ♥️ dong. Biar makin semangat nulisnya. Dan untuk kalian yang setia pantengin karya aku makasih banget. 🤗😘