Menikahi Wanita Malam

Menikahi Wanita Malam
Part 11


__ADS_3

Lambaian tangan pun Dina berikan pada Bayu yang berdiri tepat di pinggir bus yang akan membawanya pergi meninggalkan Kota Jakarta.


Sedangkan Deden yang baru saja sampai ke terminal kampung rambutan, kebingungan mencari Dina. Akibat terminal yang cukup luas.


"Kang!"


"Iya. Siapa, ya?"


"Ini saya Deden. Temannya Neng Dina."


"Oh, iya, iya. Ngapain di sini?"


"Saya teh nyari Neng Dina, tapi belum ketemu juga," jelas dengan pandangan terus memperhatikan sekitar.


"Dina gak ada di sini," balas Bayu.


"Apa?"


"Iya. Dina sudah berangkat naik bus."


Deden langsung tertunda lesu. Badannya bagaikan tak ada tulang yang menopang tubuhnya. Ia merasa begitu bersalah karena tidak bisa menjalankan amanat Abah dan Emak-nya.


"Kenapa reaksimu seperti itu? Bukannya gampang bagimu untuk menyusul Dina."


"Neng Dina gak mungkin pulang ke Garut. Dia bilang seperti itu hanya bohongi Akang."


.


.


.


.


.


"Sudah lama menungguku?" tanya Dina pada laki-laki yang ada dalam mobil.


Laki-laki itu pun segera keluar setelah mendengar suara Dina, "Tidak. Om baru saja sampai."


"Sekarang kita akan pergi ke mana?"


"Kita akan ke Surabaya. Om sudah siapkan rumah untukmu di sana."


Tanpa banyak tanya lagi, Dina segera memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil, dan meminta Johan untuk segera melajukan mobilnya.


"Bagaimana dengan anak Om? Apa dia setuju Om menikah denganku?" tanya Dina hambar.


"Pricill kembali ke Prancis. Dia merintis bisnisnya di sana. Kamu tidak usah khawatir, Om janji akan membahagiakanmu," jelas Johan sambil tersenyum.


Dina hanya tersenyum sinis mendengar kalimat tersebut. Selama perjalanan, Dina hanya diam membisu bagaikan sebuah batu. Namun, Johan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Johan bahagia karena akan memiliki Dina seutuhnya. Perempuan yang hampir saja membuatnya setengah gila.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Dina menghempaskan tubuhnya ke atas sopa mewah yang berada di ruang tengah rumah barunya. Ia merasa begitu lelah setelah melakukan perjalanan hampir 10 jam. Peluh yang membasahi tubuhnya membuat kulit dan baju terasa lengket.


"Bagaimana, kamu suka rumahnya?"


Dina menatap sekeliling ruangan tersebut, dan menurutnya terlihat begitu elegan, dengan warna putih yang mendominasi ruangan tersebut.


"Sekarang kamu istirahat, karena besok acara pernikahan kita digelar. Dan kamu harus terlihat ayu."


"Kita lihat saja besok," ucapnya dalam hati.


"Kamu pasti capek. Biar Om tidur di kamarmu biar bisa pijitin kamu."


"Terserah, Om!" balas Dina yang langsung pergi ke kamarnya.


Johan terlihat begitu semangat mengikuti langkah Dina. Napasnya sedikit lebih cepat saat tangannya mulai menyentuh pundak Dina. Dan hal itu sudah Dina sadari. Namun, Dina membiarkan Johan kepanasan dengan syahwatnya yang mulai naik.


.


.


.


.


.


Dina dengan anggunnya duduk tepat di samping kiri Johan. Wajahnya begitu berseri. Bukan karena bahagia akan menikah dengan laki-laki tua tersebut, akan tetapi sebuah drama akan segera dimulai.


Di sini Dina berperan sebagai penulis skenarionya, dan Johan adalah pemeran utama dari drama yang Dina buat.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Tunggu!" Sebuah suara yang begitu lantang terdengar dari arah pintu. Dan itu membuat Johan panik bukan main. Namun, berbeda dengan Dina, ia tersenyum bahagia melihat semua ini.


Tamu yang tak pernah Johan nanti bahkan duga, datang secara tiba-tiba. Pricillia beserta istri datang. Padahal setahu Johan jika putrinya tersebut telah kembali ke Prancis.


"Kenapa, Pap? Kaget melihat kedatangan kita?" tanya Pricill, sambil terus melangkah mendekati Johan.


Keringat dingin kini membahasi keningnya, mukanya pucat, serta tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Papa tau siapa wanita yang sedang berdiri di sana?" tanya Pricill menuju ke arah Ibunya berada.


Ucapannya terjeda beberapa saat.


"Papa pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa ada di sini? Ah, mungkin itu tidak penting. Cuma Pricill ingin memperkenalkan diri. Oke, untuk yang hadir di sini, perkenalkan nama saya Pricillia dan itu Ibu saya. Saya adalah anak Bapak Johan Wahyudi. Dan wanita yang berdiri di sana adalah Ibu saya dan sudah pasti beliau istri dari Bapak Johan Wahyudi. Asal kalian tau, Ibu saya, dia! Masukkan ke rumah sakit jiwa demi wanita ****** tersebut."


Mendengar penjelasan Pricill semua orang yang hadir dalam acara tersebut kaget. Ada beberapa yang memandang sinis Dina. Namun, itu tidak membuat Dina terganggu. Justru Dina tengah menikmati drama yang sedang berlangsung.


"Maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya juga korban di sini. Saya tidak tau jika istri Om Johan masih hidup. Om Johan bilang sama saya jika istrinya sudah meninggal." Dina mulai menambahkan bumbu dengan air mata buaya yang mulai keluar.

__ADS_1


"Ngomong apa kamu? Kamu juga menginginkan pernikahan ini." Johan mulai membela diri.


"Jadi pernikahan ini batal?" tanya penghulu yang mulai kebingungan.


"Tidak ada pernikahan. Sekarang silakan kalian pergi dari sini," usir Pricill.


.


.


.


.


.


Sudah dua hari Deden terus melamun, memikirkan Dina. Ia bingung harus mencari Dina ke mana. Deden sudah mencoba menghubungi nomornya, tetapi nihil. Coba menghubungi ke kampung, siapa tahu memang pulang ke sana, dan hasil pun sama, nihil.


"Neng Dina teh di mana atuh? Akang sudah cari ke mana-mana tapi tidak ketemu juga."


"Terik matahari ini masih bisa kutahan. Namun, rasa rinduku padamu tidak bisa ditahan lagi. Aku merindukanmu, Din. Di mana kau sekarang?" ucap Bayu sambil duduk di kursi kayu.


Kenangan bersama Dina pun berputar acak di benaknya. Bayu merindukan tubuh mungil yang pernah dia gendong, mata cokelat yang membuatnya jatuh hati, serta suara merdu yang selalu mengiang di telinganya. Semua ini benar-benar jauh dari ekspektasi-nya.


"Ngelamun aja, Lo!" ucap Bara sambil menepuk pundaknya.


"Eh, Bar. Ngagetin aja kerjaannya," balas Bayu yang langsung mengubah posisi duduknya.


"Gimana? Sudah ada kabar tentang Dina?"


"Belum, Bar. Gue bingung harus cari dia ke mana lagi." Bayu mengacak rambutnya merasa frustasi.


"Si Dina punya apaan, sih? Gila banget, dia bisa buat seorang Bayu Atmajaya se-galau ini."


"Udah, ah. Gue mau ke kamar mandi dulu."


"Lah, Bay. Gue ditinggal. Jahat, Lo."


Dengan tampang kalemnya, Bayu pergi meninggalkan Bara yang baru saja duduk.


"Apa istimewanya, sih? Cewek bekas gitu. Padahal cewek cantik masih banyak, Bro," gumam Bara.


.


.


.


.


.


"Mas, kamu tega lakuin ini sama aku! Mana janji kamu dulu, hah? Kamu gak malu sama umur dan juga anakmu?" Pertanyaan beruntun Agata berikan pada Johan.


✨✨✨

__ADS_1


Terima kasih para reader setiaku. Dan jangan lupa tinggalkan jejak ♥️


__ADS_2